Konsep SMA Rujukan: SMAN 1 Bandung sebagai Sekolah Rujukan

SMA Rujukan adalah SMA yang telah memenuhi atau melampaui SNP, mengembangkan ekosistem sekolah yang kondusif sebagai tempat belajar, mengembangkan ekosistem sekolah yang kondusif sebagai tempat belajar, mengembangkan praktik terbaik dalam peningkatan mutu berkelanjutan, melakukan inovasi dan berprestasi baik akademik maupun nonakademik, serta melaksanakan program kebijakan pendidikan yang layak menjadi rujukan SMA lain.

SMA Rujukan merupakan sekolah rintisan bersama antara Dinas Pendidikan Kab/Kota, Dinas Pendidikan Provinsi dan Direktorat Pembinaan SMA guna percepatan dan perluasan peningkatan mutu pendidikan SMA melalui pemenuhan SNP dan pengembangan program keunggulan sesuai dengan potensi sekolah dan kebutuhan masyarakat. Sedangkan Standar Nasional Pendidikan terdiri atas delapan standar, yaitu: Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian Pendidikan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, dan Standar Pembiayaan.

SMA Rujukan dipilih berbasis kewilayahan minimal setiap kabupaten/kota memiliki 1 (satu) SMA Rujukan dengan kriteria sebagai berikut:

  1. SMA pelaksana Kurikulum 2013, diutamakan SMA Induk Klaster Kurikulum 2013.
  2. SMA  negeri  atau  swasta  dengan  akreditasi  A  atau  tertinggi  di  kabupaten/kota setempat.
  3. Memiliki praktik-praktik baik dan inovasi pendidikan yang layak dijadikan sebagai rujukan bagi SMA lain.
  4. Memiliki prestasi akademik/non akademik.
  5. Mempertimbangkan nilai Ujian Nasional (UN) dan Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) tahun 2015 sekolah yang bersangkutan.
  6. Bersedia  memberikan  pengimbasan  praktik-praktik baik dan inovasi pendidikan yang dimiliki ke SMA lain.

Selengkapmya silakan dibaca di tautan berikut ini https://sman1bdg.sch.id/rikki/SMA-Rujukan-Tahun-2016.pdf

Pengirim : 

Mengejar Angan Menembus Awan

Tulisan Ina Liem di Kompas Klass edisi Jumat 20 Desember 2013 ini dimaksudkan untuk membuka mata generasi muda bahwa bidang penerbangan punya masa depan sangat cerah. Dalam tulisan ini dijelaskan bagaimana kuliah di luar negeri mengajarkan banyak hal berguna.

Selain dokter dan insinyur, pilot menjadi profesi yang jamak diimpikan anak-anak. Akan tetapi, apakah cita-cita tersebut akan tetap bertahan dan berusaha diraih pada kemudian hari?

Cendra Perkasa, alumnus Massey University yang kini First Officer di Garuda Indonesia (foto: Massey University)

Dari survei penulis terhadap 5.320 siswa SMA swasta di 11 kota di Indonesia, hasilnya mengecewakan. Hanya 22 siswa atau 0,41 persen yang berminat jadi penerbang dan di antara mereka hanya ada 1 perempuan. Padahal, bidang ini sangat menarik dan menantang, apalagi bagi mereka yang tidak suka kerja kantoran dan senang mencari “kebebasan”.

Peluangnya pun terbuka lebar. Di Indonesia saja, bidang tersebut tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Maskapai penerbangan berlomba-lomba menambah jumlah armada, tetapi sayangnya pertumbuhan tersebut kadang tidak sebanding dengan jumlah pilot di dalam negeri.

Menurut Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Perhubungan Bobby R Mamahit, kita hanya bisa memenuhi 50 persen dari target pilot yang dibutuhkan. Saat ini, sekolah-sekolah penerbangan di Indonesia menghasilkan sekitar 400 pilot tiap tahun, sementara kebutuhannya sekitar 800 pilot. Akibatnya, beberapa perusahaan penerbangan nasional terpaksa mempekerjakan pilot asing.

