[Karya Siswa] Last Chapter

Aku berlari ditengah derasnya hujan dengan seragam SMA yang basah kuyup. Sungguh nalar ku tak bisa percaya ini.  Baru sore tadi aku tertawa dan bergurau mesra dengannya di depan kelas. Bagaimana bisa kalimat menyakitkan itu keluar dari mulutnya.

  Perasaan benci dan tersakiti mendesak masuk ke dalam hati, ingin kumaki ia sekarang. Ingin kubuat ia menyesal karena memilih pergi dan meninggalkan luka hingga air mata ku sederas hujan petang. Tapi teringat olehku, mata sayu yang menatap ragu padaku. Seolah mengisyaratkan jangan pergi.

Aku berbalik dan berlari membelah hujan menuju pangkalan ojek yang tadi aku lewati, “Adnan, tunggu Dena!”

 Sudah saatnya aku mengejar apa yang aku percaya

“Bang, buah batu, yah!” pinta ku. Supir ojek itu mengiyakan dan menghidupkan motornya.

Motor bebek itu melesat cepat melewati kemacetan di tengah hujan dan sampai di Buah batu 10 menit kemudian, lebih tepatnya rumah Adnan, kekasihku.

Baru lima langkah aku masuk di pekarangan rumah Adnan, Pak Karta supir Adnan keluar sambil membopong seseorang.

“Adnan!” pekik ku spontan

“Dena?” Bunda Adnan keluar setelahnya

Aku berlari dan tanpa bertanya lagi langsung membantu Pak Karta membopong Adnan masuk ke mobil. Pikiran ku kalut, rasa benci itu hilang melihat Adnan pucat pasi dan tak sadarkan diri.

Di rumah sakit ia masuk ke ICU. Beberapa alat bantu mulai terpasang. Bunda Adnan mengelus kepala ku agar tetap kuat, lalu mengajakku berbicara. Deg, tubuhku jatuh lemas mendengar kabar Adnan. Leukimia?

Sejenak aku merasa lebih bahagia bila alasan Adnan pergi adalah wanita lain, tapi apa ini? Kabar terburuk yang mampu membuat air mataku membeku.

“Melihat keadaan Adnan sekarang, waktunya tak kurang dari dua hari,” Bunda terisak lagi.

Aku masih bersandar di dinding lorong, sesak rasanya saat rasa sakit yang kau punya tak tersalurkan lewat air mata. Mengapa harus sesingkat ini waktu yang tersisa?

Bunda Adnan memberikan secarik kertas, entah apa isinya tapi beliau bilang itu terselip di dompet Adnan. Ku buka dengan ragu, kumohon bukan surat perpisahan

Dena Planing

“Hmm?”

•••

Pagi ini aku berkomitmen bertemu dengan Adnan tanpa air mata, walau terlalu sesak menerima kenyataan tapi akan kubuat dua hari tersisa ini menjadi lebih berharga dari dua tahun yang kami jalani

Morning!” sapa ku melupakan semua kejadian kemarin

Adnan hanya tersenyum sambil melirikku. Percayalah senyum seseorang akan terasa lebih hangat saat mereka akan pergi.

Mati-matian ku tahan air mata ini, “Maaf Adnan, tapi aku tak bisa turuti permintaan mu kemarin.”

“Apa yang kamu harapkan dari lelaki sekarat, Dena?”

Plak, spontan tanganku bergerak menampar pipi Adnan. Tak peduli Bunda Adnan melihat dari balik pintu.

“Lemah! Pembohong! Mana janji itu? Janji melewati 2 tahun bersama! Janji melihat series harry potter selanjutnya! Janji…”

Tangan hangat yang tiba-tiba mendekap ku, membuat tubuh ku mematung merasa lebih nyaman. Membuat memori lama terputar kembali di benakku.

•••

Hari itu, hari jadi aku dan Adnan ke 1 tahun. Tak kusangka perkenalan garing di masa MOS berujung hubungan spesial dengannya. Bukan seperti pasangan biasanya yang memilih mengadakan pesta atau perayaan mewah, Adnan berkunjung ke rumah ku sambil membawa kaset harry potter kesukaan ku dan seblak depan sekolah. Sederhana tapi manis menurutku. Ia memang tidak menyukai film fantasi tapi manis nya Adnan tetap duduk sambil berusaha menikmati filmnya.

“Kami tau kalau jadi pemeran di film ini aku mau jadi siapa?”

“Hmm, pasti Harry Potter!”

“Sok tau!”

“Terus?” tanyaku. Padahal apa coba kurangnya Harry Potter udah ganteng, pinter, berani lagi.

“Ron Weasly,” jawabnya percaya diri

“Apa bagusnya? Udah pas-pas an, penakut lagi!”

“Kamu gak sadar? Ron itu orang terpeka di film itu.”

“Berarti kamu gak mau jadi sama Hermione? Dia kan suka Harry Potter.”

“Bukan masalah siapa suka siapa tapi siapa yang tetep bertahan.”

Aku menaikkan sebelah alis, maksudnya?

“Dasar gak peka. Liat walau ketutup sifat penakutnya, tapi perasaan suka nya sama Hermione gak bakal ketutup.”

Aku mengedip-ngedipkan mata beberapa kali sambil berpikir

“Perhatiin deh, semakin banyak Hermione muji Harry Potter, makin keras juga Ron berusaha buat jadi yang Hermione mau.”

Adnan mengerti sifat lemot kekasihnya.

“Maksudnya yang gak menonjol diawal bukan berarti gak penting, tapi ia lagi berproses jadi lebih baik buat gadisnya. Ngerti?”

Enggak sangka Adnan bisa jadi sedalem itu kalau ngomong, “Bisa puitis juga ternyata.”

“Mau bukti? Inget gak pas kamu naksir berat sama senior basket disekolah?”

“Inget, lagian kenapa bahas dia?”

“Anggap dia Harry Potter, sempurna sih. Tapi lihat sekarang siapa yang duduk nemenin kamu makan seblak sambil nonton film sihir gak jelas gini?’

“Lalu?”

“Inget ucapan aku, di chapter terakhir film ini Ron yang bakalan dapetin Hermione.”

“Sutradaranya siapa ya, Mas?” ledek ku sambil terkekeh.

Tapi Adnan tetap percaya diri dengan prediksi nya, sejak saat itu kami tak pernah absen melihat chapter-chapter selanjutnya.

“Kalau aku benar, pergi ke tempat tinggi yang bisa kamu capai dan teriak nama aku sekenceng-kencengnya, gimana?”

“Tau aja kelemahan ku. Tapi siapa takut? Terus kalau kamu salah?”

“Aku bakal pake baju Harry Potter dan keliling alun-alun sama kamu.”  

Konyol! Aku hanya terkekeh tiap mengingat perjanjian itu.

•••

Aku menghela nafas sambil tersenyum menatap layar TV, dia berhasil menjadi sutradara dadakan.

Hari ini, setelah beberapa bulan menunggu chapter terakhir itu rilis, aku bisa menontonnya sambil memakan seporsi seblak hangat dari depan sekolah.

Tiba-tiba aku teringat perjanjian itu, langsung aku berlari menuju balkon kamar tertinggi di rumah ini, setidaknya hanya itu tempat tinggi yang bisa aku capai. 

Ku tarik nafasku dalam-dalam agar bisa berteriak keras hingga bisa terdengar di langit ke-7.

“Hei Adnan Widya Nugroho! Kamu menang!”

Setelah itu ku keluarkan sepucuk surat dari saku jaket, surat yang Bunda Adnan berikan saat malam terakhir aku singgah di rumah sakit.

“Baca surat itu saat hari jadi kalian.”ujar Bunda saat itu.

Dena, Hermionenya Adnan

Biar kutebak pasti aku yang menang kan? Maafkan aku Dena, mungkin tak bisa menonton chapter terakhir itu nanti, maaf tak bisa memenuhi janji bila ternyata memang aku yang kalah. Tapi percaya itu bukan kehendak ku untuk pergi. Kumohon jangan terlalu cepat terpikir olehmu untuk menyusul, bahagialah dulu kau di Bumi. Tetes demi tetes air mata mengalir lagi dipipiku, tapi aku janji ini air mata terakhirku untukmu. Seperti pelangi yang muncul setelah hujan badai, aku janji Adnan akan tetap bahagia bahkan setelah kepergianmu.****

[Karya Siswa] Bintang dan Janji di Malam Itu

Cekitttttttt

Suara decitan roda becak yang terlihat sudah sangat tua terdengar, mendengar decitan roda becak sang bapak yang sudah tidak asing ditelinganya. Rina langsung berlari berhamburan keluar rumah.

“Bapaaaaakk!” teriak Rina girang sambil membuka pintu rumahnya.

“Bapak cape gak? Mau Rina ambilin minum?” lanjut Rina dengan antusias.

