Akademik

PAS Berbasis Digital SMANSA

PAS dilaksanakan pada tanggal 2 s.d 8 Desember 2019

Server CBT yang akan digunakan untuk PAS
KELAS X : 192.168.10.11
KELAS XI : 192.168.10.12
KELAS XII : 192.168.10.13

Siswa XII SMAN 1 Bandung Kenali Universitas Indonesia

SMANSA Bandung, – Tidak sedikit jumlah mahasiswa yang kuliah di jurusan yang bukan minatnya, namun mereka “terpaksa” duduk di bangku kuliah sampai selesai dengan beberapa alasan yang sulit di deskripsikan. Dilema memilih jurusan menjadi momok tersendiri bagi siswa SMA ketika hendak lulus sekolah. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki gambaran akan jurusan yang akan dituju karena kurangnya informasi tentang kampus dan berbagai jurusan didalamnya. Alhasil, siswa akan terpencar, ada yang ikut-ikutan, ada yang ikut kemauan orang tua, dan ada yang ikut tren kebanyakan orang.

Salah satu kompetensi dasar peserta di di k kelas XII adalah mampu membuat keputusan karir secara tepat. Informasi karir termasuk komponen utama dalam meningkatkan keyakinan pada proses membuat keputusan karir. Hal itu dapat difasilitasi melalui kegiatan Visiting Campus “SMANSA THE NEXT UI GENERATION”. Kegiatan tersebut bertujuan agar peserta didik memperoleh informasi perguruan tinggi, info fakultas/jurusan, iklim perkuliahan, dan jalur masuk perguruan tinggi yang dapat meningkatkan motivasi peserta didik agar semakin bersemangat berjuang dan mewujudkan impian karirnya.

SMA Negeri 1 Bandung melaksanakan kegiatan Goes to Campus Universitas Indonesia (28/11/2019). Rangkaian kegiatan ini antara lain pengenalan PMB/ SIMAK UI, pengenalan profil UI, perpustakaan UI dan Program Studi yang ada di UI. Selain itu juga, kegiatan ini didukung oleh para alumni yang tengah kuliah di UI untuk sharing terkait living cost daerah kampus UI. (RR)

SMAN 1 Bandung sebagai Sekolah Berbasis TIK pada Anugerah Atikan JABAR 2019

SMANSA Bandung, – Untuk mewujudkan layanan pendidikan bermutu, mudah diakses, dan terjangkau bagi semua, SMA Negeri 1 Bandung membangun sebuah sekolah berbasis TIK dalam sebagai wujud penerapan visi dan misi SMA Negeri 1 Bandung yaitu menerapkan sekolah berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). SMA Negeri 1 Bandung terus berbenah diri guna tercapainya sekolah yang Menerapkan Digital Smart School, Dalam penerapan Digital Smart School SMA Negeri 1 Bandung penerapannya melalui tiga hal yaitu menerapkan e-learning dan UKBM digital, menerapkan bimbingan dan konseling berbasis TIK dan menerapkan pelayanan administrasi digital.

Kepala SMA Negeri 1 Bandung sangat paham betul terhadap perkembangan abad 21 yang mana sekolah dituntut untuk menyesuaikan perkembangan zaman dan ekosistem pembelajaran yang berbeda. “Saya mengetahui betul masalah kebutuhan sekolah dalam perkembangan abad 21 ini” Ujar Kepala Sekolah SMAN 1 Bandung

Saat ini, tahun 2019 SMA Negeri 1 Bandung dalam penerapan sekolah berbasis TIK telah mencapai sekitar 90% dengan penerapan pembelajaran secara digital dengan adanya LMS dan Ujian Online (CBT) juga dengan adanya sistem administrasi lainnya. Kami mempunyai target pada tahun 2021 100% telah menerapkan sekolah berbasis TIK sebagai sekolah percontohan Digital Smart School di Indonesia.

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menggelar kompetisi Anugerah Atikan Jabar 2019 dengan mengusung Karya Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan se-Jawa Barat pada tanggal 20-22 November 2019 di Grand Hotel Lembang Bandung Barat. Indonesia merupakan negara dengan Sumber Daya Alam (SDA) berlimpah. Kekayaan yang dimiliki Bangsa Indonesia akan terus berkurang dan cenderung dimanfaatkan pihak-pihak lain (asing) bila tidak diimbangi oleh daya saing anak bangsa. Berdasarkan fenomena di atas, perlu dilakukan upaya-upaya untuk menumbuhkembangkan peran serta masyarakat dalam menanggulangi permasalahan yang ada. Untuk itu, perlu diselenggarakan kegiatan Lomba Karya “ANUGERAH ATIKAN JABAR” dengan tema “Inovasi Teknologi dalam Pembelajaran di era Industri 4.0”. Salah satu mata lomba yang dilombakan adalah Sekolah Berbasis TIK.