Sekolah penerbang

Kebutuhan akan pilot tidak mudah dipenuhi. Salah satu kendalanya karena fasilitas beberapa sekolah belum memadai. Umumnya, karena jumlah pesawat latih yang dimiliki minim, waktu pendidikan menjadi lebih panjang karena siswa harus menunggu giliran mendapat kesempatan terbang. Penambahan jumlah pesawat tidak gampang mengingat harganya yang tidak murah.

Instruktur mendampingi siswa penerbang (masseytoprankflightschools.co.nz)

Kendala lain soal biaya. Sekolah penerbangan memang terkenal mahal, apalagi yang memiliki fasilitas dan reputasi internasional. Namun, bidang ini termasuk salah satu pendidikan profesi yang paling cepat tingkat pengembalian modalnya. Sekadar ilustrasi, gaji pilot first officer di Garuda sekitar Rp 20 juta. Itu baru gaji pokok. Ditambah uang terbang, total bisa sekitar 4.000 dolar AS (Kompas, 28 Agustus 2013).

Salah satu sekolah penerbangan yang memiliki fasilitas dan reputasi internasional adalah Massey University di Selandia Baru. Lokasi pelatihan di Palmerston North yang sering dilalui angin kencang dan hujan menjadikannya sebagai medan latihan yang tepat bagi calon penerbang untuk mengasah kemampuan terbang dalam kondisi sulit.

Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun, Massey menawarkan jenjang studi dari Certificate in Aviation Studies (nongelar) hingga ke jenjang PhD (gelar doktor) in Aviation. Bahkan, Massey merupakan satu-satunya sekolah pilot di Selandia Baru yang menawarkan program setara S-1, yaitu Bachelor of Aviation. Pendidikan penerbangan bergelar sarjana ini terbilang langka di seluruh dunia.

Pesawat latih bermesin tunggal tipe terbaru di Massey

Di sekolah penerbangan lain, umumnya masa studi hanya 1–2 tahun, tetapi di Massey bisa 3–4 tahun. Ketika lulus, mereka tidak hanya mengantongi ijazah sarjana (Bachelor of Aviation), tetapi juga memperoleh Commercial Pilot Licence dan Multi-Engine Instrument Ratings yang mutlak diperlukan untuk melamar pekerjaan di maskapai penerbangan komersial besar.

Mengapa lebih lama? Massey tidak hanya melatih mahasiswa menjadi pilot, tetapi juga membekali mereka untuk menjadi flight deck manager yang mampu memimpin semua kru di pesawat. Mereka harus memahami sisi bisnis dan keselamatan secara menyeluruh. Lulusannya diharapkan menjadipilots with a difference.

Selain itu, program studi ini memungkinkan lulusannya melanjutkan ke post graduate study di bidang aviation management. Ini membuka peluang bagi yang ingin pensiun jadi pilot dan masuk level manajemen perusahaan penerbangan.

Kokpit pesawat latih twin-engine Diamond DA42

Untuk urusan fasilitas, Massey University School of Aviation “dipersenjatai” fasilitas praktik modern. Untuk latihan terbang, ada 12 pesawat latih tipe Diamond DA40 bermesin tunggal dan 2 pesawat latih jenis Diamond DA42 bermesin ganda yang semuanya baru berusia 2 tahun. Masing-masing pesawat latih dilengkapi glass cockpit Garmin 1000 display model mutakhir.

Asal tahu saja, instrumen tersebut memberi informasi peta gerak digital, sistem peringatan bahaya ketinggian permukaan daratan, dan sistem untuk menghindari tabrakan udara. Teknologi terbaru ini sangat menentukan keselamatan selama pendidikan.

