[Karya Siswa] Perpisahan

Pagi cerah udara yang sejuk. Aku terbangun dari tidur cantikku. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan tidak lupa membereskannya. Setelah membereskan tempat tidur, aku langsung memasuki kamar mandi. Selesai mandi, aku segera berpakaian seragam sekolah dan siap untuk sarapan pagi.

“Pagi, Bi. Pagi, Ella. Hari ini kita sarapan apa?”

“Pagi sayang. Hari ini kita sarapam roti dengan telur dan sayur. Kesukaanmu sayang.”

“Wah, terimakasih, Bi.”

Ella adikku. Ia memang jarang berbicara semenjak orang tua kami bertengkar hebat hingga mereka cerai. Ia masih tidak bisa menerimanya. Aku pun bergitu. Aku sangat merindukan mereka.

Orang tua kami berpisah karena ibuku terlilit dengan hutang yang banyak jumlahnya. Kami sudah menjual semua harta yang kami miliki. Sampai kami harus meminjam uang ke saudara kami yang berada di Malang.

***

14 September

Pagi hari, kami sarapan bersama di meja makan. Saat itu kami sangat bergembira karena hari itu hari ulang tahun Ella yang ke-11. Di sana kami saling bergurau, canda tawa memenuhi ruang makan di pagi hari.

“Ma, Pa, Gita sama Ella pergi sekolah dulu, ya!” ucapku sambil menyalami orang tua kami

“Ia, Nak. Hati-hati, ya! Belajar yang benar!” jawab Papa sambil melambaikan tangan

Aku, Ella, dan Bibi segera meninggalkan mereka untuk pergi sekolah. Sesampai di sekolah kami berpamitan pada Bibi, dan segera memasuki sekolah.

13.45

Bel pulang sudah berbunyi menandakan bahwa pelajaran untuk hari ini sudah selesai. Aku segera membereskan buku dan peralatan yang lain ke dalam tas. Selesai membereskan tas, aku segera beranjak keluar kelas dan menjemput adikku di SD.

“Ella! Ayo kita pulang. Kita rayakan ulang tahunmu malam ini.”

“Iya, kak! Ayo kita segera pulang. Aku tak sabar mendapatkan kado apa di ulang tahunku hari ini,” jawab Ella dengan antusias.

Kami pulang dijemput oleh Bibi dengan mobil. Sesampainya di rumah, kami segera mengetuk pintu rumah dan masuk ke dalam.

“Papa, Mam….” aku memotong kalimatku karena aku mendengar seseorang menangis. Terdengar seperti suara tangisan Mama. Astaga Tuhan apa yang terjadi dengan Mama.

“Mama…. Mama.. Mama dimana?” aku membanting tas ku kesembarang arah untuk mencari mama, dan mendapatkannya sedang tertunduk di dalam kamar mandi.

“Ma, apa yang terjadi? Mama jangan nangis. Hari ini mama harusnya senang, karena Ella ulang tahun,” ucapku menenangkan mama yang masih terisak-isak

“Ka, mama cuman minta satu. Tinggalkan mama sebentar aja, ya.” jawab mama

“Baiklah kalau itu mau Mama,” aku pergi dari kamar mamdi meninggalkan mama yang masih menangis. Entah mengapa mama menangis.

Aku tak menemukan batang hidung Papa di rumah. Mungkin Papa sedang pergi menyiapkan kado untuk Ella. Aku sangat tidak sabar untuk merayakannya.

Malam pun tiba. Waktu sudah menunjukan pukul 10.00, tetapi papa belum juga pulang. Selama itu kah papa menyiapkan ulang tahun Ella?

“Kak, papa sama mama lupa ya hari ini hari ulang tahunku? Sudah jam segini dan papa belum pulang. Mama juga masih di kamar tidak ingin di ganggu. Bagaimana nih Kak?” tanya adikku dengan wajah sedihnya.

“Tunggu sebentar ya. Papa mungkin bentar lagi sampai,” jawabku lesu

Hari pun berganti. Kemarin kami tidak merayakan ulang tahun Ella karena keadaan yang tiba-tiba berubah. Malam itu aku mendengar seperti ada orang sedang perang lidah

Pagi ini kami memulai hari seperti biasa, tetapi ada yang berubah. Suasananya. Ya suasananya berubah menjadi dingin. Apa yang terjadi? Biasanya Papa dan Mama sangat ceria, tetapi kali ini tak ada satu pun yang tersenyum terkecuali aku.

