Analisa Pengaruh Aliran Mu’tazilah pada Filsafat Teologi

Sebagai manusia, tentu perlu adanya sebuah pemikiran yang mampu meyakinkan keberadaan yang tidak dapat dirasakan oleh logika dan panca indra lahiriah. Sering kita jumpai orang sedang menemukan kebenaran tuhan-Nya. Namun timbul pertanyaan yang dapat meragukan keyakinan dalam hatinya. Maka dari itu, perlu adanya sebuah kajian yang mampu menjawab keraguan-keraguan itu dalam mencari keberadaan tuhan.

Paragraf di atas menunjukkan kajian ilmu teologi. Istilah asing bagi orang yang mengedepankan akal dan logika. Kenapa? Karena mereka sulit untuk mencapai pemahamannya yang sudah ditutupi oleh logika mereka. Tetapi Priatna menyebutkan bahwa akal manusia dapat membuat dan mengembangkan kebudayaan dan peradaban yang tinggi. Dengannyalah manusia dapat mewujudkan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dapat menghantarkan manusia kepada kesejahteraan dan kebahagiannya[i].

Teologi sebagaimana diketahui, membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan yang berdasarkan pada landasan kuat, yang tidak mudah diombang-ambing oleh peredaran zaman[ii]. Dalam Islam, terdapat lebih dari satu aliran teologi, dimana setiap aliran memiliki corak masing-masing. Aliran-aliran teologi tersebut tidak hanya berpengaruh dalam aspek aqidah saja, tetapi juga sangat berdampak terhadap pendidikan dan tatanan politik para penganutnya maupun suatu daerah secara khusus.

Salah satu aliran teologi dalam Islam adalah aliran Mu’tazilah. Golongan ini merupakan kaum yang memisahkan diri. Banyak pemikiran-pemikiran dari Mu’tazilah yang patut kita kaji dan selanjutnya kita analisis sehingga menambah khazanah keilmuan kita dan mudah-mudahan dapat menjadi perantara bertambahnya keimanan kita kepada Allah, terlepas dari pemahaman-pemahaman yang kurang sesuai dengan pemahaman kita. Aspek kajian kita juga menyebar dalam ranah pendidikan dan politik sebagai dampak dari pemikiran-pemikiran yang terdapat dalam aliran yang didirikan oleh Washal ibn Atha’ ini.

Kaum Mu’tazilah disebut juga dengan kaum rasionalis Islam[iii]. Sebutan ini sepertinya pantas disematkan kepada aliran Mu’tazilah melihat cara mereka dalam menggunakan akal. Mereka sangat menghargai akal dan menurut mereka semua hukum atau perbuatan manusia dianggap benar jika masuk akal sebelum datangnya wahyu mengenai perbuatan itu. Hal ini pula yang menjadikan mereka kurang percaya atas keorinisalitas sunnah, mereka hanya mengakui sedikit dari banyak hadits yang bersumber dari Rasulullah. Hadits yang mereka akui hanyalah hadits-hadits yang mutawatir menurut mereka.

Awalnya, cara penggunaan akal oleh kaum Mu’tazilah adalah untuk memerangi pernyataan-pernyataan musuh Islam yang banyak menggunakan logika. Sedangkan pada saat itu umat Islam masih terbelenggu dengan dalil naqli saja. Selain itu juga, tak dapat dipungkiri bahwa cara mereka dalam penggunaan akal dipengaruhi oleh budaya saat itu, yang mana mulai banyak pengaruh-pengaruh luar yang masuk ke dalam agama Islam. Seperti dari Persia, Yunani, Romawi, India dan lainnya.

Namun, hal ini memberikan sumbangsih yang besar bagi agama Islam. Saat Mu’tazilah dijadikan sebagai madzhab resmi negara pada zaman Dinasti Abbasiyah, yaitu saat Khalifah Ma’mun memerintah, banyak sekali kegiatan-kegiatan pengembangan yang dilakukan. Puncaknya adalah saat pendirian Baitul Hikmah oleh sang Khalifah. Kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan di Baitul Hikmah ini mulai dari penerjemahan buku-buku asing seperti buku berbahasa Persia, Yunani, Romawi dan lain-lain sampai kegiatan penelitian astronomi. Kegiatan ini pun didukung dengan fasilitas yang canggih dan memadai seperti adanya observatorium untuk kegiatan penelitian astronomi. Sehingga jadilah Baghdad kota Pengetahuan yang Masyhur kala itu. Banyak ilmuwan-ilmmuwan dari penjuru dunia datang ke kota ini dan memberikan peranan yang penting untuk pendidikan.