Soft skills

Dalam buku berjudul Outliers, Malcolm Gladwell menyebutkan  penyebab kecelakaan pesawat biasanya melibatkan tujuh macam human errors. Tujuh kesalahan tersebut sebagian besar menyangkut soal team work dan komunikasi. Pada 44 persen kecelakaan, kedua pilot (kapten danfirst officer) belum pernah terbang bersama sebelumnya, jadi mereka belum nyaman satu dengan yang lain.

Pesawat latih Diamond DA42

Kemudian, khususnya dalam penerbangan internasional, masalah bahasa sangat berpengaruh. Saat terjadi emergency, pilot terkadang terlalu capek untuk berpikir dalam bahasa Inggris karena lebih terbiasa dengan bahasa ibu.

Kultur juga sering jadi kendala. Budaya terlalu sopan dan merendah mungkin tidak sesuai ditampilkan saat kondisi darurat. Pesawat Kolombia, Avianca 052, mengalami kecelakaan di New York tahun 1990 karena kehabisan bahan bakar. Saat mau mendarat, pilot gagal menyampaikan kondisi mendesak sehingga tidak diprioritaskan untuk mendarat dengan segera.

Air Traffic Controller mengatakan, “I’m gonna bring you about fifteen miles northeast and then turn you back onto the approach. Is that okay with you and your fuel?”. Sang first officer menjawab, ”I guess so. Thank you very much.”

Padahal, saat itu, pesawat sudah kehabisan bahan bakar dan first officer hanya mengatakan, “I guess so” karena budaya Kolombia yang mungkin mirip dengan Indonesia, sungkan mengutarakan perbedaan pendapat. Sebaliknya, orang Amerika mungkin akan berkata,”Listen, buddy. I have to land. Now.”

Siapa bilang pilot harus laki-laki?

Di sini jelas, pilot memang tidak bisa semata mengandalkan keterampilan menerbangkan pesawat. Kemampuan berbahasa asing, terutama bahasa Inggris, merupakan syarat mutlak karena menjadi bahasa dunia penerbangan yang berlaku di seluruh dunia.

Bisa bilang, “Good morning, this is your captain speaking” saja tidak cukup. Seorang pilot harus memiliki global dexterity, yakni kemampuan berinteraksi secara efektif dengan budaya lain. Umumnya, masalah perbedaan kultur di perusahaan asing bisa membuat seseorang kehilangan pekerjaan. Akan tetapi, di dunia penerbangan, problem global dexterity bisa menghilangkan nyawa banyak orang.

Tak pelak, seorang calon penerbang harus nyaman berada di lingkungan aneka budaya. Cendra Perkasa, pilot alumnus Massey University yang kini jadi first officer di Garuda Indonesia mengatakan,team building merupakan faktor yang sangat penting, terutama dalam bekerja sama dengan awak pesawat yang multinasional dan multikultural.      Para mahasiswa Massey dilatih untuk saling mengenal kelebihan dan kekurangan teman dalam tim sehingga mampu menangani masalah di saat darurat.

Instruktur di Massey mengenal betul perbedaan kultur, terutama Asia, yaitu orang yang lebih muda tidak seharusnya mempertanyakan atau menentang atasan. Oleh sebab itu, awak yunior dilatih agar percaya diri untuk mengingatkan kapten saat membuat kesalahan. Di lain pihak, kapten harus mau mendengar karena siapa saja bisa berbuat salah.

Cendra memilih Massey karena ada penekanan terhadap keselamatan dan problem solving. Menjadi pilot tidak hanya belajar mengemudi, tetapi juga manajemen dan kemampuan membuat keputusan.

Ya, mengejar cita-cita jadi penerbang memang tidak mudah. Selain mahal, banyak syarat lain. Namun, hal tersebut tidak mengurangi daya tariknya. Siapa yang tak mau tampil keren, bergaji besar, pergi ke tempat-tempat terbaik dunia, dan menikmati pure freedom yang tak bisa didapat di darat?

