Akademik

[Karya Siswa] Perpisahan

Pagi cerah udara yang sejuk. Aku terbangun dari tidur cantikku. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan tidak lupa membereskannya. Setelah membereskan tempat tidur, aku langsung memasuki kamar mandi. Selesai mandi, aku segera berpakaian seragam sekolah dan siap untuk sarapan pagi.

“Pagi, Bi. Pagi, Ella. Hari ini kita sarapan apa?”

“Pagi sayang. Hari ini kita sarapam roti dengan telur dan sayur. Kesukaanmu sayang.”

“Wah, terimakasih, Bi.”

Ella adikku. Ia memang jarang berbicara semenjak orang tua kami bertengkar hebat hingga mereka cerai. Ia masih tidak bisa menerimanya. Aku pun bergitu. Aku sangat merindukan mereka.

Orang tua kami berpisah karena ibuku terlilit dengan hutang yang banyak jumlahnya. Kami sudah menjual semua harta yang kami miliki. Sampai kami harus meminjam uang ke saudara kami yang berada di Malang.

***

14 September

Pagi hari, kami sarapan bersama di meja makan. Saat itu kami sangat bergembira karena hari itu hari ulang tahun Ella yang ke-11. Di sana kami saling bergurau, canda tawa memenuhi ruang makan di pagi hari.

“Ma, Pa, Gita sama Ella pergi sekolah dulu, ya!” ucapku sambil menyalami orang tua kami

“Ia, Nak. Hati-hati, ya! Belajar yang benar!” jawab Papa sambil melambaikan tangan

Aku, Ella, dan Bibi segera meninggalkan mereka untuk pergi sekolah. Sesampai di sekolah kami berpamitan pada Bibi, dan segera memasuki sekolah.

13.45

Bel pulang sudah berbunyi menandakan bahwa pelajaran untuk hari ini sudah selesai. Aku segera membereskan buku dan peralatan yang lain ke dalam tas. Selesai membereskan tas, aku segera beranjak keluar kelas dan menjemput adikku di SD.

“Ella! Ayo kita pulang. Kita rayakan ulang tahunmu malam ini.”

“Iya, kak! Ayo kita segera pulang. Aku tak sabar mendapatkan kado apa di ulang tahunku hari ini,” jawab Ella dengan antusias.

Kami pulang dijemput oleh Bibi dengan mobil. Sesampainya di rumah, kami segera mengetuk pintu rumah dan masuk ke dalam.

“Papa, Mam….” aku memotong kalimatku karena aku mendengar seseorang menangis. Terdengar seperti suara tangisan Mama. Astaga Tuhan apa yang terjadi dengan Mama.

“Mama…. Mama.. Mama dimana?” aku membanting tas ku kesembarang arah untuk mencari mama, dan mendapatkannya sedang tertunduk di dalam kamar mandi.

“Ma, apa yang terjadi? Mama jangan nangis. Hari ini mama harusnya senang, karena Ella ulang tahun,” ucapku menenangkan mama yang masih terisak-isak

“Ka, mama cuman minta satu. Tinggalkan mama sebentar aja, ya.” jawab mama

“Baiklah kalau itu mau Mama,” aku pergi dari kamar mamdi meninggalkan mama yang masih menangis. Entah mengapa mama menangis.

Aku tak menemukan batang hidung Papa di rumah. Mungkin Papa sedang pergi menyiapkan kado untuk Ella. Aku sangat tidak sabar untuk merayakannya.

Malam pun tiba. Waktu sudah menunjukan pukul 10.00, tetapi papa belum juga pulang. Selama itu kah papa menyiapkan ulang tahun Ella?

“Kak, papa sama mama lupa ya hari ini hari ulang tahunku? Sudah jam segini dan papa belum pulang. Mama juga masih di kamar tidak ingin di ganggu. Bagaimana nih Kak?” tanya adikku dengan wajah sedihnya.

“Tunggu sebentar ya. Papa mungkin bentar lagi sampai,” jawabku lesu

Hari pun berganti. Kemarin kami tidak merayakan ulang tahun Ella karena keadaan yang tiba-tiba berubah. Malam itu aku mendengar seperti ada orang sedang perang lidah

Pagi ini kami memulai hari seperti biasa, tetapi ada yang berubah. Suasananya. Ya suasananya berubah menjadi dingin. Apa yang terjadi? Biasanya Papa dan Mama sangat ceria, tetapi kali ini tak ada satu pun yang tersenyum terkecuali aku.

“Selesai. Pa, Ma, Gita dan Ella pergi sekolah dulu ya.” ucapku memecahkan keheningan sambil menyimpan piring ke tempat cucian.

Tak ada satu pun orang menanggapi ucapanku. Aku segera keluar dari ruang makan menuju teras rumah untuk siap pergi ke sekolah diikuti dengan Ella. Disitu Bibi sudah menunggu bersama sopir kami. Selesai memakai sepatu, kami segera masuk ke dalam mobil dan berangkat ke sekolah.

Sesampainya kami di sekolah, kami langsung turun dari mobil dan memasuki halaman sekolah. Hari itu aku sangat bertanya-tanya mengapa suasana tadi pagi begitu dingin.

“Gita! Dari tadi saya liat kamu ngelamun terus! Ga biasanya kamu kayak gini. Perhatikan dahulu pelajaran saya!”

“Maaf, Bu.” Jawabku singkat. Ya memang tak biasanya aku melamun. Aku pun segera memperhatikan guru.

13.45

Seperti biasanya aku pulang lalu menjemput Ella. Saat aku menjemputnya, terlihat jelas wajahnya yang tidak bersemangat. Apakah dia sakit? Semoga tidak

“Ella, kok lesu sih? Kenapa? Kecapean ya? Ayo kita pulang. Papa dan Mama pasti sudah menunggu kita.”

“Malas pulang, Kak,” jawab Ella membuatku tersentak kaget.

“Loh ada apa? Apa karena kemarin ulang tahunmu tidak dirayakan?”

Ella menjawab hanya dengan menggelengkan kepala. Apa karena tadi pagi? Ya, mungkin karena itu. Aku juga begitu. Jemputan kami sudah menunggu. Kami segera masuk ke dalm mobil dan pulang ke rumah.

Sesampainya kami di rumah, kami hanya mendengar orang bertengkar. Apakah itu Papa dan Mama? Karena penasaran aku langsung masuk ke rumah, tetapi langkahku tertahan oleh Bibi.

“Jangan ke atas. Biarkan mereka menyelesaikan urusannya dahulu,” ucap Bibi. Aku hanya bisa menuruti apa kata Bibi. Bagiku Bibi sudah seperti keluargaku karena ia yang mengurusku dari aku bayi hingga aku duduk di bangku SMP.

Pertengkaran antara Papa dan Mama sudah tidak terdengar lagi. Aku pun segera menuju lantai atas untuk melihat keadaan. Tak ada satupun disitu. Aku memasuki kamar orangtuaku. Di sana terlihat Mama seperti sedang memasuki baju-bajunya seperti akan kabur dari rumah.

“Ma, mau kemana? Kok bawa baju segala?” tanyaku hanya ingin memastikan bahwa mama tidak akan kabur.

“Biarkan. Jangan ganggu Mamamu,” jawab Papa singkat dengan tatapan tajam pada mama. Sepertinya aku harus segera keluar dari kamar mereka.

Seperti dugaanku, mama langsung membawa tasnya yang berisi pakain. Mama membawa tas tersebut dengan mata yang berkaca-kaca. Aku ingin memberhentikan Mama, tapi usahaku gagal ketika ada sebuah tangan kekar menggenggam pergelangan tanganku. Ya, itu Papa. Aku melihat wajah Papa yang penuh dengan amarah.

“Kenapa?” tanyaku singkat.