“Selesai. Pa, Ma, Gita dan Ella pergi sekolah dulu ya.” ucapku memecahkan keheningan sambil menyimpan piring ke tempat cucian.

Tak ada satu pun orang menanggapi ucapanku. Aku segera keluar dari ruang makan menuju teras rumah untuk siap pergi ke sekolah diikuti dengan Ella. Disitu Bibi sudah menunggu bersama sopir kami. Selesai memakai sepatu, kami segera masuk ke dalam mobil dan berangkat ke sekolah.

Sesampainya kami di sekolah, kami langsung turun dari mobil dan memasuki halaman sekolah. Hari itu aku sangat bertanya-tanya mengapa suasana tadi pagi begitu dingin.

“Gita! Dari tadi saya liat kamu ngelamun terus! Ga biasanya kamu kayak gini. Perhatikan dahulu pelajaran saya!”

“Maaf, Bu.” Jawabku singkat. Ya memang tak biasanya aku melamun. Aku pun segera memperhatikan guru.

13.45

Seperti biasanya aku pulang lalu menjemput Ella. Saat aku menjemputnya, terlihat jelas wajahnya yang tidak bersemangat. Apakah dia sakit? Semoga tidak

“Ella, kok lesu sih? Kenapa? Kecapean ya? Ayo kita pulang. Papa dan Mama pasti sudah menunggu kita.”

“Malas pulang, Kak,” jawab Ella membuatku tersentak kaget.

“Loh ada apa? Apa karena kemarin ulang tahunmu tidak dirayakan?”

Ella menjawab hanya dengan menggelengkan kepala. Apa karena tadi pagi? Ya, mungkin karena itu. Aku juga begitu. Jemputan kami sudah menunggu. Kami segera masuk ke dalm mobil dan pulang ke rumah.

Sesampainya kami di rumah, kami hanya mendengar orang bertengkar. Apakah itu Papa dan Mama? Karena penasaran aku langsung masuk ke rumah, tetapi langkahku tertahan oleh Bibi.

“Jangan ke atas. Biarkan mereka menyelesaikan urusannya dahulu,” ucap Bibi. Aku hanya bisa menuruti apa kata Bibi. Bagiku Bibi sudah seperti keluargaku karena ia yang mengurusku dari aku bayi hingga aku duduk di bangku SMP.

Pertengkaran antara Papa dan Mama sudah tidak terdengar lagi. Aku pun segera menuju lantai atas untuk melihat keadaan. Tak ada satupun disitu. Aku memasuki kamar orangtuaku. Di sana terlihat Mama seperti sedang memasuki baju-bajunya seperti akan kabur dari rumah.

“Ma, mau kemana? Kok bawa baju segala?” tanyaku hanya ingin memastikan bahwa mama tidak akan kabur.

“Biarkan. Jangan ganggu Mamamu,” jawab Papa singkat dengan tatapan tajam pada mama. Sepertinya aku harus segera keluar dari kamar mereka.

Seperti dugaanku, mama langsung membawa tasnya yang berisi pakain. Mama membawa tas tersebut dengan mata yang berkaca-kaca. Aku ingin memberhentikan Mama, tapi usahaku gagal ketika ada sebuah tangan kekar menggenggam pergelangan tanganku. Ya, itu Papa. Aku melihat wajah Papa yang penuh dengan amarah.

“Kenapa?” tanyaku singkat.

Tak lama kemudian aku mendengar suara pintu yang dibanting sangat keras. Ya, saat itu adalah terakhir kalinya aku bisa melihat Mama. Melihat situasi seperti itu aku langsung memasuki kamarku dan menangis. Aku berharap agar ini hanya mimpi. Saat itu aku hanya bisa menangis dan menangis.

Aku tak bisa behenti menangis. Ya, siapa yang tidak menangis di saat kalian ditinggalkan oleh orang yang sangat kalian sayang? Pasti kalian juga menangis. Terutama di saat kalian sangat membutuhkan mereka, tetapi seketika mereka pergi. Terasa sesak di dadaku. Tak henti-hentinya aku menangis. Tak lama kemudian Ella memasuki kamarku.

“Udah ka jangan nangis lagi. Kakak harus kuat. Ella juga ga nangis lagi kok. Kita mendingan tidur. Siapa tau ini mimpikan?” ucap Ella menenangkanku. Aku pun segera tidur bersama Ella.