“Rina ambilin ya, Pak,” tukas Rina tanpa mempedulikan respon bapak yang terlihat sangat kelelahan.

Ia pun langsung berlari menuju meja makan dan mengambilkan segelas air putih.      Melihat tingkah anak semata wayangnya yang mulai beranjak remaja itu, Sudirman hanya bisa tersenyum sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.

“Ini Pak,” ujar Rina sambil memberikan segelas air putih kepada bapaknya.

“Aduhh, terima kasih putri bapak yang cantik,” respon Sudirman sambil membelai lembut pucuk kepala putrinya itu

Sudirman pun menghabiskan air tersebut dengan satu tegukan. Melihat cara minum sang bapak, Rina berpikir bahwa sang bapak sangat kelelahan

“Oh iya Rin, ini tadi bapak beli nasi goreng di depan, tapi maaf ya tadi bapak makan duluan. Habisnya bapak lapar,” ujar Sudirman sambil mengelap keringat di dahinya.

“Wah, makasih Pak,” tangan Rina bergerak cepat mengambil bungkusan hitam di tangan bapaknya.

Rina pun langsung membuka bungkusan kresek hitam di tangannya, dan langsung memindahkan nasi goreng yang masih hangat itu ke dalam piring plastik yang diambilnya.

Tanpa pikir panjang, Rina langsung menyantap nasi goreng kesukaannya itu. Sudirman sangat senang karena putrinya itu terlihat sangat lahap. Pikirannya pun melayang jauh teringat kejadian tadi sore di pangkalan becak.

**

Gemericik air hujan, membasahi kota kembang sore itu.

Seperti biasa tepat pukul 4 sore, juragan becak menyisir para tukang becaknya dan mengambil jatah setoran sesuai kesepakatan.

“Setoran Man!” ujar juragan becak kasar sambil menengadahkan tangannya ke depan wajah Sudirman.

“Ini juragan,” jawab Sudirman sambil memberikan dua lembar uang dua puluh ribuan.

“Aduh, masih kurang 10 ribu ini! Mana sisanya?” bentak juragan becak itu kasar.

“Maaf juragan anak saya besok harus beli buku untuk sekolah,” tutur Sudirman sambil menundukan kepalanya.

“Alah, anak tukang becak sok-sok an sekolah, sudah miskin, tak sadar diri pula. Sadar Man, kamu itu hanya tukang becak. Jangan punya mimpi terlalu tinggi untuk bisa menyekolahkan putrimu. Suruh saja anakmu kerja di warung saya,” tawar juragan becak, diiringi segaris senyum miring di bibirnya

Amarah Sudirman memuncak, kedua tangannya mengepal keras, rahangnya pun mulai mengeras menahan amarah, harga dirinya diinjak – injak ditambah anak semata wayangnya ditawarkan bekerja di warung juragannya, yang hanya diberikan upah yang tidak sebanding dengan jasa yang diberikan.

“Sampai kapanpun, saya tidak akan mengizinkan anak saya bekerja di warung juragan!” balas Sudirman sambil mengacungkan jari telunjuknya.

“Ah, cape ngomong sama kamu. Ya sudah berikan uang sepuluh ribu lagi,” kembali dibalas dengan bentakan oleh sang juragan becak.

Para tukang becak lainnya tak bisa berbuat banyak hanya bisa menonton debat arogan Sudirman yang pada dasarnya semua tukang becak sangat segan kepada juragannya itu.

Sudirman pun memberikan uang sepuluh ribuan yang ternyata uang itu adalah uang jatah nasi goreng untuk makan malamnya.

 Setelah juragan nya itu pergi, ia pun menatap nanar sisa uang di tangannya, sambil menghitung kebutuhan sekolah Rina dan uang makan malam, tak lupa jatah belanja untuk sarapan besok pagi.

Setelah dihitung, ternyata uang nya hanya cukup membeli buku untuk Rina, satu porsi nasi goreng untuk makan malam, dan beberapa ikat kangkung untuk besok sarapan.

“Malam ini akan kutahan lapar dan dahaga. Uang jatah makan malamku, akan kubelikan buku untuk Rina agar dia semakin semangat menuntut ilmu,” gumam Sudirman.

Sudirman pun mengayuh becaknya pulang ke rumah, tak lupa dengan 1 porsi nasi goreng untuk makan malam putrinya.

**

“Maafkan bapak, Rin. Hari ini bapak berbohong. Bapak hanya ingin kamu tetap sekolah, walaupun uang makan bapak setiap harinya yang menjadi jaminan,”  batin Sudirman.

“Bagaimana tadi sekolah, Rin?” tanya Sudirman sambil melirik putrinya yang telah menyantap habis nasi goreng kesukaannya.

“Mmm, gimana ya Pak…” jawab Rina dengan nada yang menggantung. Hal itu membuat Sudirman semakin penasaran dengan perkembangan belajar putrinya di sekolah.

“Rina tadi ulangan matematika Pak, terus nilai Rina …” masih dengan nada yang menggantung kemudian kepalanya mulai menunduk disertai dengan mimik wajah yang sangat sedih.

“Rina nilai 100, Pak!” jawabnya sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya disertai dengan tawa kecil yang membuat Sudirman gemas melihatnya.

“Astagfirullah Rina bapak kira nilainya kurang bagus,” respon Sudirman sambil ikut tertawa.

Setelah beberapa saat hening, Sudirman kembali memulai pembicaraan.

“Rin?” panggil Sudirman

“Iya Pak?” jawabnya lembut sambil menolehkan wajahnya ke arah pahlawan dalam hidupnya itu.

“Ikut bapak keluar sebentar, yuk!” ajaknya sambil menarik tangan Rina lembut.

Di sinilah mereka sekarang, di antara gemerlap bintang, semilir angin malam, dan hawa dingin yang membungkus kota Bandung setiap malamnya yang pastinya berhasil menusuk tulang.

“Rin? Kamu lihat bintang yang bercahaya di sana?” tanya Sudirman sambil menunjuk awan malam yang dihiasi hamparan bintang. Telihat satu bintang yang lebih bercahaya daripada bintang yang lainnya, bintang itulah yang dimaksud Sudirman.

“Lihat Pak! Cantik,” jawab Rina sambil menatapnya takjub.

“Satu hal pesan dari bapak, Rin. Bermimpilah setinggi langit! Jika memang nanti kamu gagal dalam mencapainya kamu akan jatuh di antara bintang-bintang,” papar Sudirman terdengar sangat tulus .

“Iya Pak,” Rina berkata pelan, disertai anggukan kecil.

“Rina, bapak bangga sama kamu. Kamu persis seperti ibumu, Nak,” Sudirman menghela nafas kemudian melanjutkan perkataannya.

“Baik, cantik, pintar, dan satu lagi ….”

“Satu lagi? Apa Pak?” tanya Rina dengan raut wajah yang terlihat sangat penasaran.

“Usil,” jawab Sudirman sambil mencubit pipi Rina gemas.

“Hahaha,” tawa renyah Rina memecah keheningan malam keakraban antara Rina dan Sudirman malam itu.

Tawa Rina pun mampu menghapus rasa rindu Sudirman kepada wanita yang 10 tahun lalu pergi menghadap sang pencipta. Perempuan yang berjuang demi memperkenalkan dunia kepada buah hati mereka. Perempuan yang memberikan pelajaran tentang cinta bahwa cinta tidak harus kasat mata. Cukup dengan lantunan doa yang selalu Sudirman titipkan kepada Sang Maha Pencipta.

Tak terasa bulir air mata berhasil meluncur di pipi sudirman yang mulai menua. Melihat bapaknya menangis Rina terperanjat kaget.

Loh kok bapak nangis, Rina salah, yah?” ujarnya sambil menghapus air mata bapaknya dengan tangan mungilnya sambil memikirkan apa kesalahan yang telah ia perbuat sampai membuat orang yang ia kenal kuat, menangis malam itu.

“Rina janji Pak, Rina bakal banggain ibu sama bapak. Tapi ada syaratnya,” ucap Rina tulus, diiringi senyum jahil.

“Apa syaratnya?” tanya sudirman sambil membenarkan posisi duduknya.

“Syaratnya …. Jeng jeng jeng!” nada bicara Rina membuat Sudirman semakin penasaran.

“Syaratnya bapak jangan nangis lagi,” ujar Rina diiringi senyum manis yang membuat wajahnya terlihat persis seperti ibunya.

“Mulai deh usil lagi!” jawab Sudirman gusar.

“Aamiin, bapak akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Nak” lanjutnya sambil menatap mata Rina penuh arti.

“Jangan sampai masa depanmu seperti bapak. Hanya menjadi seorang tukang becak yang penghasilan perhari nya saja tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup,” tutur Sudirman.

