[Karya Siswa] Bintang dan Janji di Malam Itu

Cekitttttttt

Suara decitan roda becak yang terlihat sudah sangat tua terdengar, mendengar decitan roda becak sang bapak yang sudah tidak asing ditelinganya. Rina langsung berlari berhamburan keluar rumah.

“Bapaaaaakk!” teriak Rina girang sambil membuka pintu rumahnya.

“Bapak cape gak? Mau Rina ambilin minum?” lanjut Rina dengan antusias.

“Rina ambilin ya, Pak,” tukas Rina tanpa mempedulikan respon bapak yang terlihat sangat kelelahan.

Ia pun langsung berlari menuju meja makan dan mengambilkan segelas air putih.      Melihat tingkah anak semata wayangnya yang mulai beranjak remaja itu, Sudirman hanya bisa tersenyum sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.

“Ini Pak,” ujar Rina sambil memberikan segelas air putih kepada bapaknya.

“Aduhh, terima kasih putri bapak yang cantik,” respon Sudirman sambil membelai lembut pucuk kepala putrinya itu

Sudirman pun menghabiskan air tersebut dengan satu tegukan. Melihat cara minum sang bapak, Rina berpikir bahwa sang bapak sangat kelelahan

“Oh iya Rin, ini tadi bapak beli nasi goreng di depan, tapi maaf ya tadi bapak makan duluan. Habisnya bapak lapar,” ujar Sudirman sambil mengelap keringat di dahinya.

“Wah, makasih Pak,” tangan Rina bergerak cepat mengambil bungkusan hitam di tangan bapaknya.

Rina pun langsung membuka bungkusan kresek hitam di tangannya, dan langsung memindahkan nasi goreng yang masih hangat itu ke dalam piring plastik yang diambilnya.

Tanpa pikir panjang, Rina langsung menyantap nasi goreng kesukaannya itu. Sudirman sangat senang karena putrinya itu terlihat sangat lahap. Pikirannya pun melayang jauh teringat kejadian tadi sore di pangkalan becak.

**

Gemericik air hujan, membasahi kota kembang sore itu.

Seperti biasa tepat pukul 4 sore, juragan becak menyisir para tukang becaknya dan mengambil jatah setoran sesuai kesepakatan.

“Setoran Man!” ujar juragan becak kasar sambil menengadahkan tangannya ke depan wajah Sudirman.

“Ini juragan,” jawab Sudirman sambil memberikan dua lembar uang dua puluh ribuan.

“Aduh, masih kurang 10 ribu ini! Mana sisanya?” bentak juragan becak itu kasar.

“Maaf juragan anak saya besok harus beli buku untuk sekolah,” tutur Sudirman sambil menundukan kepalanya.

“Alah, anak tukang becak sok-sok an sekolah, sudah miskin, tak sadar diri pula. Sadar Man, kamu itu hanya tukang becak. Jangan punya mimpi terlalu tinggi untuk bisa menyekolahkan putrimu. Suruh saja anakmu kerja di warung saya,” tawar juragan becak, diiringi segaris senyum miring di bibirnya

Amarah Sudirman memuncak, kedua tangannya mengepal keras, rahangnya pun mulai mengeras menahan amarah, harga dirinya diinjak – injak ditambah anak semata wayangnya ditawarkan bekerja di warung juragannya, yang hanya diberikan upah yang tidak sebanding dengan jasa yang diberikan.

“Sampai kapanpun, saya tidak akan mengizinkan anak saya bekerja di warung juragan!” balas Sudirman sambil mengacungkan jari telunjuknya.

“Ah, cape ngomong sama kamu. Ya sudah berikan uang sepuluh ribu lagi,” kembali dibalas dengan bentakan oleh sang juragan becak.

Para tukang becak lainnya tak bisa berbuat banyak hanya bisa menonton debat arogan Sudirman yang pada dasarnya semua tukang becak sangat segan kepada juragannya itu.

Sudirman pun memberikan uang sepuluh ribuan yang ternyata uang itu adalah uang jatah nasi goreng untuk makan malamnya.