Terbangun dari tidurku, aku segera pergi ke kamar Mama memastikan bahwa Mama masih di sini. Hasilnya nihil. Mama tidak ada di situ. Aku pun langsung mencari-cari ke semua ruangan di rumahku, dan tetap hasilnya nihil. Ternyata benar tadi itu kejadian nyata.

“Ngapain kamu cari Mama? Mamakan udah pergi dari sini. Toh kamu juga melihatnya,” ucap Papa sambil membaca koran hariannya.

Aku tidak menggubris ucapan Papa. Kesal bercampur sedih pun bersatu. Mengapa Papa tiba-tiba berubah seperti ini? Biasanya Papa sayang sekali dengam Mama. Entahlah karena masalah ini jadi berubah.

Keesokan harinya, Papa meminta agar aku dan Ella tidak sekolah karena akan mengurus masalah ini. Padahal aku belum mengetahui apa masalahnya. Pagi itu aku disuruh untuk mengemas semua bajuku. Aku bingung, apakah aku diusir dari rumah?

“Kalian harus siap untuk pisah ya dari mama,” ucapan Papa tiba-tiba membuatku bertanya-tanya mengapa.

“Kenapa?” tanyaku sinis.

“Hanya ingin memberi tahu, Mama sama Papa mau cerai,” jawab Papa membuatku kaget. Apa karena masalah itu Papa dan Mama ingin cerai?

“Yaudah si. Kan kita ada Bibi yang lebih sayang, Ka. Gitu aja dipeduliin,” jawab adikku ketus sambil pergi keluar kamar menuju lantai bawah.

Tak biasanya Ella membalas perkataan orang dengan jawaban seperti itu. Mungkin karena dia kesal. Aku hanya bisa diam dan melanjutkan mengemaskan pakaianku. Selesai mengemaskan pakaian, aku segera menuju lantai bawah. Di depan rumah sudah ada Bibi yang menunggu.

“Ayo, kita pergi ke rumah Uwa Rudi. Mulai sekarang kita akan tinggal disana,” ucap Bibi membuatku bingung. Kenapa kita pindah kesana? Apa rumah ini akan dijual?

“Kenapa kita pindah, Bi?” tanyaku

“Mamamu punya hutang yang cukup banyak. Jadi rumah ini akan dijual untuk menebus hutang Mamamu. Sudah jangan berlama-lama kita harus segera kesana,” jawab Bibi sambil mengambil barang-barang milik kami.

Hari itu hari terakhir aku tinggal di rumah itu. Rumah dengan banyak kenangan indah. Aku masih ingat saat merayakan hari ulang tahunku yang ke-12. Aku dibelikan barang yang sangat aku inginkan. Sangat senang rasanya mendapat barang yang kita inginkan dari orang yang kita sayang.

Aku masih mengingat saat Ella mengalami patah tulang. Saat itu kami bersedih tapi kami tetap bisa tersenyum. Aku masih mengingat saat keluarga besarku dari Malang datang ke Bandung untuk beribur. Pengalaman itu tak bisa hilang dari benakku.

Sesampainya kami di rumah Uwa  Rudi, kami segera menurunkan barang kami.

***

Mulai saat itu juga aku tinggal di rumahnya, selama orangtuaku mengurus surat cerai mereka. Hingga surat cerai mereka keluar dan sayangnya tidak ada satupun dari mereka ingin mengurus kami. Jadi saat itu Bibi memutuskan untuk mengurus kami.

Sekarang aku dan Ella tidak lagi dilayani tetapi kami harus bisa mandiri. Aku dan Ella tidak lagi tinggal di kota, di mana di sana banyak mall. Aku dan Ella pun pindah sekolah dari sekolah kami yang bisa dibilang untuk menengah keatas. Sekarang kami bersekolah di sekolah menengah ke bawah.

Kami tidak tahu lagi bagaimana kabar Papa dan Mama sekarang. Yang aku tahu hanya Papa tinggal di Jakarta bersama Om Tristan dan Mama bekerja di salah satu panti jompo di Bandung. Aku sendiri sekarang berada di Tasikmalaya. Hidup bagaikan roda yang berputar. Ada saatnya kita di atas dan ada saatnya kita di bawah. Semua orang pasti pernah mengalaminya juga. Apa yang aku alami sekarang, aku sedang dibagian bawahnya yang harus merasakan sakitnya tertekan jalan yang berbatu