Selain itu, adanya aliran Mu’tazilah di agama Islam memperkenalkan agama ini dengan ajaran filsafat lengkap dengan kajian tentang tuhan dan perbuatannya seta dalil-dalil akal pikiran dengan tetap berlandaskan pada dalil naql[iv]. Dalam bidang Tafsir Qur’an contohnya, aliran Mu’tazilah menggunakan metode takwil yang berbeda dalam menakwilkan ayat-ayat mutasyabihat. Takwil menurut aliran ini didasarkan pada akal yang bermuara pada pengesaan Allah dari setiap yang mencedarai keeesaannya[v].  Pengaruh terkuat dari aliran Mu’tazilah dapat dirasakan dalam bidang orator dan pujangga, ilmu balaghah (rethorika), ilmu jadal (perdebatan) dan ilmu kalam (teologi)

Sedangkan dari segi politik ketika masa Dinasti Umayyah, aliran ini tidak terlalu banyak melakukan perlawanan kepada pemerintah. Mereka mulai berani unjuk gigi saat pemerintahan dinasti Abbasiyah, karena adanya hubungan dekat diantara mereka. diantaranya adalah Amr bin Ubaid yang merupakan teman dekat dari Abu Ja’far bin Manshur sebelum menjadi khalifah. Selain itu, didukung pula oleh khalifah yang menganut aliran mu’tazilah ini seperti khalifah Al-Ma’mun.

Dengan adanya kedekatan ini, tidak sedikit pejabat pemerintahan saat itu berasal dari aliran ini. Puncaknya adalah ketika aliran ini dijadikan aliran resmi negara. Sehingga timbulnya Mihnah yaitu ujian bagi para ulama fiqih, ulama hadits dan para hakim untuk mengakui kemakhlukan Al-Qur’an. Teori kemakhlukan ini merupakan salah satu teori yang diyakini aliran mu’tazilah. Karena menurut mereka jika al-Qu’an qadim berarti bersamaan dengan adanya Allah atau disebut ta’addud al-Qudama. Dan tidak mungkin ada yang terdahulu selain Allah.

Banyak ulama dan hakim yang menjadi korban dari mihnah ini. Bagi yang mengakui kemakhlukan Al-Qu’an maka mereka dibebaskan. Sedangkan bagi ulama atau hakim yang tidak mengakui kemakhlukan Al-Qur’an maka mereka harus siap menghadapi hukuman yang telah disiapkan oleh pemerintah. Baik itu berupa cambukan, penjara sampai hukuman mati. Salah satu ulama yang mendapat siksaan karena menolak mengakui kemakhlukan adalah Ahmad bin Hanbal, ulama fiqih yang cukup berpengaruh dan memiliki banyak pengikut. Dinasti Abbasiyah hanya menjatuhi hukuman cambuk dan penjara pada Ahmad bin Hanbal, mereka tidak berani menghukum mati Ahmad bin Hanbal karena ditakutkan adakan adanya perlawanan dari para pendukung Ahmad bin Hanbal.[vi]

Dibuat oleh: Rijki Ramdani, S.Pd (Guru PAI SMAN 1 Bandung)


[i] Priatna, T. (2002). Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah. Retrieved Desember 16, 2019, from Digital Library UIN Sunan Gunung Djati: http://digilib.uinsgd.ac.id/26884/. Hal. 8

[ii] Mufidah, L. L. (2017). Pendekatan Teologis dalam Kajian Islam. Jurnal Misykat, II(1), 151-162. Hal. 153

[iii] Nurdin, M. (2011). Sejarah Pemikiran Islam. Jakarta: Amzah. Hal. 52

[iv] Ibid. Hal. 60

[v] Jamaluddin. (2015). perkembangan dan pengaruh pemikiran teologi Mu’tazilah tentang kemahlukan Al-Qur’an Tahun 124-218 H/ 742-838 M. Thaqafiyyat, 77-97. Hal. 95

[vi] Ibid. Hal. 93

Mengejar Angan Menembus Awan

Tulisan Ina Liem di Kompas Klass edisi Jumat 20 Desember 2013 ini dimaksudkan untuk membuka mata generasi muda bahwa bidang penerbangan punya masa depan sangat cerah. Dalam tulisan ini dijelaskan bagaimana kuliah di luar negeri mengajarkan banyak hal berguna.