Alhamdulillah, dalam Anugerah Atikan JABAR 2019 SMA Negeri 1 Bandung menperoleh Juara 1 sebagai Sekolah Berbasis TIK. Mata Lomba Sekolah Berbasis TIK ini diikuti oleh 6 finalis yang telah lulus pada tahap proposal atau dokumen lomba dari 20 sekolah yang mendaftar. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana para pemangku kepentingan (stakeholders) pendidikan saling bertukar pikir, asah, asih dan asuh untuk bersama memikirkan masa depan bangsa melalui pendidikan. Selain itu, lewat kegiatan ini stakeholders pendidikan dapat saling berkompetisi secara obyektif dan ilmiah untuk terus menelurkan ide-ide inovatif  bagi kemajuan Bangsa dan Negara. (RR)

[Karya Siswa] Last Chapter

Aku berlari ditengah derasnya hujan dengan seragam SMA yang basah kuyup. Sungguh nalar ku tak bisa percaya ini.  Baru sore tadi aku tertawa dan bergurau mesra dengannya di depan kelas. Bagaimana bisa kalimat menyakitkan itu keluar dari mulutnya.

  Perasaan benci dan tersakiti mendesak masuk ke dalam hati, ingin kumaki ia sekarang. Ingin kubuat ia menyesal karena memilih pergi dan meninggalkan luka hingga air mata ku sederas hujan petang. Tapi teringat olehku, mata sayu yang menatap ragu padaku. Seolah mengisyaratkan jangan pergi.

Aku berbalik dan berlari membelah hujan menuju pangkalan ojek yang tadi aku lewati, “Adnan, tunggu Dena!”

 Sudah saatnya aku mengejar apa yang aku percaya

“Bang, buah batu, yah!” pinta ku. Supir ojek itu mengiyakan dan menghidupkan motornya.

Motor bebek itu melesat cepat melewati kemacetan di tengah hujan dan sampai di Buah batu 10 menit kemudian, lebih tepatnya rumah Adnan, kekasihku.

Baru lima langkah aku masuk di pekarangan rumah Adnan, Pak Karta supir Adnan keluar sambil membopong seseorang.

“Adnan!” pekik ku spontan

“Dena?” Bunda Adnan keluar setelahnya

Aku berlari dan tanpa bertanya lagi langsung membantu Pak Karta membopong Adnan masuk ke mobil. Pikiran ku kalut, rasa benci itu hilang melihat Adnan pucat pasi dan tak sadarkan diri.

Di rumah sakit ia masuk ke ICU. Beberapa alat bantu mulai terpasang. Bunda Adnan mengelus kepala ku agar tetap kuat, lalu mengajakku berbicara. Deg, tubuhku jatuh lemas mendengar kabar Adnan. Leukimia?

Sejenak aku merasa lebih bahagia bila alasan Adnan pergi adalah wanita lain, tapi apa ini? Kabar terburuk yang mampu membuat air mataku membeku.

“Melihat keadaan Adnan sekarang, waktunya tak kurang dari dua hari,” Bunda terisak lagi.

Aku masih bersandar di dinding lorong, sesak rasanya saat rasa sakit yang kau punya tak tersalurkan lewat air mata. Mengapa harus sesingkat ini waktu yang tersisa?

Bunda Adnan memberikan secarik kertas, entah apa isinya tapi beliau bilang itu terselip di dompet Adnan. Ku buka dengan ragu, kumohon bukan surat perpisahan

Dena Planing

“Hmm?”

•••

Pagi ini aku berkomitmen bertemu dengan Adnan tanpa air mata, walau terlalu sesak menerima kenyataan tapi akan kubuat dua hari tersisa ini menjadi lebih berharga dari dua tahun yang kami jalani

Morning!” sapa ku melupakan semua kejadian kemarin

Adnan hanya tersenyum sambil melirikku. Percayalah senyum seseorang akan terasa lebih hangat saat mereka akan pergi.

Mati-matian ku tahan air mata ini, “Maaf Adnan, tapi aku tak bisa turuti permintaan mu kemarin.”

“Apa yang kamu harapkan dari lelaki sekarat, Dena?”

Plak, spontan tanganku bergerak menampar pipi Adnan. Tak peduli Bunda Adnan melihat dari balik pintu.

“Lemah! Pembohong! Mana janji itu? Janji melewati 2 tahun bersama! Janji melihat series harry potter selanjutnya! Janji…”

Tangan hangat yang tiba-tiba mendekap ku, membuat tubuh ku mematung merasa lebih nyaman. Membuat memori lama terputar kembali di benakku.

•••

Hari itu, hari jadi aku dan Adnan ke 1 tahun. Tak kusangka perkenalan garing di masa MOS berujung hubungan spesial dengannya. Bukan seperti pasangan biasanya yang memilih mengadakan pesta atau perayaan mewah, Adnan berkunjung ke rumah ku sambil membawa kaset harry potter kesukaan ku dan seblak depan sekolah. Sederhana tapi manis menurutku. Ia memang tidak menyukai film fantasi tapi manis nya Adnan tetap duduk sambil berusaha menikmati filmnya.