Ina Liem

Author and CEO JURUSANKU

@InaLiem 

@kompasklass #edukasi

Pengirim : Muhammad Muhajirin

Kimia MIPA vs. Teknik Kimia, Yang Mana?

Saya seorang pelajar yang berminat 
pada bidang kimia namun bingung
menentukan pilihan untuk kuliah kimia 
MIPA atau teknik kimia.

Mohon rekan-rekan milis dapat membantu 
saya menentukan pilihan.

Demikian potongan sebuah mail yang muncul di milis kimia_indonesia. Rasanya, banyak pelajar SMU yang lain yang juga bingung tentang hal ini. Apa kamu salah satunya?

Mari kita bandingkan kedua jurusan ini dari dua sisi, yaitu ilmu yang dipelajari dan pekerjaan setelah lulus kuliah.

APA YANG DIPELAJARI?

Mari kita mulai dulu dengan definisi ilmu kimia dan teknik kimia.

Ilmu kimia (chemistry) adalah ilmu yang 
menyelidiki sifat dan struktur zat, serta 
interaksi antara materi-materi penyusun zat.


Teknik kimia (chemical engineering) adalah 
ilmu yang mempelajari rekayasa untuk 
menghasilkan sesuatu (produk) yang bisa 
digunakan untuk keperluan manusia, 
berlandaskan pengetahuan ilmu kimia.


Dari definisi ini, ada tiga poin yang akan kita lihat.

”Poin 1: Sifat: Eksplorasi vs. Aplikasi”

Salah satu kegiatan dalam ilmu kimia adalah mencari zat atau reaksi baru. Sementara itu, teknik kimia tidak berupaya mengembangkan zat,
struktur, atau reaksi baru, tetapi ia mengaplikasikan dan mengembangkan yang sudah ada.

Perlu dicatat, walaupun teknik kimia tidak mencari sesuatu yang baru dari sisi kimia, namun ia mencari sesuatu yang baru dari sisi teknik produksi.

”Poin 2: Orientasi: Ilmu Pengetahuan vs. Industri”

Misalkan ada sebuah reaksi yang ditemukan sebagai berikut.

A + B –> C + D

Hasil reaksi terbentuk dengan perbandingan C sebanyak 70% dan D 30%. Dari hasil reaksi ini, produk yang berguna adalah D.

Terhadap reaksi ini, bidang ilmu kimia dan teknik kimia akan bersikap berbeda.

Ilmuwan kimia akan berupaya merekayasa reaksi A + B tersebut agar menghasilkan D dengan persentase yang lebih besar lagi. Upaya tersebut dilakukan dengan berusaha mengetahui lebih detail tentang apa yang mempengaruhi reaksi A + B, sampai ke tingkat molekular bahkan sampai ke tingkat atom.

Orang teknik kimia akan mencari cara untuk mengoptimalkan proses reaksi tersebut agar dihasilkan produk D yang ekonomis, yaitu yang biaya produksinya paling murah. Mereka akan mempelajari proses mana yang harus dipilih; alat untuk mengatur suhu dan tekanan reaksi; alat untuk mempersiapkan bahan bakunya; alat untuk memurnikan produk; dan lain-lain.

”Poin 3: Target Skala: Kecil vs. Raksasa”

Ilmu kimia mempelajari reaksi dengan melakukannya pada skala kecil di lingkungan laboratorium, misalnya dalam hitungan gram saja. Sementara teknik kimia mempelajari reaksi untuk dilakukan pada skala besar, misalnya dalam hitungan ton. Ini karena hasil penelitian teknik kimia akan diterapkan pada bidang industri.

PEKERJAAN SETELAH LULUS

Salah satu yang membuat kita bimbang waktu memilih jurusan adalah tentang pekerjaan setelah kita lulus kuliah nanti. Apa ada lowongan pekerjaan untuk lulusan ilmu kimia? Bidangnya seperti apa? Kalau untuk teknik kimia?