Di malam itulah Rina berjanji untuk membahagiakan bapaknya, dan berharap suatu hari nanti ia bisa membalas perjuangan pahlawannya itu.

Tok tok tok

Lamunan Rina seketika buyar. Tak lama Dina masuk kedalam ruangannya.

“Permisi Bu, ada Pak Sudirman. Ditunggu di ruang tamu,” ujar Dina yang tidak lain adalah sekertaris di perusahaannya.

“Oh iya, saya segera kesana. Terima kasih,” jawab Rina sambil mulai beranjak keluar ruangannya.

Pintu lift terbuka. Terlihat seorang laki-laki paruh baya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sudirman. Seseorang yang mati-matian membiayai Rina menempuh pendidikan sampai ke perguruan tinggi. Seorang tukang becak yang rela menahan lapar dan dahaga untuk menyekolahkan putrinya. Seorang Jenderal Sudirman dalam hidup Rina.

“Assalamualaikum, Pak,” sapa Rina sambil meraih tangan bapaknya.

“Waalaikumussalam,” jawabnya disertai segaris senyum dibibirnya.

“Bapak kok gak bilang mau kesini? Kan bisa Rina jemput pake mobil,” tutur Rina dengan raut wajah yang sangat merasa bersalah dan khawatir.

“Gak usah, Rin. Bapak tadi dianterin supir,” jawab Sudirman sambil tersenyum lembut kepada putrinya.

“Oh gitu. Alhamdulillah,” mendengar jawaban dari mulut bapaknya, raut wajah Rina terlihat sangat lega.

“Rin, kita ke makam ibu, yuk! Kita udah lama ga kesana,” Sudirman mulai mengutarakan tujuan utamanya datang ke perusahaan putrinya itu.

“Boleh Pak, sebentar Rina bawa kunci mobil dulu,”

Di pemakaman umum inilah bidadari hati Sudirman dikebumikan. Hari ini genap 26 tahun istrinya pergi. Dan semakin dewasa juga bidadari hati keduanya. Putri kebanggaanya, Rina.

Tangan Sudirman sibuk mengelus batu nisan yang bertuliskan nama ‘Sari Pratiwi’, seorang istri yang dikenal sangat penurut, dan sangat lemah lembut.

“Sari, buah hati kita sudah mulai beranjak dewasa. Dia tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat dan cerdas sepertimu. Seadainya kau ada disini dan menyaksikan setiap prestasi yang ia raih, kau pasti bangga kepadanya,” ucap Sudirman sambil mulai menaburkan bunga mawar merah di atas pusara istrinya. Mendengar ucapan Sudirman yang terdengar sangat tulus, Rina tak kuasa menahan air mata. Dinding pertahanannya roboh, bulir air mata mulai membanjiri pipi Rina.***

[Karya Siswa] Perpisahan

Pagi cerah udara yang sejuk. Aku terbangun dari tidur cantikku. Aku segera beranjak dari tempat tidur dan tidak lupa membereskannya. Setelah membereskan tempat tidur, aku langsung memasuki kamar mandi. Selesai mandi, aku segera berpakaian seragam sekolah dan siap untuk sarapan pagi.

“Pagi, Bi. Pagi, Ella. Hari ini kita sarapan apa?”

“Pagi sayang. Hari ini kita sarapam roti dengan telur dan sayur. Kesukaanmu sayang.”

“Wah, terimakasih, Bi.”

Ella adikku. Ia memang jarang berbicara semenjak orang tua kami bertengkar hebat hingga mereka cerai. Ia masih tidak bisa menerimanya. Aku pun bergitu. Aku sangat merindukan mereka.

Orang tua kami berpisah karena ibuku terlilit dengan hutang yang banyak jumlahnya. Kami sudah menjual semua harta yang kami miliki. Sampai kami harus meminjam uang ke saudara kami yang berada di Malang.

***

14 September

Pagi hari, kami sarapan bersama di meja makan. Saat itu kami sangat bergembira karena hari itu hari ulang tahun Ella yang ke-11. Di sana kami saling bergurau, canda tawa memenuhi ruang makan di pagi hari.

“Ma, Pa, Gita sama Ella pergi sekolah dulu, ya!” ucapku sambil menyalami orang tua kami

“Ia, Nak. Hati-hati, ya! Belajar yang benar!” jawab Papa sambil melambaikan tangan

Aku, Ella, dan Bibi segera meninggalkan mereka untuk pergi sekolah. Sesampai di sekolah kami berpamitan pada Bibi, dan segera memasuki sekolah.

13.45

Bel pulang sudah berbunyi menandakan bahwa pelajaran untuk hari ini sudah selesai. Aku segera membereskan buku dan peralatan yang lain ke dalam tas. Selesai membereskan tas, aku segera beranjak keluar kelas dan menjemput adikku di SD.

“Ella! Ayo kita pulang. Kita rayakan ulang tahunmu malam ini.”

“Iya, kak! Ayo kita segera pulang. Aku tak sabar mendapatkan kado apa di ulang tahunku hari ini,” jawab Ella dengan antusias.

Kami pulang dijemput oleh Bibi dengan mobil. Sesampainya di rumah, kami segera mengetuk pintu rumah dan masuk ke dalam.

“Papa, Mam….” aku memotong kalimatku karena aku mendengar seseorang menangis. Terdengar seperti suara tangisan Mama. Astaga Tuhan apa yang terjadi dengan Mama.

“Mama…. Mama.. Mama dimana?” aku membanting tas ku kesembarang arah untuk mencari mama, dan mendapatkannya sedang tertunduk di dalam kamar mandi.

“Ma, apa yang terjadi? Mama jangan nangis. Hari ini mama harusnya senang, karena Ella ulang tahun,” ucapku menenangkan mama yang masih terisak-isak

“Ka, mama cuman minta satu. Tinggalkan mama sebentar aja, ya.” jawab mama

“Baiklah kalau itu mau Mama,” aku pergi dari kamar mamdi meninggalkan mama yang masih menangis. Entah mengapa mama menangis.

Aku tak menemukan batang hidung Papa di rumah. Mungkin Papa sedang pergi menyiapkan kado untuk Ella. Aku sangat tidak sabar untuk merayakannya.

Malam pun tiba. Waktu sudah menunjukan pukul 10.00, tetapi papa belum juga pulang. Selama itu kah papa menyiapkan ulang tahun Ella?

“Kak, papa sama mama lupa ya hari ini hari ulang tahunku? Sudah jam segini dan papa belum pulang. Mama juga masih di kamar tidak ingin di ganggu. Bagaimana nih Kak?” tanya adikku dengan wajah sedihnya.

“Tunggu sebentar ya. Papa mungkin bentar lagi sampai,” jawabku lesu

Hari pun berganti. Kemarin kami tidak merayakan ulang tahun Ella karena keadaan yang tiba-tiba berubah. Malam itu aku mendengar seperti ada orang sedang perang lidah

Pagi ini kami memulai hari seperti biasa, tetapi ada yang berubah. Suasananya. Ya suasananya berubah menjadi dingin. Apa yang terjadi? Biasanya Papa dan Mama sangat ceria, tetapi kali ini tak ada satu pun yang tersenyum terkecuali aku.

“Selesai. Pa, Ma, Gita dan Ella pergi sekolah dulu ya.” ucapku memecahkan keheningan sambil menyimpan piring ke tempat cucian.

Tak ada satu pun orang menanggapi ucapanku. Aku segera keluar dari ruang makan menuju teras rumah untuk siap pergi ke sekolah diikuti dengan Ella. Disitu Bibi sudah menunggu bersama sopir kami. Selesai memakai sepatu, kami segera masuk ke dalam mobil dan berangkat ke sekolah.

Sesampainya kami di sekolah, kami langsung turun dari mobil dan memasuki halaman sekolah. Hari itu aku sangat bertanya-tanya mengapa suasana tadi pagi begitu dingin.

“Gita! Dari tadi saya liat kamu ngelamun terus! Ga biasanya kamu kayak gini. Perhatikan dahulu pelajaran saya!”

“Maaf, Bu.” Jawabku singkat. Ya memang tak biasanya aku melamun. Aku pun segera memperhatikan guru.

13.45

Seperti biasanya aku pulang lalu menjemput Ella. Saat aku menjemputnya, terlihat jelas wajahnya yang tidak bersemangat. Apakah dia sakit? Semoga tidak

“Ella, kok lesu sih? Kenapa? Kecapean ya? Ayo kita pulang. Papa dan Mama pasti sudah menunggu kita.”

“Malas pulang, Kak,” jawab Ella membuatku tersentak kaget.

“Loh ada apa? Apa karena kemarin ulang tahunmu tidak dirayakan?”