“Kami tau kalau jadi pemeran di film ini aku mau jadi siapa?”

“Hmm, pasti Harry Potter!”

“Sok tau!”

“Terus?” tanyaku. Padahal apa coba kurangnya Harry Potter udah ganteng, pinter, berani lagi.

“Ron Weasly,” jawabnya percaya diri

“Apa bagusnya? Udah pas-pas an, penakut lagi!”

“Kamu gak sadar? Ron itu orang terpeka di film itu.”

“Berarti kamu gak mau jadi sama Hermione? Dia kan suka Harry Potter.”

“Bukan masalah siapa suka siapa tapi siapa yang tetep bertahan.”

Aku menaikkan sebelah alis, maksudnya?

“Dasar gak peka. Liat walau ketutup sifat penakutnya, tapi perasaan suka nya sama Hermione gak bakal ketutup.”

Aku mengedip-ngedipkan mata beberapa kali sambil berpikir

“Perhatiin deh, semakin banyak Hermione muji Harry Potter, makin keras juga Ron berusaha buat jadi yang Hermione mau.”

Adnan mengerti sifat lemot kekasihnya.

“Maksudnya yang gak menonjol diawal bukan berarti gak penting, tapi ia lagi berproses jadi lebih baik buat gadisnya. Ngerti?”

Enggak sangka Adnan bisa jadi sedalem itu kalau ngomong, “Bisa puitis juga ternyata.”

“Mau bukti? Inget gak pas kamu naksir berat sama senior basket disekolah?”

“Inget, lagian kenapa bahas dia?”

“Anggap dia Harry Potter, sempurna sih. Tapi lihat sekarang siapa yang duduk nemenin kamu makan seblak sambil nonton film sihir gak jelas gini?’

“Lalu?”

“Inget ucapan aku, di chapter terakhir film ini Ron yang bakalan dapetin Hermione.”

“Sutradaranya siapa ya, Mas?” ledek ku sambil terkekeh.

Tapi Adnan tetap percaya diri dengan prediksi nya, sejak saat itu kami tak pernah absen melihat chapter-chapter selanjutnya.

“Kalau aku benar, pergi ke tempat tinggi yang bisa kamu capai dan teriak nama aku sekenceng-kencengnya, gimana?”

“Tau aja kelemahan ku. Tapi siapa takut? Terus kalau kamu salah?”

“Aku bakal pake baju Harry Potter dan keliling alun-alun sama kamu.”  

Konyol! Aku hanya terkekeh tiap mengingat perjanjian itu.

•••

Aku menghela nafas sambil tersenyum menatap layar TV, dia berhasil menjadi sutradara dadakan.

Hari ini, setelah beberapa bulan menunggu chapter terakhir itu rilis, aku bisa menontonnya sambil memakan seporsi seblak hangat dari depan sekolah.

Tiba-tiba aku teringat perjanjian itu, langsung aku berlari menuju balkon kamar tertinggi di rumah ini, setidaknya hanya itu tempat tinggi yang bisa aku capai. 

Ku tarik nafasku dalam-dalam agar bisa berteriak keras hingga bisa terdengar di langit ke-7.

“Hei Adnan Widya Nugroho! Kamu menang!”

Setelah itu ku keluarkan sepucuk surat dari saku jaket, surat yang Bunda Adnan berikan saat malam terakhir aku singgah di rumah sakit.

“Baca surat itu saat hari jadi kalian.”ujar Bunda saat itu.

Dena, Hermionenya Adnan

Biar kutebak pasti aku yang menang kan? Maafkan aku Dena, mungkin tak bisa menonton chapter terakhir itu nanti, maaf tak bisa memenuhi janji bila ternyata memang aku yang kalah. Tapi percaya itu bukan kehendak ku untuk pergi. Kumohon jangan terlalu cepat terpikir olehmu untuk menyusul, bahagialah dulu kau di Bumi. Tetes demi tetes air mata mengalir lagi dipipiku, tapi aku janji ini air mata terakhirku untukmu. Seperti pelangi yang muncul setelah hujan badai, aku janji Adnan akan tetap bahagia bahkan setelah kepergianmu.****

[Karya Siswa] Bintang dan Janji di Malam Itu

Cekitttttttt

Suara decitan roda becak yang terlihat sudah sangat tua terdengar, mendengar decitan roda becak sang bapak yang sudah tidak asing ditelinganya. Rina langsung berlari berhamburan keluar rumah.

“Bapaaaaakk!” teriak Rina girang sambil membuka pintu rumahnya.

“Bapak cape gak? Mau Rina ambilin minum?” lanjut Rina dengan antusias.

“Rina ambilin ya, Pak,” tukas Rina tanpa mempedulikan respon bapak yang terlihat sangat kelelahan.