Tak lama kemudian aku mendengar suara pintu yang dibanting sangat keras. Ya, saat itu adalah terakhir kalinya aku bisa melihat Mama. Melihat situasi seperti itu aku langsung memasuki kamarku dan menangis. Aku berharap agar ini hanya mimpi. Saat itu aku hanya bisa menangis dan menangis.

Aku tak bisa behenti menangis. Ya, siapa yang tidak menangis di saat kalian ditinggalkan oleh orang yang sangat kalian sayang? Pasti kalian juga menangis. Terutama di saat kalian sangat membutuhkan mereka, tetapi seketika mereka pergi. Terasa sesak di dadaku. Tak henti-hentinya aku menangis. Tak lama kemudian Ella memasuki kamarku.

“Udah ka jangan nangis lagi. Kakak harus kuat. Ella juga ga nangis lagi kok. Kita mendingan tidur. Siapa tau ini mimpikan?” ucap Ella menenangkanku. Aku pun segera tidur bersama Ella.

Terbangun dari tidurku, aku segera pergi ke kamar Mama memastikan bahwa Mama masih di sini. Hasilnya nihil. Mama tidak ada di situ. Aku pun langsung mencari-cari ke semua ruangan di rumahku, dan tetap hasilnya nihil. Ternyata benar tadi itu kejadian nyata.

“Ngapain kamu cari Mama? Mamakan udah pergi dari sini. Toh kamu juga melihatnya,” ucap Papa sambil membaca koran hariannya.

Aku tidak menggubris ucapan Papa. Kesal bercampur sedih pun bersatu. Mengapa Papa tiba-tiba berubah seperti ini? Biasanya Papa sayang sekali dengam Mama. Entahlah karena masalah ini jadi berubah.

Keesokan harinya, Papa meminta agar aku dan Ella tidak sekolah karena akan mengurus masalah ini. Padahal aku belum mengetahui apa masalahnya. Pagi itu aku disuruh untuk mengemas semua bajuku. Aku bingung, apakah aku diusir dari rumah?

“Kalian harus siap untuk pisah ya dari mama,” ucapan Papa tiba-tiba membuatku bertanya-tanya mengapa.

“Kenapa?” tanyaku sinis.

“Hanya ingin memberi tahu, Mama sama Papa mau cerai,” jawab Papa membuatku kaget. Apa karena masalah itu Papa dan Mama ingin cerai?

“Yaudah si. Kan kita ada Bibi yang lebih sayang, Ka. Gitu aja dipeduliin,” jawab adikku ketus sambil pergi keluar kamar menuju lantai bawah.

Tak biasanya Ella membalas perkataan orang dengan jawaban seperti itu. Mungkin karena dia kesal. Aku hanya bisa diam dan melanjutkan mengemaskan pakaianku. Selesai mengemaskan pakaian, aku segera menuju lantai bawah. Di depan rumah sudah ada Bibi yang menunggu.

“Ayo, kita pergi ke rumah Uwa Rudi. Mulai sekarang kita akan tinggal disana,” ucap Bibi membuatku bingung. Kenapa kita pindah kesana? Apa rumah ini akan dijual?

“Kenapa kita pindah, Bi?” tanyaku

“Mamamu punya hutang yang cukup banyak. Jadi rumah ini akan dijual untuk menebus hutang Mamamu. Sudah jangan berlama-lama kita harus segera kesana,” jawab Bibi sambil mengambil barang-barang milik kami.

Hari itu hari terakhir aku tinggal di rumah itu. Rumah dengan banyak kenangan indah. Aku masih ingat saat merayakan hari ulang tahunku yang ke-12. Aku dibelikan barang yang sangat aku inginkan. Sangat senang rasanya mendapat barang yang kita inginkan dari orang yang kita sayang.

Aku masih mengingat saat Ella mengalami patah tulang. Saat itu kami bersedih tapi kami tetap bisa tersenyum. Aku masih mengingat saat keluarga besarku dari Malang datang ke Bandung untuk beribur. Pengalaman itu tak bisa hilang dari benakku.

Sesampainya kami di rumah Uwa  Rudi, kami segera menurunkan barang kami.

***

Mulai saat itu juga aku tinggal di rumahnya, selama orangtuaku mengurus surat cerai mereka. Hingga surat cerai mereka keluar dan sayangnya tidak ada satupun dari mereka ingin mengurus kami. Jadi saat itu Bibi memutuskan untuk mengurus kami.

Sekarang aku dan Ella tidak lagi dilayani tetapi kami harus bisa mandiri. Aku dan Ella tidak lagi tinggal di kota, di mana di sana banyak mall. Aku dan Ella pun pindah sekolah dari sekolah kami yang bisa dibilang untuk menengah keatas. Sekarang kami bersekolah di sekolah menengah ke bawah.

Kami tidak tahu lagi bagaimana kabar Papa dan Mama sekarang. Yang aku tahu hanya Papa tinggal di Jakarta bersama Om Tristan dan Mama bekerja di salah satu panti jompo di Bandung. Aku sendiri sekarang berada di Tasikmalaya. Hidup bagaikan roda yang berputar. Ada saatnya kita di atas dan ada saatnya kita di bawah. Semua orang pasti pernah mengalaminya juga. Apa yang aku alami sekarang, aku sedang dibagian bawahnya yang harus merasakan sakitnya tertekan jalan yang berbatu

[Karya Siswa] Gamer

Ryan adalah siswa SMA di Jakarta. Ia adalah seorang gamer. Oh, ya, bagi yang tidak tahu, gamer adalah seseorang yang banyak menghabiskan waktunya untuk bermain game, mengetahui info detail mengenai game yang dimainkan, memiliki perangkat canggih untuk bermain game tersebut, dan update dengan berita-berita game yang terbaru. Ryan ini orang yang introvert. Dan game pun jadi pelariannya. Ia seakan-akan tidak ada di dunia ini. Hari-harinya dipenuhi dengan game, game, dan game. Tetapi, suatu hari hidupnya berubah.

“Yan bosen nih…, cabut yu,” kata Andre.

“Cabut kemana?” Ryan membalas sambil menulis.

“Hmm… e-cafe aja gimana? Lu kan belum pernah. Bosen tau pulang sekolah ke rumah lagi kerumah lagi. Kali-kali napa kita main keluar,” kata Andre.

“Hah? E-café? Apa tuh?” tanya Ryan.

“Itu lho, kaya warnet cuma ini lebih keren. Warnet tapi bertaraf internasional, Yan. Ga ada asap rokok kok, ada AC lagi, tempatnya nyaman kok, mau ya?” jawab Andre.

“Ngawur lu, besok kan ulangan B. Indonesia. Ga ah, ga boleh gua sama ortu gua,” kata Ryan tegas.

“Ayolah. Sekali-sekali Yan, temenin gua plisss,” Andre memohon.

“Ah, iya iya. entar deh gampang, gua pikirin, lu diem tapi jangan ganggu gua dulu,” kata Ryan yang mulai agak kesal.

“Bener yah Yan, awas lu, kan kemaren gua udah temenin lu ke toko buku. Sekarang lu giliran temenin gua dong,” kata Andre.

Ryan yang sedang fokus menulis hanya menjawab dengan mengangguk.

“Yan, gua tunggu ya ntar di warnet yang Jalan Pahlawan itu lho sebrang toko buku yang sering lu kesana itu,” kata Andre.

“Tapi…” Ryan menjawab.

Tapi langsung dipotong oleh Andre, “Ah, udah. Kali-kali, Yan. Lu gabosen apa belajar mulu, lagian lu kan ranking 1 mulu dikelas.”

“Yaudah gua balik dulu ntar gua nyusul,” jawab Ryan.

Sesampainya Ryan di rumah, ia disambut oleh ibunya.

“Yan…, gimana sekolahnya tadi?”

“Ya seperti biasa, Mah. Aku istirahat dulu ya” jawab Ryan sambil menuju ke kamar.