Ella menjawab hanya dengan menggelengkan kepala. Apa karena tadi pagi? Ya, mungkin karena itu. Aku juga begitu. Jemputan kami sudah menunggu. Kami segera masuk ke dalm mobil dan pulang ke rumah.

Sesampainya kami di rumah, kami hanya mendengar orang bertengkar. Apakah itu Papa dan Mama? Karena penasaran aku langsung masuk ke rumah, tetapi langkahku tertahan oleh Bibi.

“Jangan ke atas. Biarkan mereka menyelesaikan urusannya dahulu,” ucap Bibi. Aku hanya bisa menuruti apa kata Bibi. Bagiku Bibi sudah seperti keluargaku karena ia yang mengurusku dari aku bayi hingga aku duduk di bangku SMP.

Pertengkaran antara Papa dan Mama sudah tidak terdengar lagi. Aku pun segera menuju lantai atas untuk melihat keadaan. Tak ada satupun disitu. Aku memasuki kamar orangtuaku. Di sana terlihat Mama seperti sedang memasuki baju-bajunya seperti akan kabur dari rumah.

“Ma, mau kemana? Kok bawa baju segala?” tanyaku hanya ingin memastikan bahwa mama tidak akan kabur.

“Biarkan. Jangan ganggu Mamamu,” jawab Papa singkat dengan tatapan tajam pada mama. Sepertinya aku harus segera keluar dari kamar mereka.

Seperti dugaanku, mama langsung membawa tasnya yang berisi pakain. Mama membawa tas tersebut dengan mata yang berkaca-kaca. Aku ingin memberhentikan Mama, tapi usahaku gagal ketika ada sebuah tangan kekar menggenggam pergelangan tanganku. Ya, itu Papa. Aku melihat wajah Papa yang penuh dengan amarah.

“Kenapa?” tanyaku singkat.

Tak lama kemudian aku mendengar suara pintu yang dibanting sangat keras. Ya, saat itu adalah terakhir kalinya aku bisa melihat Mama. Melihat situasi seperti itu aku langsung memasuki kamarku dan menangis. Aku berharap agar ini hanya mimpi. Saat itu aku hanya bisa menangis dan menangis.

Aku tak bisa behenti menangis. Ya, siapa yang tidak menangis di saat kalian ditinggalkan oleh orang yang sangat kalian sayang? Pasti kalian juga menangis. Terutama di saat kalian sangat membutuhkan mereka, tetapi seketika mereka pergi. Terasa sesak di dadaku. Tak henti-hentinya aku menangis. Tak lama kemudian Ella memasuki kamarku.

“Udah ka jangan nangis lagi. Kakak harus kuat. Ella juga ga nangis lagi kok. Kita mendingan tidur. Siapa tau ini mimpikan?” ucap Ella menenangkanku. Aku pun segera tidur bersama Ella.

Terbangun dari tidurku, aku segera pergi ke kamar Mama memastikan bahwa Mama masih di sini. Hasilnya nihil. Mama tidak ada di situ. Aku pun langsung mencari-cari ke semua ruangan di rumahku, dan tetap hasilnya nihil. Ternyata benar tadi itu kejadian nyata.

“Ngapain kamu cari Mama? Mamakan udah pergi dari sini. Toh kamu juga melihatnya,” ucap Papa sambil membaca koran hariannya.

Aku tidak menggubris ucapan Papa. Kesal bercampur sedih pun bersatu. Mengapa Papa tiba-tiba berubah seperti ini? Biasanya Papa sayang sekali dengam Mama. Entahlah karena masalah ini jadi berubah.

Keesokan harinya, Papa meminta agar aku dan Ella tidak sekolah karena akan mengurus masalah ini. Padahal aku belum mengetahui apa masalahnya. Pagi itu aku disuruh untuk mengemas semua bajuku. Aku bingung, apakah aku diusir dari rumah?

“Kalian harus siap untuk pisah ya dari mama,” ucapan Papa tiba-tiba membuatku bertanya-tanya mengapa.

“Kenapa?” tanyaku sinis.

“Hanya ingin memberi tahu, Mama sama Papa mau cerai,” jawab Papa membuatku kaget. Apa karena masalah itu Papa dan Mama ingin cerai?

“Yaudah si. Kan kita ada Bibi yang lebih sayang, Ka. Gitu aja dipeduliin,” jawab adikku ketus sambil pergi keluar kamar menuju lantai bawah.

Tak biasanya Ella membalas perkataan orang dengan jawaban seperti itu. Mungkin karena dia kesal. Aku hanya bisa diam dan melanjutkan mengemaskan pakaianku. Selesai mengemaskan pakaian, aku segera menuju lantai bawah. Di depan rumah sudah ada Bibi yang menunggu.

“Ayo, kita pergi ke rumah Uwa Rudi. Mulai sekarang kita akan tinggal disana,” ucap Bibi membuatku bingung. Kenapa kita pindah kesana? Apa rumah ini akan dijual?

“Kenapa kita pindah, Bi?” tanyaku

“Mamamu punya hutang yang cukup banyak. Jadi rumah ini akan dijual untuk menebus hutang Mamamu. Sudah jangan berlama-lama kita harus segera kesana,” jawab Bibi sambil mengambil barang-barang milik kami.

Hari itu hari terakhir aku tinggal di rumah itu. Rumah dengan banyak kenangan indah. Aku masih ingat saat merayakan hari ulang tahunku yang ke-12. Aku dibelikan barang yang sangat aku inginkan. Sangat senang rasanya mendapat barang yang kita inginkan dari orang yang kita sayang.

Aku masih mengingat saat Ella mengalami patah tulang. Saat itu kami bersedih tapi kami tetap bisa tersenyum. Aku masih mengingat saat keluarga besarku dari Malang datang ke Bandung untuk beribur. Pengalaman itu tak bisa hilang dari benakku.

Sesampainya kami di rumah Uwa  Rudi, kami segera menurunkan barang kami.

***

Mulai saat itu juga aku tinggal di rumahnya, selama orangtuaku mengurus surat cerai mereka. Hingga surat cerai mereka keluar dan sayangnya tidak ada satupun dari mereka ingin mengurus kami. Jadi saat itu Bibi memutuskan untuk mengurus kami.

Sekarang aku dan Ella tidak lagi dilayani tetapi kami harus bisa mandiri. Aku dan Ella tidak lagi tinggal di kota, di mana di sana banyak mall. Aku dan Ella pun pindah sekolah dari sekolah kami yang bisa dibilang untuk menengah keatas. Sekarang kami bersekolah di sekolah menengah ke bawah.

Kami tidak tahu lagi bagaimana kabar Papa dan Mama sekarang. Yang aku tahu hanya Papa tinggal di Jakarta bersama Om Tristan dan Mama bekerja di salah satu panti jompo di Bandung. Aku sendiri sekarang berada di Tasikmalaya. Hidup bagaikan roda yang berputar. Ada saatnya kita di atas dan ada saatnya kita di bawah. Semua orang pasti pernah mengalaminya juga. Apa yang aku alami sekarang, aku sedang dibagian bawahnya yang harus merasakan sakitnya tertekan jalan yang berbatu

[Karya Siswa] Gamer

Ryan adalah siswa SMA di Jakarta. Ia adalah seorang gamer. Oh, ya, bagi yang tidak tahu, gamer adalah seseorang yang banyak menghabiskan waktunya untuk bermain game, mengetahui info detail mengenai game yang dimainkan, memiliki perangkat canggih untuk bermain game tersebut, dan update dengan berita-berita game yang terbaru. Ryan ini orang yang introvert. Dan game pun jadi pelariannya. Ia seakan-akan tidak ada di dunia ini. Hari-harinya dipenuhi dengan game, game, dan game. Tetapi, suatu hari hidupnya berubah.

“Yan bosen nih…, cabut yu,” kata Andre.

“Cabut kemana?” Ryan membalas sambil menulis.

“Hmm… e-cafe aja gimana? Lu kan belum pernah. Bosen tau pulang sekolah ke rumah lagi kerumah lagi. Kali-kali napa kita main keluar,” kata Andre.

“Hah? E-café? Apa tuh?” tanya Ryan.

“Itu lho, kaya warnet cuma ini lebih keren. Warnet tapi bertaraf internasional, Yan. Ga ada asap rokok kok, ada AC lagi, tempatnya nyaman kok, mau ya?” jawab Andre.

“Ngawur lu, besok kan ulangan B. Indonesia. Ga ah, ga boleh gua sama ortu gua,” kata Ryan tegas.

“Ayolah. Sekali-sekali Yan, temenin gua plisss,” Andre memohon.

“Ah, iya iya. entar deh gampang, gua pikirin, lu diem tapi jangan ganggu gua dulu,” kata Ryan yang mulai agak kesal.

“Bener yah Yan, awas lu, kan kemaren gua udah temenin lu ke toko buku. Sekarang lu giliran temenin gua dong,” kata Andre.