Ia pun langsung berlari menuju meja makan dan mengambilkan segelas air putih.      Melihat tingkah anak semata wayangnya yang mulai beranjak remaja itu, Sudirman hanya bisa tersenyum sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.

“Ini Pak,” ujar Rina sambil memberikan segelas air putih kepada bapaknya.

“Aduhh, terima kasih putri bapak yang cantik,” respon Sudirman sambil membelai lembut pucuk kepala putrinya itu

Sudirman pun menghabiskan air tersebut dengan satu tegukan. Melihat cara minum sang bapak, Rina berpikir bahwa sang bapak sangat kelelahan

“Oh iya Rin, ini tadi bapak beli nasi goreng di depan, tapi maaf ya tadi bapak makan duluan. Habisnya bapak lapar,” ujar Sudirman sambil mengelap keringat di dahinya.

“Wah, makasih Pak,” tangan Rina bergerak cepat mengambil bungkusan hitam di tangan bapaknya.

Rina pun langsung membuka bungkusan kresek hitam di tangannya, dan langsung memindahkan nasi goreng yang masih hangat itu ke dalam piring plastik yang diambilnya.

Tanpa pikir panjang, Rina langsung menyantap nasi goreng kesukaannya itu. Sudirman sangat senang karena putrinya itu terlihat sangat lahap. Pikirannya pun melayang jauh teringat kejadian tadi sore di pangkalan becak.

**

Gemericik air hujan, membasahi kota kembang sore itu.

Seperti biasa tepat pukul 4 sore, juragan becak menyisir para tukang becaknya dan mengambil jatah setoran sesuai kesepakatan.

“Setoran Man!” ujar juragan becak kasar sambil menengadahkan tangannya ke depan wajah Sudirman.

“Ini juragan,” jawab Sudirman sambil memberikan dua lembar uang dua puluh ribuan.

“Aduh, masih kurang 10 ribu ini! Mana sisanya?” bentak juragan becak itu kasar.

“Maaf juragan anak saya besok harus beli buku untuk sekolah,” tutur Sudirman sambil menundukan kepalanya.

“Alah, anak tukang becak sok-sok an sekolah, sudah miskin, tak sadar diri pula. Sadar Man, kamu itu hanya tukang becak. Jangan punya mimpi terlalu tinggi untuk bisa menyekolahkan putrimu. Suruh saja anakmu kerja di warung saya,” tawar juragan becak, diiringi segaris senyum miring di bibirnya

Amarah Sudirman memuncak, kedua tangannya mengepal keras, rahangnya pun mulai mengeras menahan amarah, harga dirinya diinjak – injak ditambah anak semata wayangnya ditawarkan bekerja di warung juragannya, yang hanya diberikan upah yang tidak sebanding dengan jasa yang diberikan.

“Sampai kapanpun, saya tidak akan mengizinkan anak saya bekerja di warung juragan!” balas Sudirman sambil mengacungkan jari telunjuknya.

“Ah, cape ngomong sama kamu. Ya sudah berikan uang sepuluh ribu lagi,” kembali dibalas dengan bentakan oleh sang juragan becak.

Para tukang becak lainnya tak bisa berbuat banyak hanya bisa menonton debat arogan Sudirman yang pada dasarnya semua tukang becak sangat segan kepada juragannya itu.

Sudirman pun memberikan uang sepuluh ribuan yang ternyata uang itu adalah uang jatah nasi goreng untuk makan malamnya.

 Setelah juragan nya itu pergi, ia pun menatap nanar sisa uang di tangannya, sambil menghitung kebutuhan sekolah Rina dan uang makan malam, tak lupa jatah belanja untuk sarapan besok pagi.

Setelah dihitung, ternyata uang nya hanya cukup membeli buku untuk Rina, satu porsi nasi goreng untuk makan malam, dan beberapa ikat kangkung untuk besok sarapan.

“Malam ini akan kutahan lapar dan dahaga. Uang jatah makan malamku, akan kubelikan buku untuk Rina agar dia semakin semangat menuntut ilmu,” gumam Sudirman.

Sudirman pun mengayuh becaknya pulang ke rumah, tak lupa dengan 1 porsi nasi goreng untuk makan malam putrinya.

**

“Maafkan bapak, Rin. Hari ini bapak berbohong. Bapak hanya ingin kamu tetap sekolah, walaupun uang makan bapak setiap harinya yang menjadi jaminan,”  batin Sudirman.

“Bagaimana tadi sekolah, Rin?” tanya Sudirman sambil melirik putrinya yang telah menyantap habis nasi goreng kesukaannya.

“Mmm, gimana ya Pak…” jawab Rina dengan nada yang menggantung. Hal itu membuat Sudirman semakin penasaran dengan perkembangan belajar putrinya di sekolah.

“Rina tadi ulangan matematika Pak, terus nilai Rina …” masih dengan nada yang menggantung kemudian kepalanya mulai menunduk disertai dengan mimik wajah yang sangat sedih.