 “Oh, iya. Itu mama sudah nyiapin makanan di meja makan ya,” jawab ibunya.

   Di kamar ia melakukan rutinitas seperti biasanya, belajar, mengerjakan PR, membaca buku, tidak ada hal lainnya yang ia lakukan.

“Duh bosen nih…, ngapain ya,” Ryan berkata dalam hati. Tiba-tiba, ia teringat perkataan Andre. “Ah, jangan melakukan hal bodoh, Yan. Lagian ga boleh sama mama,” kata Ryan terhadap dirinya sendiri. Akhirnya, Ryan memutuskan untuk menonton TV. Saat sedang jeda iklan, tiba-tiba ada yang menarik perhatiannya.

E-SPORTS CHAMPIONSHIP

CSGO CHAMPIONSHIP JAKARTA 2018

30 DESEMBER 2015

PRIZE POOL:

1st: Rp50.000.000,00

2nd: Rp25.000.000,00

3rd: Rp10.000.000,00

TURNAMEN PERTAMA DAN TERBESAR DI INDONESIA

COME JOIN US!

@CSGOCHAMPIONSHIPJAKARTA2018

“Banyak juga ya hadiahnya. Lebih banyak dari olimpiade IPA kemarin pas gua juara, padahal ini cuma main game doang hadiahnya segitu, penasaran jadinya,” kata Ryan dalam hati.

Akhirnya Ryan memutuskan untuk datang ke ajakan Andre, ia berniat hanya untuk menghilangkan rasa penasarannya, tidak lebih, “Ma, Ryan mau pergi sebentar ya. Abis maghrib udah pulang kok.”

 “Oh, iya. Udah makan kan? Mau pergi kemana, Yan?” kata ibunya.

“Udah, Ma. Mau ke… mau kerja kelompok, Ma. Ya udah, Ryan pergi dulu ya. Assalamualaikum,” Ryan dengan gugup.

Akhirnya Ryan sampai di e-café tersebut. Akhirnya ia masuk. Dan betapa terkejutnya Ryan, tempat ini tidak begitu buruk, bahkan ia terkesan. Warna RGB dimana-mana yang belum ia pernah temukan sebelumnya. Ia mencari-cari Andre kemana-mana, dan tiba-tiba ada yang menepuknya dari belakang.

“Yan, kemana aja si lu billing gua udah mau abis nih, bentar gua isi dulu sekalian yang lu ya udah gua booking kok,” kata Andre.

“Hah? Apaan?” Ryan bingung.

“Udah sini-sini duduk, keburu billing nya abis nih, cepet!” kata Andre.

“Woah, gua baru tau Ndre ada tempat kaya gini, ga begitu buruk lah,” puji Ryan.

“Kan gua udah bilang, dah ayo cepet,” ujar Andre dengan tergesa-gesa.

“Cepet apaan? Gua ga ngerti apa-apa, Ndre. Kan lu tau terakhir gua main game pas TK, main Zuma, itu juga gua ga bisa mainnya,” kata Ryan sambil tertawa kecil.

“Ya ampun, Yan. Bilang dari tadi dong,” Andre berkata dengan kesal.

Tiga jam berlalu dan akhirnya mereka selesai.

“Wah rame juga ya, Ndre. Udah lama gua ga maen game, game apaan sih tadi itu? Lupa gua,” tanya Ryan.

“Itu CSGO yan, game yang lagi hits sekarang itu lho,” jawab Andre.

 Ryan terdiam sejenak. CSGO? Dia merasa pernah melihatnya, tapi ia lupa dimana. “Ohhh…. CSGO yang turnamennya ada di TV itu ya? Iya tuh gua liat tadi, hadiahnya gede banget dah Ndre, hadiah olimpiade mah kagak ada apa-apanya,” kata Ryan.

“Nah, itu dia Yan, gua mau ngajakin lu, tapi banyak yang perlu dikorbanin dan harus serius Yan. Turnamennya setahun lagi, waktu kita gabanyak nih,” kata Andre dengan serius.

“Yaelah Ndre, gampang itu mah, gua bakal serius dan bakal ngorbanin apapun deh,” kata Ryan.

“Yakin lu? Yaudah ntar kita ngomongin lagi dah, gua cabut duluan,” kata Andre sambil menyalakan motornya dan pergi.

Hari itu hari yang sangat berbeda bagi Ryan, ia sangat menikmati hari itu. Ia merasa tidak terbebani walaupun bermain selama berjam-jam. Berbeda dengan belajar, ia tidak menikmatinya dan juga merasa terbebani karena itu suatu paksaan. Hari itu ia sadar bahwa ia harus melakukan hal yang berbeda di hidupnya. Dan hari itu juga ia lupa, lupa bahwa besok ulangan Bahasa Indonesia.

Pak Guru berkata, “Anak-anak keluarkan kertas selembar, ya!”

“Waduh lupa gua Ndre sekarang ulangan. Gua belum nyiapin apa-apa nih,” kata Ryan dengan kaget.

“Udah tenang aja, kita udah siap kok,” kata Andre dengan santai.

Siap? Bukannya kemaren seharian main game? Tetapi Ryan tidak berkata apa-apa lagi karena ujian sudah dibagikan.

Hari demi hari berlalu, Ryan jadi mempunyai kebiasaan yang baru, yaitu bermain game. Padahal, orangtuanya sangat melarang Ryan bermain game, terutama ayahnya. Mereka ingin Ryan menjadi Profesor yang hebat. Dan seminggu kemudian hasil ulangan Bahasa Indonesia pun dibagikan.

“Duh Ndre, kalo ulangan jelek mati gua, gara-gara kemaren lu ajak gua maen kacau nih,” Ryan ketakutan.

Andre tidak menjawab apa-apa dan Pa Guru pun memanggil Ryan. “Ryan…” kata Pak Guru

“I….. iya, Pak?” kata Ryan dengan gugup.

“Selamat kamu mendapat ulangan yang lebih bagus dari sebelumnya,” kata Pa Guru dengan senyum.

“Se…serius Pak?” tanya Ryan dengan heran.

Andre hanya senyum dan ia pun mendapat nilai yang bagus.

“Ndre apaan dah? Lu kan sama gue maen game kemarennya. Kok bisa sih nilai kita bagus padahal sebelumnya gua ga pernah dapet nilai Bahasa Indonesia sebagus ini,” kata Ryan.

“Game ga selamanya buruk, Yan. Kita main game juga pakai otak, kita dibuat untuk berpikir, menganalisis, memprediksi dengan cepat,” kata Andre.

“Oh iya ya, tapi orang tua gua pasti bakal marah kalo tau gua main game, mereka benci banget sama yang namanya game Ndre, gua aja dulu pas main Zuma ketauan langsung dihapus gamenya Ndre,” kata Ryan.

“Lu cuma butuh pembuktian Yan,” kata Andre.

Pembuktian? Tapi bagaimana? Gaada yang ngerti orang tuaku bagaimana. Apalagi ayahku. Mereka tidak akan membiarkanku bermain game. Hari demi hari, Ryan fokus mempersiapkan dirinya untuk kompetisi, sedangkan orang tuanya tidak tahu. Dia terlihat mahir padahal dia baru bermain beberapa bulan, dia mulai dikenal beberapa orang karena kemahirannya, dia hanya bilang dia mahir karena ia menikmatinya.

Ia memikirkan untuk memiliki perangkat game sendiri, tapi bagaimana? Ia tidak mungkin meminta kepada orang tuanya dan bilang itu untuk game.

“Pa, Ryan butuh laptop Pa, buat urusan sekolah nih” kata Ryan kepada ayahnya.

“Kalo emang buat sekolah papa beliin tapi jangan sekali-kali kamu pakai untuk yang lain-lain, apalagi untuk main game, papa ga mau kamu rusak,” kata ayahnya tegas.

Ryan hanya mengangguk.