Ryan yang sedang fokus menulis hanya menjawab dengan mengangguk.

“Yan, gua tunggu ya ntar di warnet yang Jalan Pahlawan itu lho sebrang toko buku yang sering lu kesana itu,” kata Andre.

“Tapi…” Ryan menjawab.

Tapi langsung dipotong oleh Andre, “Ah, udah. Kali-kali, Yan. Lu gabosen apa belajar mulu, lagian lu kan ranking 1 mulu dikelas.”

“Yaudah gua balik dulu ntar gua nyusul,” jawab Ryan.

Sesampainya Ryan di rumah, ia disambut oleh ibunya.

“Yan…, gimana sekolahnya tadi?”

“Ya seperti biasa, Mah. Aku istirahat dulu ya” jawab Ryan sambil menuju ke kamar.

 “Oh, iya. Itu mama sudah nyiapin makanan di meja makan ya,” jawab ibunya.

   Di kamar ia melakukan rutinitas seperti biasanya, belajar, mengerjakan PR, membaca buku, tidak ada hal lainnya yang ia lakukan.

“Duh bosen nih…, ngapain ya,” Ryan berkata dalam hati. Tiba-tiba, ia teringat perkataan Andre. “Ah, jangan melakukan hal bodoh, Yan. Lagian ga boleh sama mama,” kata Ryan terhadap dirinya sendiri. Akhirnya, Ryan memutuskan untuk menonton TV. Saat sedang jeda iklan, tiba-tiba ada yang menarik perhatiannya.

E-SPORTS CHAMPIONSHIP

CSGO CHAMPIONSHIP JAKARTA 2018

30 DESEMBER 2015

PRIZE POOL:

1st: Rp50.000.000,00

2nd: Rp25.000.000,00

3rd: Rp10.000.000,00

TURNAMEN PERTAMA DAN TERBESAR DI INDONESIA

COME JOIN US!

@CSGOCHAMPIONSHIPJAKARTA2018

“Banyak juga ya hadiahnya. Lebih banyak dari olimpiade IPA kemarin pas gua juara, padahal ini cuma main game doang hadiahnya segitu, penasaran jadinya,” kata Ryan dalam hati.

Akhirnya Ryan memutuskan untuk datang ke ajakan Andre, ia berniat hanya untuk menghilangkan rasa penasarannya, tidak lebih, “Ma, Ryan mau pergi sebentar ya. Abis maghrib udah pulang kok.”

 “Oh, iya. Udah makan kan? Mau pergi kemana, Yan?” kata ibunya.

“Udah, Ma. Mau ke… mau kerja kelompok, Ma. Ya udah, Ryan pergi dulu ya. Assalamualaikum,” Ryan dengan gugup.

Akhirnya Ryan sampai di e-café tersebut. Akhirnya ia masuk. Dan betapa terkejutnya Ryan, tempat ini tidak begitu buruk, bahkan ia terkesan. Warna RGB dimana-mana yang belum ia pernah temukan sebelumnya. Ia mencari-cari Andre kemana-mana, dan tiba-tiba ada yang menepuknya dari belakang.

“Yan, kemana aja si lu billing gua udah mau abis nih, bentar gua isi dulu sekalian yang lu ya udah gua booking kok,” kata Andre.

“Hah? Apaan?” Ryan bingung.

“Udah sini-sini duduk, keburu billing nya abis nih, cepet!” kata Andre.

“Woah, gua baru tau Ndre ada tempat kaya gini, ga begitu buruk lah,” puji Ryan.

“Kan gua udah bilang, dah ayo cepet,” ujar Andre dengan tergesa-gesa.

“Cepet apaan? Gua ga ngerti apa-apa, Ndre. Kan lu tau terakhir gua main game pas TK, main Zuma, itu juga gua ga bisa mainnya,” kata Ryan sambil tertawa kecil.

“Ya ampun, Yan. Bilang dari tadi dong,” Andre berkata dengan kesal.

Tiga jam berlalu dan akhirnya mereka selesai.

“Wah rame juga ya, Ndre. Udah lama gua ga maen game, game apaan sih tadi itu? Lupa gua,” tanya Ryan.

“Itu CSGO yan, game yang lagi hits sekarang itu lho,” jawab Andre.

 Ryan terdiam sejenak. CSGO? Dia merasa pernah melihatnya, tapi ia lupa dimana. “Ohhh…. CSGO yang turnamennya ada di TV itu ya? Iya tuh gua liat tadi, hadiahnya gede banget dah Ndre, hadiah olimpiade mah kagak ada apa-apanya,” kata Ryan.

“Nah, itu dia Yan, gua mau ngajakin lu, tapi banyak yang perlu dikorbanin dan harus serius Yan. Turnamennya setahun lagi, waktu kita gabanyak nih,” kata Andre dengan serius.

“Yaelah Ndre, gampang itu mah, gua bakal serius dan bakal ngorbanin apapun deh,” kata Ryan.

“Yakin lu? Yaudah ntar kita ngomongin lagi dah, gua cabut duluan,” kata Andre sambil menyalakan motornya dan pergi.

Hari itu hari yang sangat berbeda bagi Ryan, ia sangat menikmati hari itu. Ia merasa tidak terbebani walaupun bermain selama berjam-jam. Berbeda dengan belajar, ia tidak menikmatinya dan juga merasa terbebani karena itu suatu paksaan. Hari itu ia sadar bahwa ia harus melakukan hal yang berbeda di hidupnya. Dan hari itu juga ia lupa, lupa bahwa besok ulangan Bahasa Indonesia.

Pak Guru berkata, “Anak-anak keluarkan kertas selembar, ya!”

“Waduh lupa gua Ndre sekarang ulangan. Gua belum nyiapin apa-apa nih,” kata Ryan dengan kaget.

“Udah tenang aja, kita udah siap kok,” kata Andre dengan santai.

Siap? Bukannya kemaren seharian main game? Tetapi Ryan tidak berkata apa-apa lagi karena ujian sudah dibagikan.

Hari demi hari berlalu, Ryan jadi mempunyai kebiasaan yang baru, yaitu bermain game. Padahal, orangtuanya sangat melarang Ryan bermain game, terutama ayahnya. Mereka ingin Ryan menjadi Profesor yang hebat. Dan seminggu kemudian hasil ulangan Bahasa Indonesia pun dibagikan.

“Duh Ndre, kalo ulangan jelek mati gua, gara-gara kemaren lu ajak gua maen kacau nih,” Ryan ketakutan.

Andre tidak menjawab apa-apa dan Pa Guru pun memanggil Ryan. “Ryan…” kata Pak Guru

“I….. iya, Pak?” kata Ryan dengan gugup.

“Selamat kamu mendapat ulangan yang lebih bagus dari sebelumnya,” kata Pa Guru dengan senyum.

“Se…serius Pak?” tanya Ryan dengan heran.

Andre hanya senyum dan ia pun mendapat nilai yang bagus.

“Ndre apaan dah? Lu kan sama gue maen game kemarennya. Kok bisa sih nilai kita bagus padahal sebelumnya gua ga pernah dapet nilai Bahasa Indonesia sebagus ini,” kata Ryan.

“Game ga selamanya buruk, Yan. Kita main game juga pakai otak, kita dibuat untuk berpikir, menganalisis, memprediksi dengan cepat,” kata Andre.

“Oh iya ya, tapi orang tua gua pasti bakal marah kalo tau gua main game, mereka benci banget sama yang namanya game Ndre, gua aja dulu pas main Zuma ketauan langsung dihapus gamenya Ndre,” kata Ryan.

“Lu cuma butuh pembuktian Yan,” kata Andre.

Pembuktian? Tapi bagaimana? Gaada yang ngerti orang tuaku bagaimana. Apalagi ayahku. Mereka tidak akan membiarkanku bermain game. Hari demi hari, Ryan fokus mempersiapkan dirinya untuk kompetisi, sedangkan orang tuanya tidak tahu. Dia terlihat mahir padahal dia baru bermain beberapa bulan, dia mulai dikenal beberapa orang karena kemahirannya, dia hanya bilang dia mahir karena ia menikmatinya.

Ia memikirkan untuk memiliki perangkat game sendiri, tapi bagaimana? Ia tidak mungkin meminta kepada orang tuanya dan bilang itu untuk game.

“Pa, Ryan butuh laptop Pa, buat urusan sekolah nih” kata Ryan kepada ayahnya.

“Kalo emang buat sekolah papa beliin tapi jangan sekali-kali kamu pakai untuk yang lain-lain, apalagi untuk main game, papa ga mau kamu rusak,” kata ayahnya tegas.

Ryan hanya mengangguk.

