[Karya Siswa] Last Chapter

Aku berlari ditengah derasnya hujan dengan seragam SMA yang basah kuyup. Sungguh nalar ku tak bisa percaya ini.  Baru sore tadi aku tertawa dan bergurau mesra dengannya di depan kelas. Bagaimana bisa kalimat menyakitkan itu keluar dari mulutnya.

  Perasaan benci dan tersakiti mendesak masuk ke dalam hati, ingin kumaki ia sekarang. Ingin kubuat ia menyesal karena memilih pergi dan meninggalkan luka hingga air mata ku sederas hujan petang. Tapi teringat olehku, mata sayu yang menatap ragu padaku. Seolah mengisyaratkan jangan pergi.

Aku berbalik dan berlari membelah hujan menuju pangkalan ojek yang tadi aku lewati, “Adnan, tunggu Dena!”

 Sudah saatnya aku mengejar apa yang aku percaya

“Bang, buah batu, yah!” pinta ku. Supir ojek itu mengiyakan dan menghidupkan motornya.

Motor bebek itu melesat cepat melewati kemacetan di tengah hujan dan sampai di Buah batu 10 menit kemudian, lebih tepatnya rumah Adnan, kekasihku.

Baru lima langkah aku masuk di pekarangan rumah Adnan, Pak Karta supir Adnan keluar sambil membopong seseorang.

“Adnan!” pekik ku spontan

“Dena?” Bunda Adnan keluar setelahnya

Aku berlari dan tanpa bertanya lagi langsung membantu Pak Karta membopong Adnan masuk ke mobil. Pikiran ku kalut, rasa benci itu hilang melihat Adnan pucat pasi dan tak sadarkan diri.

Di rumah sakit ia masuk ke ICU. Beberapa alat bantu mulai terpasang. Bunda Adnan mengelus kepala ku agar tetap kuat, lalu mengajakku berbicara. Deg, tubuhku jatuh lemas mendengar kabar Adnan. Leukimia?

Sejenak aku merasa lebih bahagia bila alasan Adnan pergi adalah wanita lain, tapi apa ini? Kabar terburuk yang mampu membuat air mataku membeku.

“Melihat keadaan Adnan sekarang, waktunya tak kurang dari dua hari,” Bunda terisak lagi.

Aku masih bersandar di dinding lorong, sesak rasanya saat rasa sakit yang kau punya tak tersalurkan lewat air mata. Mengapa harus sesingkat ini waktu yang tersisa?

Bunda Adnan memberikan secarik kertas, entah apa isinya tapi beliau bilang itu terselip di dompet Adnan. Ku buka dengan ragu, kumohon bukan surat perpisahan

Dena Planing

“Hmm?”

•••

Pagi ini aku berkomitmen bertemu dengan Adnan tanpa air mata, walau terlalu sesak menerima kenyataan tapi akan kubuat dua hari tersisa ini menjadi lebih berharga dari dua tahun yang kami jalani

Morning!” sapa ku melupakan semua kejadian kemarin

Adnan hanya tersenyum sambil melirikku. Percayalah senyum seseorang akan terasa lebih hangat saat mereka akan pergi.

Mati-matian ku tahan air mata ini, “Maaf Adnan, tapi aku tak bisa turuti permintaan mu kemarin.”

“Apa yang kamu harapkan dari lelaki sekarat, Dena?”

Plak, spontan tanganku bergerak menampar pipi Adnan. Tak peduli Bunda Adnan melihat dari balik pintu.

“Lemah! Pembohong! Mana janji itu? Janji melewati 2 tahun bersama! Janji melihat series harry potter selanjutnya! Janji…”

Tangan hangat yang tiba-tiba mendekap ku, membuat tubuh ku mematung merasa lebih nyaman. Membuat memori lama terputar kembali di benakku.

•••

Hari itu, hari jadi aku dan Adnan ke 1 tahun. Tak kusangka perkenalan garing di masa MOS berujung hubungan spesial dengannya. Bukan seperti pasangan biasanya yang memilih mengadakan pesta atau perayaan mewah, Adnan berkunjung ke rumah ku sambil membawa kaset harry potter kesukaan ku dan seblak depan sekolah. Sederhana tapi manis menurutku. Ia memang tidak menyukai film fantasi tapi manis nya Adnan tetap duduk sambil berusaha menikmati filmnya.