“Rina nilai 100, Pak!” jawabnya sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya disertai dengan tawa kecil yang membuat Sudirman gemas melihatnya.

“Astagfirullah Rina bapak kira nilainya kurang bagus,” respon Sudirman sambil ikut tertawa.

Setelah beberapa saat hening, Sudirman kembali memulai pembicaraan.

“Rin?” panggil Sudirman

“Iya Pak?” jawabnya lembut sambil menolehkan wajahnya ke arah pahlawan dalam hidupnya itu.

“Ikut bapak keluar sebentar, yuk!” ajaknya sambil menarik tangan Rina lembut.

Di sinilah mereka sekarang, di antara gemerlap bintang, semilir angin malam, dan hawa dingin yang membungkus kota Bandung setiap malamnya yang pastinya berhasil menusuk tulang.

“Rin? Kamu lihat bintang yang bercahaya di sana?” tanya Sudirman sambil menunjuk awan malam yang dihiasi hamparan bintang. Telihat satu bintang yang lebih bercahaya daripada bintang yang lainnya, bintang itulah yang dimaksud Sudirman.

“Lihat Pak! Cantik,” jawab Rina sambil menatapnya takjub.

“Satu hal pesan dari bapak, Rin. Bermimpilah setinggi langit! Jika memang nanti kamu gagal dalam mencapainya kamu akan jatuh di antara bintang-bintang,” papar Sudirman terdengar sangat tulus .

“Iya Pak,” Rina berkata pelan, disertai anggukan kecil.

“Rina, bapak bangga sama kamu. Kamu persis seperti ibumu, Nak,” Sudirman menghela nafas kemudian melanjutkan perkataannya.

“Baik, cantik, pintar, dan satu lagi ….”

“Satu lagi? Apa Pak?” tanya Rina dengan raut wajah yang terlihat sangat penasaran.

“Usil,” jawab Sudirman sambil mencubit pipi Rina gemas.

“Hahaha,” tawa renyah Rina memecah keheningan malam keakraban antara Rina dan Sudirman malam itu.

Tawa Rina pun mampu menghapus rasa rindu Sudirman kepada wanita yang 10 tahun lalu pergi menghadap sang pencipta. Perempuan yang berjuang demi memperkenalkan dunia kepada buah hati mereka. Perempuan yang memberikan pelajaran tentang cinta bahwa cinta tidak harus kasat mata. Cukup dengan lantunan doa yang selalu Sudirman titipkan kepada Sang Maha Pencipta.

Tak terasa bulir air mata berhasil meluncur di pipi sudirman yang mulai menua. Melihat bapaknya menangis Rina terperanjat kaget.

Loh kok bapak nangis, Rina salah, yah?” ujarnya sambil menghapus air mata bapaknya dengan tangan mungilnya sambil memikirkan apa kesalahan yang telah ia perbuat sampai membuat orang yang ia kenal kuat, menangis malam itu.

“Rina janji Pak, Rina bakal banggain ibu sama bapak. Tapi ada syaratnya,” ucap Rina tulus, diiringi senyum jahil.

“Apa syaratnya?” tanya sudirman sambil membenarkan posisi duduknya.

“Syaratnya …. Jeng jeng jeng!” nada bicara Rina membuat Sudirman semakin penasaran.

“Syaratnya bapak jangan nangis lagi,” ujar Rina diiringi senyum manis yang membuat wajahnya terlihat persis seperti ibunya.

“Mulai deh usil lagi!” jawab Sudirman gusar.

“Aamiin, bapak akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Nak” lanjutnya sambil menatap mata Rina penuh arti.

“Jangan sampai masa depanmu seperti bapak. Hanya menjadi seorang tukang becak yang penghasilan perhari nya saja tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup,” tutur Sudirman.

Di malam itulah Rina berjanji untuk membahagiakan bapaknya, dan berharap suatu hari nanti ia bisa membalas perjuangan pahlawannya itu.

Tok tok tok

Lamunan Rina seketika buyar. Tak lama Dina masuk kedalam ruangannya.

“Permisi Bu, ada Pak Sudirman. Ditunggu di ruang tamu,” ujar Dina yang tidak lain adalah sekertaris di perusahaannya.

“Oh iya, saya segera kesana. Terima kasih,” jawab Rina sambil mulai beranjak keluar ruangannya.

Pintu lift terbuka. Terlihat seorang laki-laki paruh baya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sudirman. Seseorang yang mati-matian membiayai Rina menempuh pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Seorang tukang becak yang rela menahan lapar dan dahaga untuk menyekolahkan putrinya. Seorang Jenderal Sudirman dalam hidup Rina.

“Assalamualaikum, Pak,” sapa Rina sambil meraih tangan bapaknya.

“Waalaikumussalam,” jawabnya disertai segaris senyum dibibirnya.

“Bapak kok gak bilang mau kesini? Kan bisa Rina jemput pake mobil,” tutur Rina dengan raut wajah yang sangat merasa bersalah dan khawatir.