Akhirnya, Ryan dibelikan laptop yang cukup mumpuni. Tetapi, ia berpikir tidak mungkin bermain tanpa peripheral. Akhirnya ia membeli mouse gaming dengan harga yang lumayan mahal, tetapi kini ia membeli dengan uang tabungannya. Ia membeli dengan online.

Satu hari setelahnya, hari Sabtu, ia sedang berdiam diri di kamar. Tiba-tiba terdengar suara, “Paket!”

Ryan dengan cepat kedepan rumahnya karena takut ada yang mengambil paketnya terlebih dahulu. Saat ia sampai didepan rumah benar saja, sudah ada ibunya yang sedang mengecek tagihan bayaran paket tersebut.

“Apa-apaan ini Ryan mouse mahal begini untuk apa?” kata ibunya dengan marah.

“Ehh, ini mah biar enak aja pake uang Ryan kok, plis… jangan bilang papa ya Ma?” kata Ryan sambil mengambil paketnya dan membayarnya dan ia langsung lari dengan cepat.

Dengan adanya laptop ia tidak pernah lagi ke e-café, tetapi ia tidak bisa berisik di kamarnya karena takut ketahuan. Walaupun ia jadi sering bermain game, tetapi ia nilainya tidak menurun karena ia mengatur waktu jam bermain dan belajar. Walaupun saat awal-awal ia sempat tidak bisa mengatur waktu dan beberapa kali ia ketahuan sedang bermain game, ia beruntung, beruntung karena bukan ayahnya yang mengetahui Ryan sedang bermain game, tetapi ibunya. Ibunya beberapa kali mengancamnya akan memberi tahu pada ayahnya tetapi Ryan tetap teguh pendirian. Ia sedang berusaha membuktikan.

Dikelas semua murid disuruh untuk mengisi biodata mereka.

Nama    :           Ryan Putra

Kelas      :           XI IPA 10

TTL        :           Jakarta, 25 Mei 1997

Alamat   :           Jalan Katamso no. 11

Cita-cita :           Profesor E-sport Player

   Dan keesokannya orangtua murid diundang ke sekolah. Dan hari itu ayah Ryan tahu segalanya.

“Ryan, apa-apaan ini? E-sport player? Kita susah nyekolahin kamu dan kamu bercita-cita menjadi e-sport player? Kamu gila? Papa juga udah tau semuanya, kamu suka ke warnet kan? Kamu juga pakai laptop untuk main game papa tau itu!” kata Ayah Ryan dengan marah.

“Ryan cuma pengen jadi apa yang Ryan mau Pa! Bukan yang Papa yang mau! Walaupun main game juga Papa liat sendiri kan nilai Ryan tetap bagus! Dan Ryan ke e-café bukan ke warnet!” kata Ryan dengan tegas.

“Papa ga mau tau! Ga peduli nilai kamu sebagus apa kalau kamu cuma pengen kamu jadi tukang main game, papa mau kamu jadi Profesor! Sekali lagi papa tau Ryan berhubungan dengan game-game yang ga guna itu, papa sita laptop Ryan!” kata ayahnya.

”Udah Pa, udah,” kata ibunya menenangkan.

Padahal kompetisi berlangsung 2 hari lagi, tetapi dengan adanya kejadian tadi memukul mundur Ryan. Seharian Ryan merenung di kamar setelah pulang sekolah.

“Nak, ibu boleh masuk?” kata ibunya.

“Buka aja, Ma. Ga dikunci,” kata Ryan pelan.

“Mama tau kamu marah, kesal, kecewa. Tetapi sebenernya tujuan papamu itu baik, Yan. Ia ingin kamu jadi orang yang sukses. Tapi kalo keinginanmu berbeda, mama akan dukung, mama juga akan yakinin ayah,” kata mamanya.

“Bukan jadi orang yang sukses, Ma! Jadi Profesor? Ryan gamau! Papa egois!” kata Ryan dengan marah, “Aku juga dua hari lagi ada kompetisi game ma, aku mau minta izin ke papa mama, terserah papa mama izinin atau ngga, aku bakal buktiin ke papa mama”.

Mamaya hanya terdiam dan meninggalkan Ryan

Tiba saatnya kompetisi dimulai, Ryan pergi pagi sekali saat orang tuanya belum bangun. Ia meninggalkan surat untuk orang tuanya.

Aku minta izin ke papa, mama untuk kompetisi ini. Aku minta doanya aja kalo papa mama gabisa datang, tapi kalo kalian mau datang ini alamatnya: Jalan Pahlawan no. 5A Arena East Jakarta.

   Ryan

Lima menit jelang ia bermain ia masih berharap orang tuanya datang, tetapi ia mencari kemana-mana tidak ada. Ia hanya berharap membawa trofi saat pulang. Dan tanpa disangka, debutnya pada kompetisi membuahkan hasil yang sangat baik, walaupun hanya juara 3, tetapi itu merupakan awal yang bagus. Tetapi tidak terlihat wajah yang senang dari Ryan, dia murung karena tidak ada orang tuanya saat itu.

Saat ia menuju ke pintu keluar, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.

“Ryan maafin papa mama udah egois, gatau apa yang diinginin Ryan, sekarang papa mama bakal duku Ryan terus apapun yang terjadi,” kata ayahnya. Air mengalir dari mata Ryan, jarang ia terlihat mengeluarkan air mata tetapi ini terjadi. dan inilah akhir kisah seorang gamer tersebut.***

[Karya Siswa] Indahnya Ukhuwah Islamiyah

Pada suatu waktu, terdapat sebuah desa. Desa itu bernama Desa Cahaya. Desa Cahaya merupakan desa yang indah dan dikelilingi oleh hutan-hutan yang daun-daunnya pohonnya sangat hijau. Selain itu, di desa ini terdapat sebuah sungai yang bernama Sungai Kristal. Sungai ini biasa digunakan sebagai tempat bermain anak-anak. Biasanya, anak-anak akan berenang-renang di sungai atau menangkap ikan dengan tengan kosong. Orangtua mereka biasanya memakai hasil tangkapan mereka untuk lauk makan malam. Selain itu, penduduk desa ini ramah dan rukun. Jarang terjadi perselisihan antara warga satu dengan warga yang lain.

 Di antara para penduduk desa itu, ada seorang gadis kecil yang tinggal di sebuah rumah dekat Sungai Kristal. Nama gadis itu adalah Syariah Hidayatul atau lebih sering dipanggil Syari. Syari merupakan gadis pendiam yang jarang sekali bermain dengan anak-anak di desanya. Syari memiliki seorang adik laki-laki bernama Hafidz. Berbeda dengan Syariah, Hafidz merupakan anak periang, dia sering bermain keluar entah petak umpet, tangkap ikan, atau permainan lainnya. Dia bahkan pernah pulang sore karena keasyikan bermain.

 Suatu hari, Hafidz lagi-lagi pulang terlalu sore. Karena sudah mendekati waktu maghrib, ibunya meminta bantuan kepada Syari.

 “Sayang, bisa tolong panggilkan Hafidz? Ini sudah mau mendekati malam.” pinta Bu Shafira, ibu dari Syari.

 “Iya, Bun. Syari pergi dulu, ya, assalamu’alaikum,” pamit Syari.

 “Makasih, Nak. Wa’alaikumussalam.” balas Bu Shafira.

 Syari pergi ke lapangan tempat Hafidz biasanya bermain bola basket. Benar saja, saat Syari tiba di lapangan, dia melihat Hafidz sedang memantul-mantulkan bola basketnya.

 “Hafidz, bunda bilang kamu harus pulang!” seru Syari sambil menatap Hafidz. Hafidz langsung memasang muka cemberut.

 “Ih, Kakak, lagi seru-serunya juga.” sahut Hafidz ketus. “Aku duluan, ya, Faza, Ghani. Wa’alaikumussalam,” pamit Hafidz kepada kedua temannya. Kedua temannya pun langsung membalasnya sambil melambaikan tangan.

 “Seru, Fidz?” tanya Syari sambil tersenyum manis.

 “Seru, dong, Kak!” jawab Hafidz sambil mengacungkan jempolnya.

 “Bagus, deh.” tanggap Syari sambil mengacungkan jempolnya.

 Selesai makan malam, Syari sedang membaca buku al-Qur’an di kamarnya. Dia tidak memakai mukena karena kerudung birunya sudah cukup menutupi tubuhnya. Tepat pada saat itu, Bu Shafira memasuki kamar Syari.

 “Syar, sini. Bunda mau bicara dulu sama kamu!” seru Bu Shafira sambil mengayun-ayunkan tangannya memberi isyarat kepada Syari.

 “Syari langsung mengakhiri bacaan al-Qur’annya. “Shadaqallahul’adziim. Iya, Bun,” Syari langsung membalas seru Bu Shafira dan berdiri tepat di depan Bu Shafira.