Selain dokter dan insinyur, pilot menjadi profesi yang jamak diimpikan anak-anak. Akan tetapi, apakah cita-cita tersebut akan tetap bertahan dan berusaha diraih pada kemudian hari?

Cendra Perkasa, alumnus Massey University yang kini First Officer di Garuda Indonesia (foto: Massey University)

Dari survei penulis terhadap 5.320 siswa SMA swasta di 11 kota di Indonesia, hasilnya mengecewakan. Hanya 22 siswa atau 0,41 persen yang berminat jadi penerbang dan di antara mereka hanya ada 1 perempuan. Padahal, bidang ini sangat menarik dan menantang, apalagi bagi mereka yang tidak suka kerja kantoran dan senang mencari “kebebasan”.

Peluangnya pun terbuka lebar. Di Indonesia saja, bidang tersebut tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Maskapai penerbangan berlomba-lomba menambah jumlah armada, tetapi sayangnya pertumbuhan tersebut kadang tidak sebanding dengan jumlah pilot di dalam negeri.

Menurut Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Perhubungan Bobby R Mamahit, kita hanya bisa memenuhi 50 persen dari target pilot yang dibutuhkan. Saat ini, sekolah-sekolah penerbangan di Indonesia menghasilkan sekitar 400 pilot tiap tahun, sementara kebutuhannya sekitar 800 pilot. Akibatnya, beberapa perusahaan penerbangan nasional terpaksa mempekerjakan pilot asing.

Sekolah penerbang

Kebutuhan akan pilot tidak mudah dipenuhi. Salah satu kendalanya karena fasilitas beberapa sekolah belum memadai. Umumnya, karena jumlah pesawat latih yang dimiliki minim, waktu pendidikan menjadi lebih panjang karena siswa harus menunggu giliran mendapat kesempatan terbang. Penambahan jumlah pesawat tidak gampang mengingat harganya yang tidak murah.

Instruktur mendampingi siswa penerbang (masseytoprankflightschools.co.nz)

Kendala lain soal biaya. Sekolah penerbangan memang terkenal mahal, apalagi yang memiliki fasilitas dan reputasi internasional. Namun, bidang ini termasuk salah satu pendidikan profesi yang paling cepat tingkat pengembalian modalnya. Sekadar ilustrasi, gaji pilot first officer di Garuda sekitar Rp 20 juta. Itu baru gaji pokok. Ditambah uang terbang, total bisa sekitar 4.000 dolar AS (Kompas, 28 Agustus 2013).

Salah satu sekolah penerbangan yang memiliki fasilitas dan reputasi internasional adalah Massey University di Selandia Baru. Lokasi pelatihan di Palmerston North yang sering dilalui angin kencang dan hujan menjadikannya sebagai medan latihan yang tepat bagi calon penerbang untuk mengasah kemampuan terbang dalam kondisi sulit.

Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun, Massey menawarkan jenjang studi dari Certificate in Aviation Studies (nongelar) hingga ke jenjang PhD (gelar doktor) in Aviation. Bahkan, Massey merupakan satu-satunya sekolah pilot di Selandia Baru yang menawarkan program setara S-1, yaitu Bachelor of Aviation. Pendidikan penerbangan bergelar sarjana ini terbilang langka di seluruh dunia.

Pesawat latih bermesin tunggal tipe terbaru di Massey

Di sekolah penerbangan lain, umumnya masa studi hanya 1–2 tahun, tetapi di Massey bisa 3–4 tahun. Ketika lulus, mereka tidak hanya mengantongi ijazah sarjana (Bachelor of Aviation), tetapi juga memperoleh Commercial Pilot Licence dan Multi-Engine Instrument Ratings yang mutlak diperlukan untuk melamar pekerjaan di maskapai penerbangan komersial besar.

Mengapa lebih lama? Massey tidak hanya melatih mahasiswa menjadi pilot, tetapi juga membekali mereka untuk menjadi flight deck manager yang mampu memimpin semua kru di pesawat. Mereka harus memahami sisi bisnis dan keselamatan secara menyeluruh. Lulusannya diharapkan menjadipilots with a difference.