Akhirnya, Ryan dibelikan laptop yang cukup mumpuni. Tetapi, ia berpikir tidak mungkin bermain tanpa peripheral. Akhirnya ia membeli mouse gaming dengan harga yang lumayan mahal, tetapi kini ia membeli dengan uang tabungannya. Ia membeli dengan online.

Satu hari setelahnya, hari Sabtu, ia sedang berdiam diri di kamar. Tiba-tiba terdengar suara, “Paket!”

Ryan dengan cepat kedepan rumahnya karena takut ada yang mengambil paketnya terlebih dahulu. Saat ia sampai didepan rumah benar saja, sudah ada ibunya yang sedang mengecek tagihan bayaran paket tersebut.

“Apa-apaan ini Ryan mouse mahal begini untuk apa?” kata ibunya dengan marah.

“Ehh, ini mah biar enak aja pake uang Ryan kok, plis… jangan bilang papa ya Ma?” kata Ryan sambil mengambil paketnya dan membayarnya dan ia langsung lari dengan cepat.

Dengan adanya laptop ia tidak pernah lagi ke e-café, tetapi ia tidak bisa berisik di kamarnya karena takut ketahuan. Walaupun ia jadi sering bermain game, tetapi ia nilainya tidak menurun karena ia mengatur waktu jam bermain dan belajar. Walaupun saat awal-awal ia sempat tidak bisa mengatur waktu dan beberapa kali ia ketahuan sedang bermain game, ia beruntung, beruntung karena bukan ayahnya yang mengetahui Ryan sedang bermain game, tetapi ibunya. Ibunya beberapa kali mengancamnya akan memberi tahu pada ayahnya tetapi Ryan tetap teguh pendirian. Ia sedang berusaha membuktikan.

Dikelas semua murid disuruh untuk mengisi biodata mereka.

Nama    :           Ryan Putra

Kelas      :           XI IPA 10

TTL        :           Jakarta, 25 Mei 1997

Alamat   :           Jalan Katamso no. 11

Cita-cita :           Profesor E-sport Player

   Dan keesokannya orangtua murid diundang ke sekolah. Dan hari itu ayah Ryan tahu segalanya.

“Ryan, apa-apaan ini? E-sport player? Kita susah nyekolahin kamu dan kamu bercita-cita menjadi e-sport player? Kamu gila? Papa juga udah tau semuanya, kamu suka ke warnet kan? Kamu juga pakai laptop untuk main game papa tau itu!” kata Ayah Ryan dengan marah.

“Ryan cuma pengen jadi apa yang Ryan mau Pa! Bukan yang Papa yang mau! Walaupun main game juga Papa liat sendiri kan nilai Ryan tetap bagus! Dan Ryan ke e-café bukan ke warnet!” kata Ryan dengan tegas.

“Papa ga mau tau! Ga peduli nilai kamu sebagus apa kalau kamu cuma pengen kamu jadi tukang main game, papa mau kamu jadi Profesor! Sekali lagi papa tau Ryan berhubungan dengan game-game yang ga guna itu, papa sita laptop Ryan!” kata ayahnya.

”Udah Pa, udah,” kata ibunya menenangkan.

Padahal kompetisi berlangsung 2 hari lagi, tetapi dengan adanya kejadian tadi memukul mundur Ryan. Seharian Ryan merenung di kamar setelah pulang sekolah.

“Nak, ibu boleh masuk?” kata ibunya.

“Buka aja, Ma. Ga dikunci,” kata Ryan pelan.

“Mama tau kamu marah, kesal, kecewa. Tetapi sebenernya tujuan papamu itu baik, Yan. Ia ingin kamu jadi orang yang sukses. Tapi kalo keinginanmu berbeda, mama akan dukung, mama juga akan yakinin ayah,” kata mamanya.

“Bukan jadi orang yang sukses, Ma! Jadi Profesor? Ryan gamau! Papa egois!” kata Ryan dengan marah, “Aku juga dua hari lagi ada kompetisi game ma, aku mau minta izin ke papa mama, terserah papa mama izinin atau ngga, aku bakal buktiin ke papa mama”.

Mamaya hanya terdiam dan meninggalkan Ryan

Tiba saatnya kompetisi dimulai, Ryan pergi pagi sekali saat orang tuanya belum bangun. Ia meninggalkan surat untuk orang tuanya.

Aku minta izin ke papa, mama untuk kompetisi ini. Aku minta doanya aja kalo papa mama gabisa datang, tapi kalo kalian mau datang ini alamatnya: Jalan Pahlawan no. 5A Arena East Jakarta.

   Ryan

Lima menit jelang ia bermain ia masih berharap orang tuanya datang, tetapi ia mencari kemana-mana tidak ada. Ia hanya berharap membawa trofi saat pulang. Dan tanpa disangka, debutnya pada kompetisi membuahkan hasil yang sangat baik, walaupun hanya juara 3, tetapi itu merupakan awal yang bagus. Tetapi tidak terlihat wajah yang senang dari Ryan, dia murung karena tidak ada orang tuanya saat itu.

Saat ia menuju ke pintu keluar, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.

“Ryan maafin papa mama udah egois, gatau apa yang diinginin Ryan, sekarang papa mama bakal duku Ryan terus apapun yang terjadi,” kata ayahnya. Air mengalir dari mata Ryan, jarang ia terlihat mengeluarkan air mata tetapi ini terjadi. dan inilah akhir kisah seorang gamer tersebut.***

[Karya Siswa] Indahnya Ukhuwah Islamiyah

Pada suatu waktu, terdapat sebuah desa. Desa itu bernama Desa Cahaya. Desa Cahaya merupakan desa yang indah dan dikelilingi oleh hutan-hutan yang daun-daunnya pohonnya sangat hijau. Selain itu, di desa ini terdapat sebuah sungai yang bernama Sungai Kristal. Sungai ini biasa digunakan sebagai tempat bermain anak-anak. Biasanya, anak-anak akan berenang-renang di sungai atau menangkap ikan dengan tengan kosong. Orangtua mereka biasanya memakai hasil tangkapan mereka untuk lauk makan malam. Selain itu, penduduk desa ini ramah dan rukun. Jarang terjadi perselisihan antara warga satu dengan warga yang lain.

 Di antara para penduduk desa itu, ada seorang gadis kecil yang tinggal di sebuah rumah dekat Sungai Kristal. Nama gadis itu adalah Syariah Hidayatul atau lebih sering dipanggil Syari. Syari merupakan gadis pendiam yang jarang sekali bermain dengan anak-anak di desanya. Syari memiliki seorang adik laki-laki bernama Hafidz. Berbeda dengan Syariah, Hafidz merupakan anak periang, dia sering bermain keluar entah petak umpet, tangkap ikan, atau permainan lainnya. Dia bahkan pernah pulang sore karena keasyikan bermain.

 Suatu hari, Hafidz lagi-lagi pulang terlalu sore. Karena sudah mendekati waktu maghrib, ibunya meminta bantuan kepada Syari.

 “Sayang, bisa tolong panggilkan Hafidz? Ini sudah mau mendekati malam.” pinta Bu Shafira, ibu dari Syari.

 “Iya, Bun. Syari pergi dulu, ya, assalamu’alaikum,” pamit Syari.

 “Makasih, Nak. Wa’alaikumussalam.” balas Bu Shafira.

 Syari pergi ke lapangan tempat Hafidz biasanya bermain bola basket. Benar saja, saat Syari tiba di lapangan, dia melihat Hafidz sedang memantul-mantulkan bola basketnya.

 “Hafidz, bunda bilang kamu harus pulang!” seru Syari sambil menatap Hafidz. Hafidz langsung memasang muka cemberut.

 “Ih, Kakak, lagi seru-serunya juga.” sahut Hafidz ketus. “Aku duluan, ya, Faza, Ghani. Wa’alaikumussalam,” pamit Hafidz kepada kedua temannya. Kedua temannya pun langsung membalasnya sambil melambaikan tangan.