 “Syar, Bunda perhatikan kamu selama ini, kamu itu selalu menyendiri. Apakan tidak lebih baik kamu berteman dengan seseorang?” tanya Bu Shafira.

 “Enggak, Bun. Syari udah puas, kok, dengan kehidupan Syari yang seperti ini. Yang penting, kan Syari tidak kenapa-napa, Bun.” jawab Syari santai.

 “Tapi kamu bisa kesepian, Syar. Hafidz saja sudah punya banyak teman.” lanjut Bu Syafira sambil memegang pundak Syari.

 “Udah, Bun. Syari baik-baik saja, kok,” jawab Syari kembali.

 “Begini saja. Bunda akan daftarkan kamu ke DKM Masjid Ash-Shaff, masjid yang dekat rumah kita. Dengan begitu, kamu bisa punya banyak teman.” usul Bu Shafira kepada Syari.

 Mata Syari membelalak. “Bun, Syari malu. Syari belum kenal banyak anak-anak di desa ini. Masa Bunda mau mempermalukan Syari, sih!?” Syari menolak keras usulan Bu Shafira.

 “Gak apa-apa, Syar. Nanti juga lama-lama kamu terbiasa, kok,” jelas Bu Shafira.

 “Bun, Syar tidak…” Syari mencoba berbicara tapi langsung dipotong oleh Bu Shafira.

 “Stop, sudah. Percayalah kepada dirimu, Syari,” tanggap Bu Shafira atas tolakan Syari kemudian Bu Shafira pun meninggalkan kamar. Syari hanya bisa cemberut dengan keputusan ibunya.

 Esok harinya, Syari sedang sibuk membaca majalah Bobo. Majalah itu memang sudah menjadi favoritnya Syari.

 “Syari, makan dulu, sayang.” panggil Bu Shafira dari lantai bawah.

 “Iya, Bun.” sahut Syari sambil menuruni tangga penghubung lantai satu dengan lantai dua.

 Di lantai bawah, Syari langsung memakan makanan yang sudah disediakan. Selagi makan, Bu Shafira berbicara kepada Syari.

 “Syari, nanti qabla maghrib, kamu langsung ke masjid untuk DKM, ya,” ujar Bu Shafira kepada Syari.

 “Hah, Syar takut, Bun,” tolak Syari dengan wajah terkejut.

 “Kakak penakut, nih, yeeee,” ejek Hafidz sambil mengacung-acungkan telunjuknya ke arah Syari.

 “Heh, sembarangan aja kamu, Fidz. Kakak bukannya takut, Kakak hanya malu!” Syari membela dirinya karena kesal diejek oleh adiknya.

 “Sudah, sudah, pokoknya nanti kamu siap-siap, ya!” perintah Bu Shafira lalu menyeruput tehnya.

 “Huh, iya, Bun.” Syari menyerah kepada keputusan ibunya yang sudah bulat. Syari melahap suapan terkahir nasi goreng buatan ibunya.

Sekarang sudah mau masuk waktu maghrib, Syari langsung mengenakan khimar biru andalannya dan juga gamis biru langit kesukannya. Dia membawa tas berisi al-Qur’an dan bekal dari Bu Shafira.

 “Ayo, sayang, kita berangkat.” ujar Bu Shafira dari teras rumah.

 “Iya, Bun.” sahut Syari sambil berlari menuju lantai bawah.

 Di lantai bawah, Bu Shafira sudah siap mengantar Syari ke masjid. Syari pun menyusul ibunya ke bawah. Setelah itu, mereka berdua berangkat ke masjid. Saat perjalanan, jantung Syari berdetak kencang.

 “Bun, Syari takut, Bun,” ujar Syari kepada Bu Shafira.

 “Takut kenapa, Syar? Tenang saja.” bujuk Bu Shafira menenangkan Syari.

 Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya mereka sampai di masjid. Di sana sudah ada seorang wanita yang menunggu kedatangan Syari.

 “Assalamu’alaikum, Bu. Ini Syari, ya?” Wanita itu memberi salam kepada Bu Shafira.

 “Wa’alaikumussalam. Iya, ini Syari. Tuh, Syar, ikut sama kakak itu,” perintah Bu Shafira kepada Syari.

 “Yuk, Syari, ikut dengan Kakak!” ajak wanita itu sambil menggandeng tangan Syari ke dalam masjid.

 Di dalam masjid, banyak sekali anak-anak yang berkumpul. Ada yang laki-laki, ada yang perempuan. Saat, itu, wanita itu menyalami semua anak yang ada di sana.

 “Anak-anak, perkenalkan, ini Syari, dia akan menjadi anggota baru kita!” ujar wanita itu kepada semua anak-anak.

  “Assalamu’alaikum, Syari!!” salan seluruh anak-anak kepada Syari. Melihatnya, Syari tersenyum malu.

 “Wa’alaikumussalam,” balas Syari pelan.

“Nah, sekarang kita mulai ngaji bareng sama Kakak, ya,” ujar wanita iu kembali kepada seluruh anak-anak.

 “Baik, Kak Shafa!!” tanggap seluruh anak-anak kepada wanita yang ternyata bernama Kak Shafa itu.

 “Syari, sekarang kamu duduk di sebelah Malia, yang pakai kerudung kuning itu, ya” suruh Kak Shafa. Syari langsung duduk di sebelah gadis berkerudung kuning.

 “Hai, nama kamu Syari, ya?” Gadis berkerudung kuning bernama Malia itu ingin berkenalan dengan Syari seraya mengulurkan tangannya.

 “Iya, namaku Syari.” jawab Syari sambil membalas uluran tangan Malia dan menyalaminya.

 “Semua buka al-Qur’anya!” perintah Kak Shafa kepada semua anak, semuanya pun langsung membuka al-Qur’annya masing-masing. “Buka Surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5.” lanjut Kak Shafa. Semua anak pun menurutinya.

 “A’udzubillahiminasysyaithaanirrajim…” Kak Shafa membaca ta’awudz.

 “A’udzubillahiminasysyaithaanirrajim…” semua anak langsung mengkuti ta’awudz yang dibacakan Kak Shafa.

 “Bismillahirrahmaanirrahiim..” Kak Shafa pun membacakan bismillah. Semua anak kembali mengikuti bacaan Kak Shafa.

 Kak Shafa pun membacakan ayat satu sampai lima diikuti seluruh murid. Setelah itu, Kak Shafa memberikan penjelasan mengenai ayat-ayat tersebut.

 “Jadi, Surah Al-Alaq ayat 1-5 ini merupakan wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah swt.” jelas Kak Shafa. Kak Shafa terus memberikan materi hingga maghrib tiba.

 “Yak, sudah maghrib. Siapa yang berana adzan yang ikhwan?!” tanya Kak Shafa. Seorang anak lelaki mengacungkan tangannya. “Ya, Adri, ayo adzan!” seru Kak Shafa.

 Adri lalu mengumandangkan adzan, setelah selesai, semua anak dan Kak Shafa langsung berwudhu dan menunaikan shalat maghrib berjamaah. Setelah selesai, mereka kumpul seperti tadi.

 “Ya, sekarang Kakak akan tunjuk satu orang ke depan..” Kak Shafa ingin salah seorang anak untuk maju ke depan. “Ya, kamu Syari, ayo ke depan!” perintah Kak Shafa. Syari pun langsung maju ke depan. Saat itu, semua anak bertepuk tangan kepada Syari. Syari pun tersenyum malu.

 “Syari, bacakan Surah An-Nas!” perintah Kak Shafa.

 Syari langsung membuka surah yang diminta, lalu mengucapkan ta’awudz. Setelah itu, Syari langsung membacakannya.

 “Qul a’uudzuu birabbinnaas..” Syari membacakan surah itu dengan penuh penghayatan. Semua murid termasuk Kak Shafa kagum dengan bacaan al-Qur’an Syari yang sangat merdu.

 “Tepuk tangan untuk Syari!!” seru Kak Shafa, semua anak langsung bertepuk tangan keras. Syari pun kembali ke tempat duduknya.

 “Syari, kamu hebat!” puji Malia yang duduk di sebelahnya.

 “Oh, ya?” Syari tersipu malu.

 “Iya, ajarin, dong cara ngaji kayak kamu, Syar!” ujar seroang anak berkerudung hitam yang duduk di belakang Syari.

 “Iya, ajarin, dong Syar!” pinta Malia.

 Mendengar permintaan-permitaan mereka, Syari tidak sanggup untuk menolak. “Baiklah, akan kuajarkan kalian mengaji tiap hari!” seru Syari.

 “Yeeeeeeyyy!!” sorak seluruh anak keras.

 “Heheheh, udah dulu, anak-anak. Nah, sekarang Kakak akan memberikan materi, dengarkan, ya1” perintah Kak Shafa.