“Kami tau kalau jadi pemeran di film ini aku mau jadi siapa?”

“Hmm, pasti Harry Potter!”

“Sok tau!”

“Terus?” tanyaku. Padahal apa coba kurangnya Harry Potter udah ganteng, pinter, berani lagi.

“Ron Weasly,” jawabnya percaya diri

“Apa bagusnya? Udah pas-pas an, penakut lagi!”

“Kamu gak sadar? Ron itu orang terpeka di film itu.”

“Berarti kamu gak mau jadi sama Hermione? Dia kan suka Harry Potter.”

“Bukan masalah siapa suka siapa tapi siapa yang tetep bertahan.”

Aku menaikkan sebelah alis, maksudnya?

“Dasar gak peka. Liat walau ketutup sifat penakutnya, tapi perasaan suka nya sama Hermione gak bakal ketutup.”

Aku mengedip-ngedipkan mata beberapa kali sambil berpikir

“Perhatiin deh, semakin banyak Hermione muji Harry Potter, makin keras juga Ron berusaha buat jadi yang Hermione mau.”

Adnan mengerti sifat lemot kekasihnya.

“Maksudnya yang gak menonjol diawal bukan berarti gak penting, tapi ia lagi berproses jadi lebih baik buat gadisnya. Ngerti?”

Enggak sangka Adnan bisa jadi sedalem itu kalau ngomong, “Bisa puitis juga ternyata.”

“Mau bukti? Inget gak pas kamu naksir berat sama senior basket disekolah?”

“Inget, lagian kenapa bahas dia?”

“Anggap dia Harry Potter, sempurna sih. Tapi lihat sekarang siapa yang duduk nemenin kamu makan seblak sambil nonton film sihir gak jelas gini?’

“Lalu?”

“Inget ucapan aku, di chapter terakhir film ini Ron yang bakalan dapetin Hermione.”

“Sutradaranya siapa ya, Mas?” ledek ku sambil terkekeh.

Tapi Adnan tetap percaya diri dengan prediksi nya, sejak saat itu kami tak pernah absen melihat chapter-chapter selanjutnya.

“Kalau aku benar, pergi ke tempat tinggi yang bisa kamu capai dan teriak nama aku sekenceng-kencengnya, gimana?”

“Tau aja kelemahan ku. Tapi siapa takut? Terus kalau kamu salah?”

“Aku bakal pake baju Harry Potter dan keliling alun-alun sama kamu.”  

Konyol! Aku hanya terkekeh tiap mengingat perjanjian itu.

•••

Aku menghela nafas sambil tersenyum menatap layar TV, dia berhasil menjadi sutradara dadakan.

Hari ini, setelah beberapa bulan menunggu chapter terakhir itu rilis, aku bisa menontonnya sambil memakan seporsi seblak hangat dari depan sekolah.

Tiba-tiba aku teringat perjanjian itu, langsung aku berlari menuju balkon kamar tertinggi di rumah ini, setidaknya hanya itu tempat tinggi yang bisa aku capai. 

Ku tarik nafasku dalam-dalam agar bisa berteriak keras hingga bisa terdengar di langit ke-7.

“Hei Adnan Widya Nugroho! Kamu menang!”

Setelah itu ku keluarkan sepucuk surat dari saku jaket, surat yang Bunda Adnan berikan saat malam terakhir aku singgah di rumah sakit.

“Baca surat itu saat hari jadi kalian.”ujar Bunda saat itu.

Dena, Hermionenya Adnan

Biar kutebak pasti aku yang menang kan? Maafkan aku Dena, mungkin tak bisa menonton chapter terakhir itu nanti, maaf tak bisa memenuhi janji bila ternyata memang aku yang kalah. Tapi percaya itu bukan kehendak ku untuk pergi. Kumohon jangan terlalu cepat terpikir olehmu untuk menyusul, bahagialah dulu kau di Bumi. Tetes demi tetes air mata mengalir lagi dipipiku, tapi aku janji ini air mata terakhirku untukmu. Seperti pelangi yang muncul setelah hujan badai, aku janji Adnan akan tetap bahagia bahkan setelah kepergianmu.****