Selain itu, program studi ini memungkinkan lulusannya melanjutkan ke post graduate study di bidang aviation management. Ini membuka peluang bagi yang ingin pensiun jadi pilot dan masuk level manajemen perusahaan penerbangan.

Kokpit pesawat latih twin-engine Diamond DA42

Untuk urusan fasilitas, Massey University School of Aviation “dipersenjatai” fasilitas praktik modern. Untuk latihan terbang, ada 12 pesawat latih tipe Diamond DA40 bermesin tunggal dan 2 pesawat latih jenis Diamond DA42 bermesin ganda yang semuanya baru berusia 2 tahun. Masing-masing pesawat latih dilengkapi glass cockpit Garmin 1000 display model mutakhir.

Asal tahu saja, instrumen tersebut memberi informasi peta gerak digital, sistem peringatan bahaya ketinggian permukaan daratan, dan sistem untuk menghindari tabrakan udara. Teknologi terbaru ini sangat menentukan keselamatan selama pendidikan.

Soft skills

Dalam buku berjudul Outliers, Malcolm Gladwell menyebutkan  penyebab kecelakaan pesawat biasanya melibatkan tujuh macam human errors. Tujuh kesalahan tersebut sebagian besar menyangkut soal team work dan komunikasi. Pada 44 persen kecelakaan, kedua pilot (kapten danfirst officer) belum pernah terbang bersama sebelumnya, jadi mereka belum nyaman satu dengan yang lain.

Pesawat latih Diamond DA42

Kemudian, khususnya dalam penerbangan internasional, masalah bahasa sangat berpengaruh. Saat terjadi emergency, pilot terkadang terlalu capek untuk berpikir dalam bahasa Inggris karena lebih terbiasa dengan bahasa ibu.

Kultur juga sering jadi kendala. Budaya terlalu sopan dan merendah mungkin tidak sesuai ditampilkan saat kondisi darurat. Pesawat Kolombia, Avianca 052, mengalami kecelakaan di New York tahun 1990 karena kehabisan bahan bakar. Saat mau mendarat, pilot gagal menyampaikan kondisi mendesak sehingga tidak diprioritaskan untuk mendarat dengan segera.

Air Traffic Controller mengatakan, “I’m gonna bring you about fifteen miles northeast and then turn you back onto the approach. Is that okay with you and your fuel?”. Sang first officer menjawab, ”I guess so. Thank you very much.”

Padahal, saat itu, pesawat sudah kehabisan bahan bakar dan first officer hanya mengatakan, “I guess so” karena budaya Kolombia yang mungkin mirip dengan Indonesia, sungkan mengutarakan perbedaan pendapat. Sebaliknya, orang Amerika mungkin akan berkata,”Listen, buddy. I have to land. Now.”

Siapa bilang pilot harus laki-laki?

Di sini jelas, pilot memang tidak bisa semata mengandalkan keterampilan menerbangkan pesawat. Kemampuan berbahasa asing, terutama bahasa Inggris, merupakan syarat mutlak karena menjadi bahasa dunia penerbangan yang berlaku di seluruh dunia.

Bisa bilang, “Good morning, this is your captain speaking” saja tidak cukup. Seorang pilot harus memiliki global dexterity, yakni kemampuan berinteraksi secara efektif dengan budaya lain. Umumnya, masalah perbedaan kultur di perusahaan asing bisa membuat seseorang kehilangan pekerjaan. Akan tetapi, di dunia penerbangan, problem global dexterity bisa menghilangkan nyawa banyak orang.

Tak pelak, seorang calon penerbang harus nyaman berada di lingkungan aneka budaya. Cendra Perkasa, pilot alumnus Massey University yang kini jadi first officer di Garuda Indonesia mengatakan,team building merupakan faktor yang sangat penting, terutama dalam bekerja sama dengan awak pesawat yang multinasional dan multikultural.      Para mahasiswa Massey dilatih untuk saling mengenal kelebihan dan kekurangan teman dalam tim sehingga mampu menangani masalah di saat darurat.

Instruktur di Massey mengenal betul perbedaan kultur, terutama Asia, yaitu orang yang lebih muda tidak seharusnya mempertanyakan atau menentang atasan. Oleh sebab itu, awak yunior dilatih agar percaya diri untuk mengingatkan kapten saat membuat kesalahan. Di lain pihak, kapten harus mau mendengar karena siapa saja bisa berbuat salah.