 “Seru, Fidz?” tanya Syari sambil tersenyum manis.

 “Seru, dong, Kak!” jawab Hafidz sambil mengacungkan jempolnya.

 “Bagus, deh.” tanggap Syari sambil mengacungkan jempolnya.

 Selesai makan malam, Syari sedang membaca buku al-Qur’an di kamarnya. Dia tidak memakai mukena karena kerudung birunya sudah cukup menutupi tubuhnya. Tepat pada saat itu, Bu Shafira memasuki kamar Syari.

 “Syar, sini. Bunda mau bicara dulu sama kamu!” seru Bu Shafira sambil mengayun-ayunkan tangannya memberi isyarat kepada Syari.

 “Syari langsung mengakhiri bacaan al-Qur’annya. “Shadaqallahul’adziim. Iya, Bun,” Syari langsung membalas seru Bu Shafira dan berdiri tepat di depan Bu Shafira.

 “Syar, Bunda perhatikan kamu selama ini, kamu itu selalu menyendiri. Apakan tidak lebih baik kamu berteman dengan seseorang?” tanya Bu Shafira.

 “Enggak, Bun. Syari udah puas, kok, dengan kehidupan Syari yang seperti ini. Yang penting, kan Syari tidak kenapa-napa, Bun.” jawab Syari santai.

 “Tapi kamu bisa kesepian, Syar. Hafidz saja sudah punya banyak teman.” lanjut Bu Syafira sambil memegang pundak Syari.

 “Udah, Bun. Syari baik-baik saja, kok,” jawab Syari kembali.

 “Begini saja. Bunda akan daftarkan kamu ke DKM Masjid Ash-Shaff, masjid yang dekat rumah kita. Dengan begitu, kamu bisa punya banyak teman.” usul Bu Shafira kepada Syari.

 Mata Syari membelalak. “Bun, Syari malu. Syari belum kenal banyak anak-anak di desa ini. Masa Bunda mau mempermalukan Syari, sih!?” Syari menolak keras usulan Bu Shafira.

 “Gak apa-apa, Syar. Nanti juga lama-lama kamu terbiasa, kok,” jelas Bu Shafira.

 “Bun, Syar tidak…” Syari mencoba berbicara tapi langsung dipotong oleh Bu Shafira.

 “Stop, sudah. Percayalah kepada dirimu, Syari,” tanggap Bu Shafira atas tolakan Syari kemudian Bu Shafira pun meninggalkan kamar. Syari hanya bisa cemberut dengan keputusan ibunya.

 Esok harinya, Syari sedang sibuk membaca majalah Bobo. Majalah itu memang sudah menjadi favoritnya Syari.

 “Syari, makan dulu, sayang.” panggil Bu Shafira dari lantai bawah.

 “Iya, Bun.” sahut Syari sambil menuruni tangga penghubung lantai satu dengan lantai dua.

 Di lantai bawah, Syari langsung memakan makanan yang sudah disediakan. Selagi makan, Bu Shafira berbicara kepada Syari.

 “Syari, nanti qabla maghrib, kamu langsung ke masjid untuk DKM, ya,” ujar Bu Shafira kepada Syari.

 “Hah, Syar takut, Bun,” tolak Syari dengan wajah terkejut.

 “Kakak penakut, nih, yeeee,” ejek Hafidz sambil mengacung-acungkan telunjuknya ke arah Syari.

 “Heh, sembarangan aja kamu, Fidz. Kakak bukannya takut, Kakak hanya malu!” Syari membela dirinya karena kesal diejek oleh adiknya.

 “Sudah, sudah, pokoknya nanti kamu siap-siap, ya!” perintah Bu Shafira lalu menyeruput tehnya.

 “Huh, iya, Bun.” Syari menyerah kepada keputusan ibunya yang sudah bulat. Syari melahap suapan terkahir nasi goreng buatan ibunya.

Sekarang sudah mau masuk waktu maghrib, Syari langsung mengenakan khimar biru andalannya dan juga gamis biru langit kesukannya. Dia membawa tas berisi al-Qur’an dan bekal dari Bu Shafira.

 “Ayo, sayang, kita berangkat.” ujar Bu Shafira dari teras rumah.

 “Iya, Bun.” sahut Syari sambil berlari menuju lantai bawah.

 Di lantai bawah, Bu Shafira sudah siap mengantar Syari ke masjid. Syari pun menyusul ibunya ke bawah. Setelah itu, mereka berdua berangkat ke masjid. Saat perjalanan, jantung Syari berdetak kencang.

 “Bun, Syari takut, Bun,” ujar Syari kepada Bu Shafira.

 “Takut kenapa, Syar? Tenang saja.” bujuk Bu Shafira menenangkan Syari.

 Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya mereka sampai di masjid. Di sana sudah ada seorang wanita yang menunggu kedatangan Syari.

 “Assalamu’alaikum, Bu. Ini Syari, ya?” Wanita itu memberi salam kepada Bu Shafira.

 “Wa’alaikumussalam. Iya, ini Syari. Tuh, Syar, ikut sama kakak itu,” perintah Bu Shafira kepada Syari.

 “Yuk, Syari, ikut dengan Kakak!” ajak wanita itu sambil menggandeng tangan Syari ke dalam masjid.

 Di dalam masjid, banyak sekali anak-anak yang berkumpul. Ada yang laki-laki, ada yang perempuan. Saat, itu, wanita itu menyalami semua anak yang ada di sana.

 “Anak-anak, perkenalkan, ini Syari, dia akan menjadi anggota baru kita!” ujar wanita itu kepada semua anak-anak.

  “Assalamu’alaikum, Syari!!” salan seluruh anak-anak kepada Syari. Melihatnya, Syari tersenyum malu.

 “Wa’alaikumussalam,” balas Syari pelan.

“Nah, sekarang kita mulai ngaji bareng sama Kakak, ya,” ujar wanita iu kembali kepada seluruh anak-anak.

 “Baik, Kak Shafa!!” tanggap seluruh anak-anak kepada wanita yang ternyata bernama Kak Shafa itu.

 “Syari, sekarang kamu duduk di sebelah Malia, yang pakai kerudung kuning itu, ya” suruh Kak Shafa. Syari langsung duduk di sebelah gadis berkerudung kuning.

 “Hai, nama kamu Syari, ya?” Gadis berkerudung kuning bernama Malia itu ingin berkenalan dengan Syari seraya mengulurkan tangannya.

 “Iya, namaku Syari.” jawab Syari sambil membalas uluran tangan Malia dan menyalaminya.

 “Semua buka al-Qur’anya!” perintah Kak Shafa kepada semua anak, semuanya pun langsung membuka al-Qur’annya masing-masing. “Buka Surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5.” lanjut Kak Shafa. Semua anak pun menurutinya.

 “A’udzubillahiminasysyaithaanirrajim…” Kak Shafa membaca ta’awudz.

 “A’udzubillahiminasysyaithaanirrajim…” semua anak langsung mengkuti ta’awudz yang dibacakan Kak Shafa.

 “Bismillahirrahmaanirrahiim..” Kak Shafa pun membacakan bismillah. Semua anak kembali mengikuti bacaan Kak Shafa.

 Kak Shafa pun membacakan ayat satu sampai lima diikuti seluruh murid. Setelah itu, Kak Shafa memberikan penjelasan mengenai ayat-ayat tersebut.

 “Jadi, Surah Al-Alaq ayat 1-5 ini merupakan wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah swt.” jelas Kak Shafa. Kak Shafa terus memberikan materi hingga maghrib tiba.

 “Yak, sudah maghrib. Siapa yang berana adzan yang ikhwan?!” tanya Kak Shafa. Seorang anak lelaki mengacungkan tangannya. “Ya, Adri, ayo adzan!” seru Kak Shafa.