 Setelah juragan nya itu pergi, ia pun menatap nanar sisa uang di tangannya, sambil menghitung kebutuhan sekolah Rina dan uang makan malam, tak lupa jatah belanja untuk sarapan besok pagi.

Setelah dihitung, ternyata uang nya hanya cukup membeli buku untuk Rina, satu porsi nasi goreng untuk makan malam, dan beberapa ikat kangkung untuk besok sarapan.

“Malam ini akan kutahan lapar dan dahaga. Uang jatah makan malamku, akan kubelikan buku untuk Rina agar dia semakin semangat menuntut ilmu,” gumam Sudirman.

Sudirman pun mengayuh becaknya pulang ke rumah, tak lupa dengan 1 porsi nasi goreng untuk makan malam putrinya.

**

“Maafkan bapak, Rin. Hari ini bapak berbohong. Bapak hanya ingin kamu tetap sekolah, walaupun uang makan bapak setiap harinya yang menjadi jaminan,”  batin Sudirman.

“Bagaimana tadi sekolah, Rin?” tanya Sudirman sambil melirik putrinya yang telah menyantap habis nasi goreng kesukaannya.

“Mmm, gimana ya Pak…” jawab Rina dengan nada yang menggantung. Hal itu membuat Sudirman semakin penasaran dengan perkembangan belajar putrinya di sekolah.

“Rina tadi ulangan matematika Pak, terus nilai Rina …” masih dengan nada yang menggantung kemudian kepalanya mulai menunduk disertai dengan mimik wajah yang sangat sedih.

“Rina nilai 100, Pak!” jawabnya sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya disertai dengan tawa kecil yang membuat Sudirman gemas melihatnya.

“Astagfirullah Rina bapak kira nilainya kurang bagus,” respon Sudirman sambil ikut tertawa.

Setelah beberapa saat hening, Sudirman kembali memulai pembicaraan.

“Rin?” panggil Sudirman

“Iya Pak?” jawabnya lembut sambil menolehkan wajahnya ke arah pahlawan dalam hidupnya itu.

“Ikut bapak keluar sebentar, yuk!” ajaknya sambil menarik tangan Rina lembut.

Di sinilah mereka sekarang, di antara gemerlap bintang, semilir angin malam, dan hawa dingin yang membungkus kota Bandung setiap malamnya yang pastinya berhasil menusuk tulang.

“Rin? Kamu lihat bintang yang bercahaya di sana?” tanya Sudirman sambil menunjuk awan malam yang dihiasi hamparan bintang. Telihat satu bintang yang lebih bercahaya daripada bintang yang lainnya, bintang itulah yang dimaksud Sudirman.

“Lihat Pak! Cantik,” jawab Rina sambil menatapnya takjub.

“Satu hal pesan dari bapak, Rin. Bermimpilah setinggi langit! Jika memang nanti kamu gagal dalam mencapainya kamu akan jatuh di antara bintang-bintang,” papar Sudirman terdengar sangat tulus .

“Iya Pak,” Rina berkata pelan, disertai anggukan kecil.

“Rina, bapak bangga sama kamu. Kamu persis seperti ibumu, Nak,” Sudirman menghela nafas kemudian melanjutkan perkataannya.

“Baik, cantik, pintar, dan satu lagi ….”

“Satu lagi? Apa Pak?” tanya Rina dengan raut wajah yang terlihat sangat penasaran.

“Usil,” jawab Sudirman sambil mencubit pipi Rina gemas.

“Hahaha,” tawa renyah Rina memecah keheningan malam keakraban antara Rina dan Sudirman malam itu.

Tawa Rina pun mampu menghapus rasa rindu Sudirman kepada wanita yang 10 tahun lalu pergi menghadap sang pencipta. Perempuan yang berjuang demi memperkenalkan dunia kepada buah hati mereka. Perempuan yang memberikan pelajaran tentang cinta bahwa cinta tidak harus kasat mata. Cukup dengan lantunan doa yang selalu Sudirman titipkan kepada Sang Maha Pencipta.