“Gak usah, Rin. Bapak tadi dianterin supir,” jawab Sudirman sambil tersenyum lembut kepada putrinya.

“Oh gitu. Alhamdulillah,” mendengar jawaban dari mulut bapaknya, raut wajah Rina terlihat sangat lega.

“Rin, kita ke makam ibu, yuk! Kita udah lama ga kesana,” Sudirman mulai mengutarakan tujuan utamanya datang ke perusahaan putrinya itu.

“Boleh Pak, sebentar Rina bawa kunci mobil dulu,”

Di pemakaman umum inilah bidadari hati Sudirman dikebumikan. Hari ini genap 26 tahun istrinya pergi. Dan semakin dewasa juga bidadari hati keduanya. Putri kebanggaanya, Rina.

Tangan Sudirman sibuk mengelus batu nisan yang bertuliskan nama ‘Sari Pratiwi’, seorang istri yang dikenal sangat penurut, dan sangat lemah lembut.

“Sari, buah hati kita sudah mulai beranjak dewasa. Dia tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat dan cerdas sepertimu. Seadainya kau ada disini dan menyaksikan setiap prestasi yang ia raih, kau pasti bangga kepadanya,” ucap Sudirman sambil mulai menaburkan bunga mawar merah di atas pusara istrinya. Mendengar ucapan Sudirman yang terdengar sangat tulus, Rina tak kuasa menahan air mata. Dinding pertahanannya roboh, bulir air mata mulai membanjiri pipi Rina.***

[Karya Siswa] Perpisahan

Pagi cerah udara yang sejuk. Aku terbangun dari tidur cantikku. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan tidak lupa membereskannya. Setelah membereskan tempat tidur, aku langsung memasuki kamar mandi. Selesai mandi, aku segera berpakaian seragam sekolah dan siap untuk sarapan pagi.

“Pagi, Bi. Pagi, Ella. Hari ini kita sarapan apa?”

“Pagi sayang. Hari ini kita sarapam roti dengan telur dan sayur. Kesukaanmu sayang.”

“Wah, terimakasih, Bi.”

Ella adikku. Ia memang jarang berbicara semenjak orang tua kami bertengkar hebat hingga mereka cerai. Ia masih tidak bisa menerimanya. Aku pun bergitu. Aku sangat merindukan mereka.

Orang tua kami berpisah karena ibuku terlilit dengan hutang yang banyak jumlahnya. Kami sudah menjual semua harta yang kami miliki. Sampai kami harus meminjam uang ke saudara kami yang berada di Malang.

***

14 September

Pagi hari, kami sarapan bersama di meja makan. Saat itu kami sangat bergembira karena hari itu hari ulang tahun Ella yang ke-11. Di sana kami saling bergurau, canda tawa memenuhi ruang makan di pagi hari.

“Ma, Pa, Gita sama Ella pergi sekolah dulu, ya!” ucapku sambil menyalami orang tua kami

“Ia, Nak. Hati-hati, ya! Belajar yang benar!” jawab Papa sambil melambaikan tangan

Aku, Ella, dan Bibi segera meninggalkan mereka untuk pergi sekolah. Sesampai di sekolah kami berpamitan pada Bibi, dan segera memasuki sekolah.

13.45

Bel pulang sudah berbunyi menandakan bahwa pelajaran untuk hari ini sudah selesai. Aku segera membereskan buku dan peralatan yang lain ke dalam tas. Selesai membereskan tas, aku segera beranjak keluar kelas dan menjemput adikku di SD.

“Ella! Ayo kita pulang. Kita rayakan ulang tahunmu malam ini.”

“Iya, kak! Ayo kita segera pulang. Aku tak sabar mendapatkan kado apa di ulang tahunku hari ini,” jawab Ella dengan antusias.

Kami pulang dijemput oleh Bibi dengan mobil. Sesampainya di rumah, kami segera mengetuk pintu rumah dan masuk ke dalam.

“Papa, Mam….” aku memotong kalimatku karena aku mendengar seseorang menangis. Terdengar seperti suara tangisan Mama. Astaga Tuhan apa yang terjadi dengan Mama.

“Mama…. Mama.. Mama dimana?” aku membanting tas ku kesembarang arah untuk mencari mama, dan mendapatkannya sedang tertunduk di dalam kamar mandi.

“Ma, apa yang terjadi? Mama jangan nangis. Hari ini mama harusnya senang, karena Ella ulang tahun,” ucapku menenangkan mama yang masih terisak-isak

“Ka, mama cuman minta satu. Tinggalkan mama sebentar aja, ya.” jawab mama

“Baiklah kalau itu mau Mama,” aku pergi dari kamar mamdi meninggalkan mama yang masih menangis. Entah mengapa mama menangis.

Aku tak menemukan batang hidung Papa di rumah. Mungkin Papa sedang pergi menyiapkan kado untuk Ella. Aku sangat tidak sabar untuk merayakannya.