 Adri lalu mengumandangkan adzan, setelah selesai, semua anak dan Kak Shafa langsung berwudhu dan menunaikan shalat maghrib berjamaah. Setelah selesai, mereka kumpul seperti tadi.

 “Ya, sekarang Kakak akan tunjuk satu orang ke depan..” Kak Shafa ingin salah seorang anak untuk maju ke depan. “Ya, kamu Syari, ayo ke depan!” perintah Kak Shafa. Syari pun langsung maju ke depan. Saat itu, semua anak bertepuk tangan kepada Syari. Syari pun tersenyum malu.

 “Syari, bacakan Surah An-Nas!” perintah Kak Shafa.

 Syari langsung membuka surah yang diminta, lalu mengucapkan ta’awudz. Setelah itu, Syari langsung membacakannya.

 “Qul a’uudzuu birabbinnaas..” Syari membacakan surah itu dengan penuh penghayatan. Semua murid termasuk Kak Shafa kagum dengan bacaan al-Qur’an Syari yang sangat merdu.

 “Tepuk tangan untuk Syari!!” seru Kak Shafa, semua anak langsung bertepuk tangan keras. Syari pun kembali ke tempat duduknya.

 “Syari, kamu hebat!” puji Malia yang duduk di sebelahnya.

 “Oh, ya?” Syari tersipu malu.

 “Iya, ajarin, dong cara ngaji kayak kamu, Syar!” ujar seroang anak berkerudung hitam yang duduk di belakang Syari.

 “Iya, ajarin, dong Syar!” pinta Malia.

 Mendengar permintaan-permitaan mereka, Syari tidak sanggup untuk menolak. “Baiklah, akan kuajarkan kalian mengaji tiap hari!” seru Syari.

 “Yeeeeeeyyy!!” sorak seluruh anak keras.

 “Heheheh, udah dulu, anak-anak. Nah, sekarang Kakak akan memberikan materi, dengarkan, ya1” perintah Kak Shafa.

 Kak Shafa kemudian memberikan materi bertema “Masjid sebagai Rumah Kita”. Saat menyimak, Syari merasa sangat senang dapat mempunyai teman-teman baru.

Esok harinya, Syari pergi ke masjid. Saat Syari hendak berangkat ke masjid, Bu Shafira bersiap-siap untuk mengantar Syari.

 “Bun, ayo cepat!” seru Syari dari lantai bawah.

 “Iya, Syar. Ini Bunda juga sedang pakai kerudung!” balas Bu Shafira dari lantai dua. Setelah beberapa lama, Bu Shafira akhirnya turun ke lantai bawah. Di sana, Syari sudah siap dengan kerudung merah muda bermotif polkadot kesukaannya. Selain itu, Syari juga sudah menyiapkan al-Qur’annya di dalam tas. Setelah siap, akhirnya Bu Shafira dan Syari berangkat. Dalam perjalanan mereka ke masjid, mereka mengobrol berdua.

 “Bun, Syari seneng banget, Syari punya banyak teman di sana!” seru Syari bahagia.

 “Alhamdulillah kalau kamu senang, Syar. Ibu senang sekali,” respons Bu Shafira.

 Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya mereka berdua sampai di masjid. Syari pamit kepada ibunya.

 “Assalamu’alaikum, Bun. Syari mau kumpul dulu, ya,” pamit Syari kepada Bu Shafira.

 “Wa’alaikumussalam, Syar. Hati-hati, ya, kamu di sana,” pesan Bu Shafira. Setelah itu, Bu Shafira pun meninggalkan masjid. Semestara itu, Syari langsung berlari masuk masjid.

 “Assalamu’alaikum, Syar!” salam teman sebayanya.

 “Wa’alaikumussalam, Safina!” balas Syari terhadap salam temannya, Safina.

 “Syar, ayo ajarin kita ngaji!” seru Shela, teman Syari.

 “Baik, ayo mulai!” seru Syari.

 Syari kemudian langsung mengajarkan mereka huruf hijaiyah. “Yang ini bacanya ‘la’, yang ini bacanya ‘sya’, dan yang ini bacanya ‘dho’.” Syari memberikan materi kepada teman-temannya.

 “Kalau garis yang ada di bawah, di atas, dan kaya huruf wau ini bagaimana bacanya?” tanya Disha.

 “Oh, itu namanya fathah, kasrah, dan dammah. Kalau fattah, dibacanya dengan huruf ‘a’, contohnya sya, ba, sa. Kalau kasrah, dibacanya dengan huruf ‘I’, contohnya syi, bi, si. Dan kalau dammah, dibacanya dengan huruf ‘u’, misalnya syu, bu, su.” jelas Syari.

 Berjam-jam Syari mengajarkan huruf hijaiyah kepada mereka, akhirnya tiba waktu mereka untuk pulang.

 “Assalamu’alaikum, semuanya. Aku duluan, yah, bundaku sudah jemput!” pamit Syari kepada teman-temannya.

 “Wa’alaikumussalam, Syari!” balas teman-temannya.

Sudah berhari-hari Afina mengajari mereka materi tentang membaca al-Qur’an. Namun, Syari mengalami peristiwa tak terduga pada hari Selasa ini. Saat itu, Syari sedang mengajarkan hukum waqaf kepada teman-temannya.

 “Syar, kalau waqaf yang kayak huruf alif lam ini hukumnya apa?” tanya Malia.

 “Itu…artinya..tidak boleh berhenti, harus diteruskan.” jawab Syari.

 “Syar, kamu kenapa, kok kayak yang lemas?” tanya Disha.

 “Aku dari tadi merasa tidak enak badan,” jelas Syari sambil memegang keningnya.

 “Minta izin dulu saja kepada Kak Shafa,” usul Shela. “Aku temenin, nih,” lanjutnya.

 “Oh, ya, Shel. Makasih,” ucap Syari lalu menggendong tas punggungnya dan pergi menghadap Kak Shafa.

 “Permisi, Kak, saya merasa tidan enak badan, bolehkah saya pulang dulu, Kak?” tanya Syari.

 “Oh, kenapa? Ya sudah, Kakak akan anterin kamu ke rumah kamu, ya,” Kak Shafa bermaksud ingin mengantar Syari yang sedang sakit.

 “Makasih, Kak!” ucap Syari.

 “Anak-anak, lanjutkan saja kegiatannya, ya. Kakak mau mengantar Syari dulu ke rumahnya,” seru Kak Shafa.

 “Iya, Kak!” balas seluruh anak.

 Kak Shafa pun mengantarkan Syari ke rumahnya. Di rumah, ibunya berterima kasih karena Kak Shafa sudah mengantarkan Syari ke rumahnya.

Beberapa hari kemudian, teman-teman Syari merasakan kebosanan karena Syari tidak ada, padahal Syari selalu mengajari mereka mengaji.

“Huh, bosan kalau Syari tidak ada,” keluh Malia.

“Iya, benar,” respons Disha.

 Tidak lama kemudian, Kak Shafa memasuki masjid dan memberikan pengumuman.

 “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” salam Kak Shafa.

 “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab semua anak.

 “Ada kabar duka. Kemarin, teman kita Syari baru saja dibawa ke rumah sakit.” beritahu Kak Shafa. Semua anak terkejut.

 “APA!?” teriak Disha, Malia, dan Shela bersamaan.

 “Syari sakit apa, Kak?’ tanya Ahmad, teman lelaki Syari.

 “Ibunya bilang kalau Syari menderita kanker otak,” jawab Kak Shafa sambil meneteskan air mata.

 “Ya Allah, Syari..” Malia menangis karena penyakit yang diderita temannya itu.

 “Sekarang, kita berdoa akan kesembuhan Syari, al-Fatihah!” seru Kak Shafa. Semua murid pun langsung khusyuk berdoa lalu mengaminkan doanya.

 “Kak, kapan kita bisa jenguk, Kak?” tanya Disha khawatir.