Cendra memilih Massey karena ada penekanan terhadap keselamatan dan problem solving. Menjadi pilot tidak hanya belajar mengemudi, tetapi juga manajemen dan kemampuan membuat keputusan.

Ya, mengejar cita-cita jadi penerbang memang tidak mudah. Selain mahal, banyak syarat lain. Namun, hal tersebut tidak mengurangi daya tariknya. Siapa yang tak mau tampil keren, bergaji besar, pergi ke tempat-tempat terbaik dunia, dan menikmati pure freedom yang tak bisa didapat di darat?

Ina Liem

Author and CEO JURUSANKU

@InaLiem 

@kompasklass #edukasi

Pengirim : Muhammad Muhajirin

Kimia MIPA vs. Teknik Kimia, Yang Mana?

Saya seorang pelajar yang berminat 
pada bidang kimia namun bingung
menentukan pilihan untuk kuliah kimia 
MIPA atau teknik kimia.

Mohon rekan-rekan milis dapat membantu 
saya menentukan pilihan.

Demikian potongan sebuah mail yang muncul di milis kimia_indonesia. Rasanya, banyak pelajar SMU yang lain yang juga bingung tentang hal ini. Apa kamu salah satunya?

Mari kita bandingkan kedua jurusan ini dari dua sisi, yaitu ilmu yang dipelajari dan pekerjaan setelah lulus kuliah.

APA YANG DIPELAJARI?

Mari kita mulai dulu dengan definisi ilmu kimia dan teknik kimia.

Ilmu kimia (chemistry) adalah ilmu yang 
menyelidiki sifat dan struktur zat, serta 
interaksi antara materi-materi penyusun zat.


Teknik kimia (chemical engineering) adalah 
ilmu yang mempelajari rekayasa untuk 
menghasilkan sesuatu (produk) yang bisa 
digunakan untuk keperluan manusia, 
berlandaskan pengetahuan ilmu kimia.


Dari definisi ini, ada tiga poin yang akan kita lihat.

”Poin 1: Sifat: Eksplorasi vs. Aplikasi”

Salah satu kegiatan dalam ilmu kimia adalah mencari zat atau reaksi baru. Sementara itu, teknik kimia tidak berupaya mengembangkan zat,
struktur, atau reaksi baru, tetapi ia mengaplikasikan dan mengembangkan yang sudah ada.

Perlu dicatat, walaupun teknik kimia tidak mencari sesuatu yang baru dari sisi kimia, namun ia mencari sesuatu yang baru dari sisi teknik produksi.

”Poin 2: Orientasi: Ilmu Pengetahuan vs. Industri”

Misalkan ada sebuah reaksi yang ditemukan sebagai berikut.

A + B –> C + D

Hasil reaksi terbentuk dengan perbandingan C sebanyak 70% dan D 30%. Dari hasil reaksi ini, produk yang berguna adalah D.

Terhadap reaksi ini, bidang ilmu kimia dan teknik kimia akan bersikap berbeda.

Ilmuwan kimia akan berupaya merekayasa reaksi A + B tersebut agar menghasilkan D dengan persentase yang lebih besar lagi. Upaya tersebut dilakukan dengan berusaha mengetahui lebih detail tentang apa yang mempengaruhi reaksi A + B, sampai ke tingkat molekular bahkan sampai ke tingkat atom.

Orang teknik kimia akan mencari cara untuk mengoptimalkan proses reaksi tersebut agar dihasilkan produk D yang ekonomis, yaitu yang biaya produksinya paling murah. Mereka akan mempelajari proses mana yang harus dipilih; alat untuk mengatur suhu dan tekanan reaksi; alat untuk mempersiapkan bahan bakunya; alat untuk memurnikan produk; dan lain-lain.

”Poin 3: Target Skala: Kecil vs. Raksasa”

Ilmu kimia mempelajari reaksi dengan melakukannya pada skala kecil di lingkungan laboratorium, misalnya dalam hitungan gram saja. Sementara teknik kimia mempelajari reaksi untuk dilakukan pada skala besar, misalnya dalam hitungan ton. Ini karena hasil penelitian teknik kimia akan diterapkan pada bidang industri.

PEKERJAAN SETELAH LULUS

Salah satu yang membuat kita bimbang waktu memilih jurusan adalah tentang pekerjaan setelah kita lulus kuliah nanti. Apa ada lowongan pekerjaan untuk lulusan ilmu kimia? Bidangnya seperti apa? Kalau untuk teknik kimia?