 Kak Shafa kemudian memberikan materi bertema “Masjid sebagai Rumah Kita”. Saat menyimak, Syari merasa sangat senang dapat mempunyai teman-teman baru.

Esok harinya, Syari pergi ke masjid. Saat Syari hendak berangkat ke masjid, Bu Shafira bersiap-siap untuk mengantar Syari.

 “Bun, ayo cepat!” seru Syari dari lantai bawah.

 “Iya, Syar. Ini Bunda juga sedang pakai kerudung!” balas Bu Shafira dari lantai dua. Setelah beberapa lama, Bu Shafira akhirnya turun ke lantai bawah. Di sana, Syari sudah siap dengan kerudung merah muda bermotif polkadot kesukaannya. Selain itu, Syari juga sudah menyiapkan al-Qur’annya di dalam tas. Setelah siap, akhirnya Bu Shafira dan Syari berangkat. Dalam perjalanan mereka ke masjid, mereka mengobrol berdua.

 “Bun, Syari seneng banget, Syari punya banyak teman di sana!” seru Syari bahagia.

 “Alhamdulillah kalau kamu senang, Syar. Ibu senang sekali,” respons Bu Shafira.

 Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya mereka berdua sampai di masjid. Syari pamit kepada ibunya.

 “Assalamu’alaikum, Bun. Syari mau kumpul dulu, ya,” pamit Syari kepada Bu Shafira.

 “Wa’alaikumussalam, Syar. Hati-hati, ya, kamu di sana,” pesan Bu Shafira. Setelah itu, Bu Shafira pun meninggalkan masjid. Semestara itu, Syari langsung berlari masuk masjid.

 “Assalamu’alaikum, Syar!” salam teman sebayanya.

 “Wa’alaikumussalam, Safina!” balas Syari terhadap salam temannya, Safina.

 “Syar, ayo ajarin kita ngaji!” seru Shela, teman Syari.

 “Baik, ayo mulai!” seru Syari.

 Syari kemudian langsung mengajarkan mereka huruf hijaiyah. “Yang ini bacanya ‘la’, yang ini bacanya ‘sya’, dan yang ini bacanya ‘dho’.” Syari memberikan materi kepada teman-temannya.

 “Kalau garis yang ada di bawah, di atas, dan kaya huruf wau ini bagaimana bacanya?” tanya Disha.

 “Oh, itu namanya fathah, kasrah, dan dammah. Kalau fattah, dibacanya dengan huruf ‘a’, contohnya sya, ba, sa. Kalau kasrah, dibacanya dengan huruf ‘I’, contohnya syi, bi, si. Dan kalau dammah, dibacanya dengan huruf ‘u’, misalnya syu, bu, su.” jelas Syari.

 Berjam-jam Syari mengajarkan huruf hijaiyah kepada mereka, akhirnya tiba waktu mereka untuk pulang.

 “Assalamu’alaikum, semuanya. Aku duluan, yah, bundaku sudah jemput!” pamit Syari kepada teman-temannya.

 “Wa’alaikumussalam, Syari!” balas teman-temannya.

Sudah berhari-hari Afina mengajari mereka materi tentang membaca al-Qur’an. Namun, Syari mengalami peristiwa tak terduga pada hari Selasa ini. Saat itu, Syari sedang mengajarkan hukum waqaf kepada teman-temannya.

 “Syar, kalau waqaf yang kayak huruf alif lam ini hukumnya apa?” tanya Malia.

 “Itu…artinya..tidak boleh berhenti, harus diteruskan.” jawab Syari.

 “Syar, kamu kenapa, kok kayak yang lemas?” tanya Disha.

 “Aku dari tadi merasa tidak enak badan,” jelas Syari sambil memegang keningnya.

 “Minta izin dulu saja kepada Kak Shafa,” usul Shela. “Aku temenin, nih,” lanjutnya.

 “Oh, ya, Shel. Makasih,” ucap Syari lalu menggendong tas punggungnya dan pergi menghadap Kak Shafa.

 “Permisi, Kak, saya merasa tidan enak badan, bolehkah saya pulang dulu, Kak?” tanya Syari.

 “Oh, kenapa? Ya sudah, Kakak akan anterin kamu ke rumah kamu, ya,” Kak Shafa bermaksud ingin mengantar Syari yang sedang sakit.

 “Makasih, Kak!” ucap Syari.

 “Anak-anak, lanjutkan saja kegiatannya, ya. Kakak mau mengantar Syari dulu ke rumahnya,” seru Kak Shafa.

 “Iya, Kak!” balas seluruh anak.

 Kak Shafa pun mengantarkan Syari ke rumahnya. Di rumah, ibunya berterima kasih karena Kak Shafa sudah mengantarkan Syari ke rumahnya.

Beberapa hari kemudian, teman-teman Syari merasakan kebosanan karena Syari tidak ada, padahal Syari selalu mengajari mereka mengaji.

“Huh, bosan kalau Syari tidak ada,” keluh Malia.

“Iya, benar,” respons Disha.

 Tidak lama kemudian, Kak Shafa memasuki masjid dan memberikan pengumuman.

 “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” salam Kak Shafa.

 “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab semua anak.

 “Ada kabar duka. Kemarin, teman kita Syari baru saja dibawa ke rumah sakit.” beritahu Kak Shafa. Semua anak terkejut.

 “APA!?” teriak Disha, Malia, dan Shela bersamaan.

 “Syari sakit apa, Kak?’ tanya Ahmad, teman lelaki Syari.

 “Ibunya bilang kalau Syari menderita kanker otak,” jawab Kak Shafa sambil meneteskan air mata.

 “Ya Allah, Syari..” Malia menangis karena penyakit yang diderita temannya itu.

 “Sekarang, kita berdoa akan kesembuhan Syari, al-Fatihah!” seru Kak Shafa. Semua murid pun langsung khusyuk berdoa lalu mengaminkan doanya.

 “Kak, kapan kita bisa jenguk, Kak?” tanya Disha khawatir.

 “Mungkin seminggu lagi, dia dirawat di RS Harapan Bunda,” beritahu Kak Shafa.

 “Terima kasih, Kak,” ucap Shela. Semua murid pun menangisi keadaan Syari.

 Seminggu kemudian, anak-anak DKM Masjid Ash-Shaff mendatangi RS Harapan Bunda. Mereka menanyakan akan keberadaan Syari, ternyata dia sedang dirawat di UGD. Mereka semua pun bergegas ke UGD rumah sakit.

 “Semoga Syari baik-baik saja,” doa Kak Shafa di hadapan seluruh anak.

 “Aammiiiin.” Semua anak mengaminkan doa Kak Shafa.

 Di ruang tunggu UGD, terlihat Bu Shafira yang sedang menangis. Melihat itu, Kak Shafa menanyakan kondisi Syari.

 “Assalamu’alaikum, Bu. Bagaimana kondisi Syari, Bu?’ tanya Kak Shafa.

 “Kondisi Syari sudah kritis, dokter bilang hidupnya diperkirakan tinggal satu jam lagi,” jawab Bu Shafira lirih kemudian lanjut menangis.

 “Ya Allah, Syari,” Malia meneteskan air mata begitu mendengar kabar tentang Syari.

 “Oh, ya, kemarin Syari memberikan catatan ini untuk kalian baca,” beritahu Bu Shafira.

 “Baik, Bu, akan saya bacakan,” Kak Shafa akan membacakan surat tulisan Syari kepada seluruh anak,

“Assalamu’alaikum, sejak pertama kali aku bertemu dengan kalian semua, aku merasakan suasana yang berbeda dari biasanya. Sekarang, hatiku lebih cerah, tidak seperti sebelumnya yang dingin karena kesepian. Kalian semua sholeh dan sholehah, aku ingin selalu bersama kalian baik di sini maupun di sana. Semoga kita semua dapat berkumpul di dunia maupun di surga di akhirat nanti.”

 Semua anak sontak menangis mendengar surat dari Syari, mereka berjanji akan lebih menyayangi Syari sebagai teman.

 “Aku akan selalu menyayangi Syari,” ujar Shela lirih.

 “Aku juga,” ujar Safina sambil terisak-isak.

 Tiba-tiba, ada dokter wanita yang memanggil.

 “Atas nama Syariah Hidayatul!” seru dokter tersebut.

 “Saya ibunya, Dok!” Bu Shafira mengacungkan tangannya sambil menyeka air matanya.

 “Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun, ananda Syari sudah pulang ke Rahmatullah,” beritahu dokter.

 “Syariiiiiiii……” teriak Bu Shafira kencang.

 Semua murid menangis. Mereka tidak akan pernah melupakan Syari sebagai teman sekaligus sahabat mereka. Syari adalah orang yang sangat di kehidupan mereka.

“Selamat tinggal orang-orang yang kusayangi, semoga kita dapat berjumpa di surga,” seru ruh Syari yang memadang mereka dari langit.***