Lulusan ilmu kimia bisa bekerja misalnya di laboratorium, di bidang pendidikan sebagai guru atau dosen, atau di bagian Kendali Mutu (Quality Control) di pabrik.

Lulusan teknik kimia biasa bekerja di pabrik yang memproduksi barang-barang melalui proses kimia, misalnya di pabrik semen, pupuk, kilang minyak, dan sebagainya.

Tetapi, apakah lulusan ilmu kimia tidak bisa bekerja di bidang “milik” orang teknik kimia, dan sebaliknya?

Tidak ada masalah. Kedua ilmu ini punya pijakan yang sama yaitu kimia. Lulusan ilmu kimia bisa saja bekerja di Bagian Produksi, dan lulusan teknik kimia bisa saja bekerja di laboratorium.

Hanya saja, setelah bekerja mereka perlu belajar lebih keras dibanding kalau mereka memilih jalur pekerjaan yang “normal”. Namun kalau mau belajar, ini bukan hal yang mustahil.

Timbul pertanyaan, kalau kita mengambil pekerjaan yang “tidak sesuai” dengan kuliah kita, bukankah ilmu kita sia-sia?

Tidak juga. Toh waktu berkuliah kita akan belajar bagaimana memecahkan masalah secara sistematis, bagaimana berpikir dengan logis, bagaimana menghadapi bermacam-macam orang, dan bagaimana berdiplomasi. Ini semuanya adalah ilmu yang sangat penting dalam pekerjaan dan berlaku secara universal, tidak bergantung pada apa jenis pekerjaannya.

Di milis kimia_indonesia ada beberapa rekan kita yang bekerja pada bidang yang “tidak semestinya”. Simak cerita mereka.

“Saya seorang teknik kimia, sekarang bekerja di bagian Lab. Mikrobiologi. Sekarang saya harus banyak lagi mempelajari hal-hal baru dan harus menyesuaikan dulu dengan pekerjaan yang nantinya akan saya hadapi.”
Ikhsan Guswenrivo

“Saya sendiri dari kimia murni baik S1 maupun S2. Bahkan SMA-pun dari analis kimia. Tapi saya pernah bekerja di lab dan Bagian Produksi.

Memang pada kenyataannya untuk orang kimia murni pada saat bekerja di bagian produksi kita harus banyak buka-buka dulu buku wajibnya orang teknik kimia seperti “Perry’s Chemical Engineers Handbook” dan “Basic Thermodynamics”. Begitu juga orang teknik kimia kalau ditempatkan bekerja di lab harus buka-buka buku wajibnya orang kimia murni. Karena sebetulnya antara orang kimia dan teknik kimia sama-sama punya basis kimia yang kuat, masing-masing menjadi mudah untuk mempelajarinya.

Di bagian Lab maupun Produksi saya menempatkan baik orang kimia murni maupun orang teknik kimia sehingga saling melengkapi. Alhasil kita
punya tim yang solid antara produksi dan lab.” 
Miftahudin Maksum
PT. Universal Laboratory
Tj.Uncang Batam (*)

“Saya S1 di kimia MIPA, penelitian saya tentang polimer. Sekarang saya di graduate school, biarpun tetap di bidang kimia, topik penelitiannya beda sekali. Saya harus belajar tentang neuron cell culture, tentang biomaterial, dan lain-lain (research saya tentang surface modification for retinal and cortical implant)” 
Paulin Wahjudi 
University of Southern California 
Department of Chemistry (*)

PENUTUP

Setelah membaca tulisan ini, moga-moga sekarang kamu sudah lebih mantap untuk menentukan pilihan jurusanmu.

Saat sudah masuk kuliah nanti, jangan lupa untuk tetap membuka mata dan pikiran terhadap perkembangan teknologi. Pada saat ini, banyak topik penelitian yang berupa penelitian antarbidang ilmu. Kita tidak cukup hanya mengerti kimia MIPA ataupun teknik kimia saja, tetapi juga belajar lagi entah tentang elektro, biologi, dan sebagainya.