Lulusan ilmu kimia bisa bekerja misalnya di laboratorium, di bidang pendidikan sebagai guru atau dosen, atau di bagian Kendali Mutu (Quality Control) di pabrik.

Lulusan teknik kimia biasa bekerja di pabrik yang memproduksi barang-barang melalui proses kimia, misalnya di pabrik semen, pupuk, kilang minyak, dan sebagainya.

Tetapi, apakah lulusan ilmu kimia tidak bisa bekerja di bidang “milik” orang teknik kimia, dan sebaliknya?

Tidak ada masalah. Kedua ilmu ini punya pijakan yang sama yaitu kimia. Lulusan ilmu kimia bisa saja bekerja di Bagian Produksi, dan lulusan teknik kimia bisa saja bekerja di laboratorium.

Hanya saja, setelah bekerja mereka perlu belajar lebih keras dibanding kalau mereka memilih jalur pekerjaan yang “normal”. Namun kalau mau belajar, ini bukan hal yang mustahil.

Timbul pertanyaan, kalau kita mengambil pekerjaan yang “tidak sesuai” dengan kuliah kita, bukankah ilmu kita sia-sia?

Tidak juga. Toh waktu berkuliah kita akan belajar bagaimana memecahkan masalah secara sistematis, bagaimana berpikir dengan logis, bagaimana menghadapi bermacam-macam orang, dan bagaimana berdiplomasi. Ini semuanya adalah ilmu yang sangat penting dalam pekerjaan dan berlaku secara universal, tidak bergantung pada apa jenis pekerjaannya.

Di milis kimia_indonesia ada beberapa rekan kita yang bekerja pada bidang yang “tidak semestinya”. Simak cerita mereka.

“Saya seorang teknik kimia, sekarang bekerja di bagian Lab. Mikrobiologi. Sekarang saya harus banyak lagi mempelajari hal-hal baru dan harus menyesuaikan dulu dengan pekerjaan yang nantinya akan saya hadapi.”
Ikhsan Guswenrivo

“Saya sendiri dari kimia murni baik S1 maupun S2. Bahkan SMA-pun dari analis kimia. Tapi saya pernah bekerja di lab dan Bagian Produksi.

Memang pada kenyataannya untuk orang kimia murni pada saat bekerja di bagian produksi kita harus banyak buka-buka dulu buku wajibnya orang teknik kimia seperti “Perry’s Chemical Engineers Handbook” dan “Basic Thermodynamics”. Begitu juga orang teknik kimia kalau ditempatkan bekerja di lab harus buka-buka buku wajibnya orang kimia murni. Karena sebetulnya antara orang kimia dan teknik kimia sama-sama punya basis kimia yang kuat, masing-masing menjadi mudah untuk mempelajarinya.

Di bagian Lab maupun Produksi saya menempatkan baik orang kimia murni maupun orang teknik kimia sehingga saling melengkapi. Alhasil kita
punya tim yang solid antara produksi dan lab.” 
Miftahudin Maksum
PT. Universal Laboratory
Tj.Uncang Batam (*)

“Saya S1 di kimia MIPA, penelitian saya tentang polimer. Sekarang saya di graduate school, biarpun tetap di bidang kimia, topik penelitiannya beda sekali. Saya harus belajar tentang neuron cell culture, tentang biomaterial, dan lain-lain (research saya tentang surface modification for retinal and cortical implant)” 
Paulin Wahjudi 
University of Southern California 
Department of Chemistry (*)

PENUTUP

Setelah membaca tulisan ini, moga-moga sekarang kamu sudah lebih mantap untuk menentukan pilihan jurusanmu.

Saat sudah masuk kuliah nanti, jangan lupa untuk tetap membuka mata dan pikiran terhadap perkembangan teknologi. Pada saat ini, banyak topik penelitian yang berupa penelitian antarbidang ilmu. Kita tidak cukup hanya mengerti kimia MIPA ataupun teknik kimia saja, tetapi juga belajar lagi entah tentang elektro, biologi, dan sebagainya.

Selamat memilih jurusan dan belajar!

Catatan:

* Tulisan ini adalah rangkuman dari diskusi di milis kimia_indonesia bulan Februari-Maret 2005.
* Data afiliasi rekan-rekan di atas adalah berdasarkan data pada bulan Maret 2005. 

Pengirim : Admin