Malam pun tiba. Waktu sudah menunjukan pukul 10.00, tetapi papa belum juga pulang. Selama itu kah papa menyiapkan ulang tahun Ella?

“Kak, papa sama mama lupa ya hari ini hari ulang tahunku? Sudah jam segini dan papa belum pulang. Mama juga masih di kamar tidak ingin di ganggu. Bagaimana nih Kak?” tanya adikku dengan wajah sedihnya.

“Tunggu sebentar ya. Papa mungkin bentar lagi sampai,” jawabku lesu

Hari pun berganti. Kemarin kami tidak merayakan ulang tahun Ella karena keadaan yang tiba-tiba berubah. Malam itu aku mendengar seperti ada orang sedang perang lidah

Pagi ini kami memulai hari seperti biasa, tetapi ada yang berubah. Suasananya. Ya suasananya berubah menjadi dingin. Apa yang terjadi? Biasanya Papa dan Mama sangat ceria, tetapi kali ini tak ada satu pun yang tersenyum terkecuali aku.

“Selesai. Pa, Ma, Gita dan Ella pergi sekolah dulu ya.” ucapku memecahkan keheningan sambil menyimpan piring ke tempat cucian.

Tak ada satu pun orang menanggapi ucapanku. Aku segera keluar dari ruang makan menuju teras rumah untuk siap pergi ke sekolah diikuti dengan Ella. Disitu Bibi sudah menunggu bersama sopir kami. Selesai memakai sepatu, kami segera masuk ke dalam mobil dan berangkat ke sekolah.

Sesampainya kami di sekolah, kami langsung turun dari mobil dan memasuki halaman sekolah. Hari itu aku sangat bertanya-tanya mengapa suasana tadi pagi begitu dingin.

“Gita! Dari tadi saya liat kamu ngelamun terus! Ga biasanya kamu kayak gini. Perhatikan dahulu pelajaran saya!”

“Maaf, Bu.” Jawabku singkat. Ya memang tak biasanya aku melamun. Aku pun segera memperhatikan guru.

13.45

Seperti biasanya aku pulang lalu menjemput Ella. Saat aku menjemputnya, terlihat jelas wajahnya yang tidak bersemangat. Apakah dia sakit? Semoga tidak

“Ella, kok lesu sih? Kenapa? Kecapean ya? Ayo kita pulang. Papa dan Mama pasti sudah menunggu kita.”

“Malas pulang, Kak,” jawab Ella membuatku tersentak kaget.

“Loh ada apa? Apa karena kemarin ulang tahunmu tidak dirayakan?”

Ella menjawab hanya dengan menggelengkan kepala. Apa karena tadi pagi? Ya, mungkin karena itu. Aku juga begitu. Jemputan kami sudah menunggu. Kami segera masuk ke dalm mobil dan pulang ke rumah.

Sesampainya kami di rumah, kami hanya mendengar orang bertengkar. Apakah itu Papa dan Mama? Karena penasaran aku langsung masuk ke rumah, tetapi langkahku tertahan oleh Bibi.

“Jangan ke atas. Biarkan mereka menyelesaikan urusannya dahulu,” ucap Bibi. Aku hanya bisa menuruti apa kata Bibi. Bagiku Bibi sudah seperti keluargaku karena ia yang mengurusku dari aku bayi hingga aku duduk di bangku SMP.

Pertengkaran antara Papa dan Mama sudah tidak terdengar lagi. Aku pun segera menuju lantai atas untuk melihat keadaan. Tak ada satupun disitu. Aku memasuki kamar orangtuaku. Di sana terlihat Mama seperti sedang memasuki baju-bajunya seperti akan kabur dari rumah.

“Ma, mau kemana? Kok bawa baju segala?” tanyaku hanya ingin memastikan bahwa mama tidak akan kabur.

“Biarkan. Jangan ganggu Mamamu,” jawab Papa singkat dengan tatapan tajam pada mama. Sepertinya aku harus segera keluar dari kamar mereka.

Seperti dugaanku, mama langsung membawa tasnya yang berisi pakain. Mama membawa tas tersebut dengan mata yang berkaca-kaca. Aku ingin memberhentikan Mama, tapi usahaku gagal ketika ada sebuah tangan kekar menggenggam pergelangan tanganku. Ya, itu Papa. Aku melihat wajah Papa yang penuh dengan amarah.

“Kenapa?” tanyaku singkat.

Tak lama kemudian aku mendengar suara pintu yang dibanting sangat keras. Ya, saat itu adalah terakhir kalinya aku bisa melihat Mama. Melihat situasi seperti itu aku langsung memasuki kamarku dan menangis. Aku berharap agar ini hanya mimpi. Saat itu aku hanya bisa menangis dan menangis.