Tak terasa bulir air mata berhasil meluncur di pipi sudirman yang mulai menua. Melihat bapaknya menangis Rina terperanjat kaget.

Loh kok bapak nangis, Rina salah, yah?” ujarnya sambil menghapus air mata bapaknya dengan tangan mungilnya sambil memikirkan apa kesalahan yang telah ia perbuat sampai membuat orang yang ia kenal kuat, menangis malam itu.

“Rina janji Pak, Rina bakal banggain ibu sama bapak. Tapi ada syaratnya,” ucap Rina tulus, diiringi senyum jahil.

“Apa syaratnya?” tanya sudirman sambil membenarkan posisi duduknya.

“Syaratnya …. Jeng jeng jeng!” nada bicara Rina membuat Sudirman semakin penasaran.

“Syaratnya bapak jangan nangis lagi,” ujar Rina diiringi senyum manis yang membuat wajahnya terlihat persis seperti ibunya.

“Mulai deh usil lagi!” jawab Sudirman gusar.

“Aamiin, bapak akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Nak” lanjutnya sambil menatap mata Rina penuh arti.

“Jangan sampai masa depanmu seperti bapak. Hanya menjadi seorang tukang becak yang penghasilan perhari nya saja tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup,” tutur Sudirman.

Di malam itulah Rina berjanji untuk membahagiakan bapaknya, dan berharap suatu hari nanti ia bisa membalas perjuangan pahlawannya itu.

Tok tok tok

Lamunan Rina seketika buyar. Tak lama Dina masuk kedalam ruangannya.

“Permisi Bu, ada Pak Sudirman. Ditunggu di ruang tamu,” ujar Dina yang tidak lain adalah sekertaris di perusahaannya.

“Oh iya, saya segera kesana. Terima kasih,” jawab Rina sambil mulai beranjak keluar ruangannya.

Pintu lift terbuka. Terlihat seorang laki-laki paruh baya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sudirman. Seseorang yang mati-matian membiayai Rina menempuh pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Seorang tukang becak yang rela menahan lapar dan dahaga untuk menyekolahkan putrinya. Seorang Jenderal Sudirman dalam hidup Rina.

“Assalamualaikum, Pak,” sapa Rina sambil meraih tangan bapaknya.

“Waalaikumussalam,” jawabnya disertai segaris senyum dibibirnya.

“Bapak kok gak bilang mau kesini? Kan bisa Rina jemput pake mobil,” tutur Rina dengan raut wajah yang sangat merasa bersalah dan khawatir.

“Gak usah, Rin. Bapak tadi dianterin supir,” jawab Sudirman sambil tersenyum lembut kepada putrinya.

“Oh gitu. Alhamdulillah,” mendengar jawaban dari mulut bapaknya, raut wajah Rina terlihat sangat lega.

“Rin, kita ke makam ibu, yuk! Kita udah lama ga kesana,” Sudirman mulai mengutarakan tujuan utamanya datang ke perusahaan putrinya itu.

“Boleh Pak, sebentar Rina bawa kunci mobil dulu,”

Di pemakaman umum inilah bidadari hati Sudirman dikebumikan. Hari ini genap 26 tahun istrinya pergi. Dan semakin dewasa juga bidadari hati keduanya. Putri kebanggaanya, Rina.

Tangan Sudirman sibuk mengelus batu nisan yang bertuliskan nama ‘Sari Pratiwi’, seorang istri yang dikenal sangat penurut, dan sangat lemah lembut.

“Sari, buah hati kita sudah mulai beranjak dewasa. Dia tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat dan cerdas sepertimu. Seadainya kau ada disini dan menyaksikan setiap prestasi yang ia raih, kau pasti bangga kepadanya,” ucap Sudirman sambil mulai menaburkan bunga mawar merah di atas pusara istrinya. Mendengar ucapan Sudirman yang terdengar sangat tulus, Rina tak kuasa menahan air mata. Dinding pertahanannya roboh, bulir air mata mulai membanjiri pipi Rina.***