 “Mungkin seminggu lagi, dia dirawat di RS Harapan Bunda,” beritahu Kak Shafa.

 “Terima kasih, Kak,” ucap Shela. Semua murid pun menangisi keadaan Syari.

 Seminggu kemudian, anak-anak DKM Masjid Ash-Shaff mendatangi RS Harapan Bunda. Mereka menanyakan akan keberadaan Syari, ternyata dia sedang dirawat di UGD. Mereka semua pun bergegas ke UGD rumah sakit.

 “Semoga Syari baik-baik saja,” doa Kak Shafa di hadapan seluruh anak.

 “Aammiiiin.” Semua anak mengaminkan doa Kak Shafa.

 Di ruang tunggu UGD, terlihat Bu Shafira yang sedang menangis. Melihat itu, Kak Shafa menanyakan kondisi Syari.

 “Assalamu’alaikum, Bu. Bagaimana kondisi Syari, Bu?’ tanya Kak Shafa.

 “Kondisi Syari sudah kritis, dokter bilang hidupnya diperkirakan tinggal satu jam lagi,” jawab Bu Shafira lirih kemudian lanjut menangis.

 “Ya Allah, Syari,” Malia meneteskan air mata begitu mendengar kabar tentang Syari.

 “Oh, ya, kemarin Syari memberikan catatan ini untuk kalian baca,” beritahu Bu Shafira.

 “Baik, Bu, akan saya bacakan,” Kak Shafa akan membacakan surat tulisan Syari kepada seluruh anak,

“Assalamu’alaikum, sejak pertama kali aku bertemu dengan kalian semua, aku merasakan suasana yang berbeda dari biasanya. Sekarang, hatiku lebih cerah, tidak seperti sebelumnya yang dingin karena kesepian. Kalian semua sholeh dan sholehah, aku ingin selalu bersama kalian baik di sini maupun di sana. Semoga kita semua dapat berkumpul di dunia maupun di surga di akhirat nanti.”

 Semua anak sontak menangis mendengar surat dari Syari, mereka berjanji akan lebih menyayangi Syari sebagai teman.

 “Aku akan selalu menyayangi Syari,” ujar Shela lirih.

 “Aku juga,” ujar Safina sambil terisak-isak.

 Tiba-tiba, ada dokter wanita yang memanggil.

 “Atas nama Syariah Hidayatul!” seru dokter tersebut.

 “Saya ibunya, Dok!” Bu Shafira mengacungkan tangannya sambil menyeka air matanya.

 “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun, ananda Syari sudah pulang ke Rahmatullah,” beritahu dokter.

 “Syariiiiiiii……” teriak Bu Shafira kencang.

 Semua murid menangis. Mereka tidak akan pernah melupakan Syari sebagai teman sekaligus sahabat mereka. Syari adalah orang yang sangat di kehidupan mereka.

“Selamat tinggal orang-orang yang kusayangi, semoga kita dapat berjumpa di surga,” seru ruh Syari yang memadang mereka dari langit.***

SMAN 1 Bandung ikuti Anugerah Atikan JABAR 2019

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menggelar kompetisi Anugerah Atikan Jabar 2019 dengan mengusung Karya Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan se-Jawa Barat pada tanggal 20-22 November 2019 di Grand Hotel Lembang Bandung Barat. Indonesia merupakan negara dengan Sumber Daya Alam (SDA) berlimpah. Kekayaan yang dimiliki Bangsa Indonesia akan terus berkurang dan cenderung dimanfaatkan pihak-pihak lain (asing) bila tidak diimbangi oleh daya saing anak bangsa. Berdasarkan fenomena di atas, perlu dilakukan upaya-upaya untuk menumbuhkembangkan peran serta masyarakat dalam menanggulangi permasalahan yang ada. Untuk itu, perlu diselenggarakan kegiatan Lomba Karya “ANUGERAH ATIKAN JABAR” dengan tema “Inovasi Teknologi dalam Pembelajaran di era Industri 4.0”. Salah satu mata lomba yang dilombakan adalah Sekolah Berbasis TIK. SMA Negeri 1 Bandung mengikuti Sekolah Berbasis TIK pada Anugerah Atikan JABAR 2019

Atalia (Bu Cinta) Sosialisasikan Program BKKBN Jabar pada Anak SMA di SMAN 1 Bandung

BANDUNG – Ketua Jabar Bergerak Atalia Praratya Kamil atau akrab dipanggil Bu Cinta menjadi pembicara dalam acara sosialisasi program BKKBN Jabar yang dikemas dalam Generasi Muda Berencana Bergerak Untuk Jawa Barat, Menuju Generasi Unggul 4.0, yang digelar BKKBN Jabar di Aula SMAN 1 Bandung, Rabu (20/11/2019). Dalam wejangannya, Atalia berpesan kepada perwakilan siswa dari 70 SMA SMK se-Bandung Raya, tentang tiga hal yang penting diperhatikan para remaja generasi milenial itu.

“Tetap ingat tentang tiga hal ya? Apa itu? Jauhi narkoba, tidak seks bebas, dan hindari pernikahan dini” ujar Atalia sambil berinteraksi dengan para siswa dan membagikan hadiah bagi yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya.

Atalia menjelaskan ketiga hal itu yang akan menutup masa depan dan cita-cita generasi muda saat ini.

“Sedangkan kata Mark Zuckerberg sang pendiri facebook, orang yang miskin itu bukan yang tidak memiliki harta tetapi mereka yang tidak memiliki impian dan cita-cita” ungkapnya.

Atalia memotivasi anak-anak untuk terus memiliki cita-cita. Cita-cita yang tidak hanya mengubah dirinya sendiri tetapi mampu mengubah dunia. Acara dihadiri selain oleh komunitas Jabar Bergerak juga ketua BKKBN Jabar Sukarso Teguh Saroso dan Kepala Sekolah SMA N 1 Bandung sebagai tuan rumah Dadang Yani Z. (Pun)

Sumber: https://jabarprov.go.id/index.php/news/35262/2019/11/20/Atalia-Titip-Tiga-Hal-Pada-Anak-SMA

Revonelution 2019 “Color Run-Nya Anak SMANSA”

SMANSA Bandung, – Salah satu bentuk Gerakan Indonesia Sehat terutama siswa-siswi SMA Negeri 1 Bandung adalah dengan diadakannya kegiatan The Color Run Revonelution 2019 di SMA Negeri 1 Bandung pada hari Minggu (10/11/2019). Gerakan Indonesia Sehat yaitu mendorong masyarakat Indonesia, terutama generasi milenial untuk mengadopsi gaya hidup sehat, salah satunya melalui ajang olahraga lari. Kegiatan ini diikuti pula oleh berbagai kalangan masyarakat baik anak-anak maupun dewasa. Selain itu, kegiatan ini sebagai penerapan pendidikan karakter di sekolah menengah yang melibatkan siswa dalam kegiatan sosial secara langsung. Hal itulah yang ditunjukkan oleh SMA Negeri 1 Bandung yang menggelar Color Run 5K, yakni kegiatan lari sekaligus kegiatan-kegiatan kesehatan lainnya.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Minggu (10/11/2019) itu diikuti 300 peserta. Bekerjasama dengan dengan PMI dan lembaga lainnya, ini merupakan acara color run perdana pada kegiatan Revonelution 2019 yang ke depan sebagai kegiatan tahunan sekolah.

Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Bandung, Drs Dadang Yani Zakaria, menuturkan bahwa Revonelution 2019 adalah kegiatan perdana dan kedepan kita akan melanjutkan kegiatan yang baik ini demi kelangsungan kebutuhan jasmani kita bersama. Kegiatan ini pula tujuannya untuk membentuk pribadi pelajar akan nilai-nilai kepemimpinan, kerja sama, sikap saling menolong, mampu berpikir kritis, kreatif, pantang menyerah, rela berkorban, serta saling menghargai.