Aku tak bisa behenti menangis. Ya, siapa yang tidak menangis di saat kalian ditinggalkan oleh orang yang sangat kalian sayang? Pasti kalian juga menangis. Terutama di saat kalian sangat membutuhkan mereka, tetapi seketika mereka pergi. Terasa sesak di dadaku. Tak henti-hentinya aku menangis. Tak lama kemudian Ella memasuki kamarku.

“Udah ka jangan nangis lagi. Kakak harus kuat. Ella juga ga nangis lagi kok. Kita mendingan tidur. Siapa tau ini mimpikan?” ucap Ella menenangkanku. Aku pun segera tidur bersama Ella.

Terbangun dari tidurku, aku segera pergi ke kamar Mama memastikan bahwa Mama masih di sini. Hasilnya nihil. Mama tidak ada di situ. Aku pun langsung mencari-cari ke semua ruangan di rumahku, dan tetap hasilnya nihil. Ternyata benar tadi itu kejadian nyata.

“Ngapain kamu cari Mama? Mamakan udah pergi dari sini. Toh kamu juga melihatnya,” ucap Papa sambil membaca koran hariannya.

Aku tidak menggubris ucapan Papa. Kesal bercampur sedih pun bersatu. Mengapa Papa tiba-tiba berubah seperti ini? Biasanya Papa sayang sekali dengam Mama. Entahlah karena masalah ini jadi berubah.

Keesokan harinya, Papa meminta agar aku dan Ella tidak sekolah karena akan mengurus masalah ini. Padahal aku belum mengetahui apa masalahnya. Pagi itu aku disuruh untuk mengemas semua bajuku. Aku bingung, apakah aku diusir dari rumah?

“Kalian harus siap untuk pisah ya dari mama,” ucapan Papa tiba-tiba membuatku bertanya-tanya mengapa.

“Kenapa?” tanyaku sinis.

“Hanya ingin memberi tahu, Mama sama Papa mau cerai,” jawab Papa membuatku kaget. Apa karena masalah itu Papa dan Mama ingin cerai?

“Yaudah si. Kan kita ada Bibi yang lebih sayang, Ka. Gitu aja dipeduliin,” jawab adikku ketus sambil pergi keluar kamar menuju lantai bawah.

Tak biasanya Ella membalas perkataan orang dengan jawaban seperti itu. Mungkin karena dia kesal. Aku hanya bisa diam dan melanjutkan mengemaskan pakaianku. Selesai mengemaskan pakaian, aku segera menuju lantai bawah. Di depan rumah sudah ada Bibi yang menunggu.

“Ayo, kita pergi ke rumah Uwa Rudi. Mulai sekarang kita akan tinggal disana,” ucap Bibi membuatku bingung. Kenapa kita pindah kesana? Apa rumah ini akan dijual?

“Kenapa kita pindah, Bi?” tanyaku

“Mamamu punya hutang yang cukup banyak. Jadi rumah ini akan dijual untuk menebus hutang Mamamu. Sudah jangan berlama-lama kita harus segera kesana,” jawab Bibi sambil mengambil barang-barang milik kami.

Hari itu hari terakhir aku tinggal di rumah itu. Rumah dengan banyak kenangan indah. Aku masih ingat saat merayakan hari ulang tahunku yang ke-12. Aku dibelikan barang yang sangat aku inginkan. Sangat senang rasanya mendapat barang yang kita inginkan dari orang yang kita sayang.

Aku masih mengingat saat Ella mengalami patah tulang. Saat itu kami bersedih tapi kami tetap bisa tersenyum. Aku masih mengingat saat keluarga besarku dari Malang datang ke Bandung untuk beribur. Pengalaman itu tak bisa hilang dari benakku.

Sesampainya kami di rumah Uwa  Rudi, kami segera menurunkan barang kami.

***

Mulai saat itu juga aku tinggal di rumahnya, selama orangtuaku mengurus surat cerai mereka. Hingga surat cerai mereka keluar dan sayangnya tidak ada satupun dari mereka ingin mengurus kami. Jadi saat itu Bibi memutuskan untuk mengurus kami.

Sekarang aku dan Ella tidak lagi dilayani tetapi kami harus bisa mandiri. Aku dan Ella tidak lagi tinggal di kota, di mana di sana banyak mall. Aku dan Ella pun pindah sekolah dari sekolah kami yang bisa dibilang untuk menengah keatas. Sekarang kami bersekolah di sekolah menengah ke bawah.

Kami tidak tahu lagi bagaimana kabar Papa dan Mama sekarang. Yang aku tahu hanya Papa tinggal di Jakarta bersama Om Tristan dan Mama bekerja di salah satu panti jompo di Bandung. Aku sendiri sekarang berada di Tasikmalaya. Hidup bagaikan roda yang berputar. Ada saatnya kita di atas dan ada saatnya kita di bawah. Semua orang pasti pernah mengalaminya juga. Apa yang aku alami sekarang, aku sedang dibagian bawahnya yang harus merasakan sakitnya tertekan jalan yang berbatu