“Buah pendidikan itu kan sebetulnya tidak cuma mencetak siswa atau siswi berprestasi secara akademik, tapi juga membangun karakternya yang baik dan berbudi luhur. Ada lima nilai yang berasal dari kata BERSATU yang ingin kami tanamkan kepada mereka di sini, yaitu berilmu, santun, agamis, tekun dan unggul.

Ketua Panitia Revonelution 2019, Azkia Nadila, yang saat ini duduk di kelas XII IPA 6, mengatakan bahwa berbagi dalam momen lari merupakan sebuah wadah untuk satu sama lain bisa menolong sesama. Menurut dia, banyak orang ingin menolong sesama, namun terhalang oleh satu dan lain hal. “Cara ini (Color Run) berupaya menciptakan momen kita bersama-sama dapat bersenang-senang dalam lari tapi sekaligus bisa membantu sesama yang membutuhkan tanpa membedakan asal-usul kita,” kata Azkia. Kegiatan Revonelution 2019 tidak hanya menggelar color run saja namun diisi pula dengan kegiatan yang lainnya, seperti kegiatan music performance, bazar, cek kesehatan, cek biopolar, cek mental dan juga berbagai doorprize bagi peserta maupun pengunjung yang beruntung, ujar Azkia.

Informasi REVONELUTION 2019

OSIS SMAN 1 BANDUNG dengan bangga mempersembahkan : 🏃‍♂️REVONELUTION 2019: COLOR RUN🌈
📆Minggu, 10 November 2019
📍SMAN 1 Bandung
HTM : 80.000
psst, harga diatas sudah termasuk racepack menarik!! (Air mineral, Jersey, Gelang karet, Gelang tiket)
Selain Color Run sejauh kurang lebih 5km, Revonelution dikemas dalam acara bazaar kesehatan, dimana didalamnya terdapat Talkshow dengan dokter, cek kesehatan, dan juga pertunjukan musik dari JI3 dan MARIMERAKI !!! Tunggu apalagi?
Sampai bertemu di Revonelution2019 !!!

BALINOSA 2019 SMAN 1 Bandung Kali ini Pecah! Plh. Gubernur JABAR Hadir…

SMANSA Bandung, – Kegiatan Bazar Literasi November Satu atau yang lebih dikenal dengan “BALINOSA” diadakan oleh SMA Negeri 1 Bandung. Melihat keadaan di era yang serba modern ini, antusiasme peserta didik khususnya remaja untuk membaca buku, kian hari kian berkurang. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan, karena remaja yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa, harusnya lebih memperbanyak menimba ilmu, salah satunya dengan membaca

Maka dari itu SMA Negeri 1 Bandung berinisiatif untuk mengadakan sebuah kegiatan yang tentunya dapat mendorong peserta didik agar mau membaca. Kegiatan tersebut di beri nama ‘BALINOSA’. Kegiatan ini tentunya diadakan dengan tujuan mengingatkan para siswa dan siswi sebagai peserta didik supaya lebih meningkatkan budaya membaca bukunya, baik buku pelajaran ataupun buku lainnya. Melalui kegiatan ini di harapkan peserta didik termotivasi untuk lebih banyak lagi membaca buku.

Disamping itu, Kegiatan ini tidak hanya terpaku pada literasinya, juga diadakan kegiatan berbagai perlombaan termasuk bazaar, mendekorasi stand bazar dan pentas musik. Kegiatan bazar melatih para peserta didik untuk memiliki jiwa kewirausahaan, dan berani untuk mempromosikannya. kegiatan ini dilakukan di lapang SMAN 1 Bandung. Yang menarik pada Balinosa kali ini setiap stand bazar memakai mesin S-Pay untuk proses pembayarannya sebagai upaya sekolah yang berbasis TIK.

S-Pay (Smart Mobile Payment)

S-Pay (Smart Mobile Payment) adalah perangkat pembayaran instant yang dapat memudahkan Anda bertransaksi. BALINOSA didukung dengan kehadirannya S-Pay dari alumni SMAN 1 Bandung. S-Pay dengan merek GTA oleh PT Gema Transpaltindo Abadi dan Boarding Labs sebagai perusahaan POS aplikasi kasir.

Balinosa 2019 juga dihadiri oleh Pelaksana Harian (Plh.) Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum dalam rangka deklarasi Program Sekolah Ramah Anak (SRA), Sekolah Berintegritas dan Sekolah Berbasis Teknologi Infromasi Komunikasi (SeBaTIK). Pada pendeklarasian SeBaTIK, Dadang menyatakan, dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat, sekolah harus mampu beradaptasi dan mengadopsi kemajuan tersebut guna menunjang pembelajaran di sekolah. Hal itu dibuktikan dengan diluncurkannya Tablet Cinta (creativity, integrity, and digital access).

Selain kegiatan di atas, BALINOSA kali ini mendatangkan Bahureksa untuk menambah kemeriahan dan diakhiri dengan keseruan bersama (RR)

SMAN 1 Bandung Deklarasikan SRA, Sekolah Berintegritas, dan SeBaTIK

BANDUNGDISDIKJABAR– Pelaksana Harian (Plh.) Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum menghadiri deklarasi Program Sekolah Ramah Anak (SRA) di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Bandung, Jln. Ir. H. Juanda No. 93, Kota Bandung, Selasa (5/11/2019). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan deklarasi Sekolah Berintegritas dan Sekolah Berbasis Teknologi Infromasi Komunikasi (SeBaTIK).

Kepala SMAN 1 Bandung, Dadang Yani Zakaria menegaskan, ketiga deklarasi tersebut penting dilaksanakan guna membangun kualitas satuan pendidikan yang lebih baik. Melalui deklarasi sekolah berintegritas, Dadang mengatakan, hal tersebut sebagai upaya sekolah untuk menyelenggarakan pelayanan pendidikan dengan baik dan bersih.

“Setiap sekolah dan kedinasan pasti memiliki berbagai kegiatan yang ujung-ujungnya bertujuan untuk anak. Maka, pelaksanaannya juga harus menjunjung integritas,” ujarnya.

Pada pendeklarasian SeBaTIK, Dadang menyatakan, dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat, sekolah harus mampu beradaptasi dan mengadopsi kemajuan tersebut guna menunjang pembelajaran di sekolah. Hal itu dibuktikan dengan diluncurkannya Tablet Cinta (creativity, integrity, and digital access).

“Sekolah juga berkewajiban melakukan sistem kredit semester (SKS). Dengan semangat inovasi dan kreativitas, kami juga akan membuat SKS berbasis teknologi digital,” ungkapnya.

Dalam deklarasi SRA, Dadang mengaku program tersebut telah digalakkan sejak jauh-jauh hari. Pendeklarasian ini hanya sebagai simbolis. “Sosialisasi sudah dilakukan karena program ini wajib digalakkan di Jabar,” imbuhnya.

Selain ketiga deklarasi tersebut, SMAN 1 Bandung juga menyelenggarakan bazar bertajuk Bazar Literasi November Satu (Balinosa). Bazar tersebut diisi berbagai inovasi kewirausahaan dan penampilan kesenian yang ditunjukkan para siswa. “Khusus untuk literasi, kita juga menyelenggarakan lomba seperti menulis puisi dan cerpen. Nantinya, karya tersebut akan kita cetak dan bukukan,” tambahnya.

Selain Plh. Gubernur, kegiatan ini juga dihadiri Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Sekolah Menengah Atas (PSMA) Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat (Jabar), Yesa Sarwedi, Kepala Cabang Dinas Wilayah VII, Endang Susilastuti serta jajaran kepala sekolah di wilayah KCD VII.***

Sumber: https://disdik.jabarprov.go.id/news/1669/sman-1-bandung-deklarasikan-sra%2C-sekolah-berintegritas%2C-dan-sebatik