Selamat memilih jurusan dan belajar!

Catatan:

* Tulisan ini adalah rangkuman dari diskusi di milis kimia_indonesia bulan Februari-Maret 2005.
* Data afiliasi rekan-rekan di atas adalah berdasarkan data pada bulan Maret 2005. 

Pengirim : Admin

Mengapa gelembung sabun berbentuk bulat?

Coba kita pikir begini, Tidak akan terkejutkah Anda bila bentuk gelembung itu persegi? Itu karena semua pengalaman kita sejak bayi mengatakan bahwa hukum alam lebih menyukai bentuk-bentuk yang mulus. Memang tidak banyak benda alami yang memiliki ujung tajam atau membentuk sudut ganjil. Pengecualian yang penting dalam hal ini adalah kristal-kristal mineral tertentu, yang cantik justru karena memiliki bentuk-bentuk geometris serba tajam. Itu mungkin sebabnya mengapa sebagian orang percaya bahwa kristal-kristal dan piramida memiliki supranatural.

Akan tetapi itu metafisika, bukan sains. Gelembung-gelembung bundar–berbentuk bola–karena ada suatu gaya tarik menarik yang disebut tegangan permukaan yang menarik molekul-molekul air sekuat mungkin antara sejumlah partikel adalah ketika mereka membentuk sebuah bola. Di antara semua bentuk yang mungkin, kubus, piramida, bongkahan tak beraturan–bola memiliki luas sebelah luar paling kecil.

Segera setelah Anda melepaskan sebuah gelembung dari pipa tiup atau dari salah satu peralatan lebih modern, tegangan permukaan membuat lapisan tipis air sabun mencari luas permukaan yang sekecil mungkin. Maka terjadilah sebuah bola. Andaikata Anda tidak dengan sengaja memerangkapkan udara didalamnya, air sabun akan terus menyusut membentuk sebuah titik bola padat, seperti yang terjadi pada air hujan.

Akan tetapi udara di dalam mendorong ke arah luar, menahan selaput air. Semua gas memberikan tekanan pada wadah penyimpanan mereka karena mereka terdiri atas molekul-molekul terbang bebas yang terus membentur apa pun yang menghalangi. Dalam sebuah gelembung, gaya-gaya tegangan permukaan ke arah dalam pada selaput air diseimbangkan dengan tepat oleh gaya mendorong keluar oleh udara dari dalam. Jika ada perbedaan sedikit saja, gelembung entah akan mengeceil atau mengembang sampai keduanya sama besar.

Cobalah meniupkan udara lebih banyak untuk membuat gelembung lebih besar. Itu sama dengan menambahkan tekanan udara di sebelah dalam. Yang dapat diperbuat oleh selaput air untuk mengimbangi kenaikan tekanan ke luar adalah memperluas permukaannya. Ini dapat menyebabkan bertambah besarnya gaya-gaya tegangan permukaan ke arah dalam. Maka gelembung itu secara serentak memperbesar ukurannya. Namun dalam proses tersebut selaput air semakin tipis, pasalnya persediaan air memang terbatas. Apabila Anda terus menambahkan udara ke dalamnya, akhirnya selaput tadi tidak memiliki cadangan air lagi untuk memperluas permukaan. Akibat buruknya mulai ditebak. Gelembung-pun meletus.

Hal yang tepat sama juga terjadi pada permen karet, kecuali bahwa ahli-ahli tegangan permukaan ke arah dalam, gaya yang cenderung memperkecil gelembung atau balon berasal dari elastisitas karet dalam permen Anda. Elastisitas, seperti tegangan permukaan, seolah-olah berkata: “Kalau boleh, aku ingin menjadi bola yang sekecil mungkin”.

Disalin dari http://www.chem-is-try.org/tanya_pakar/mengapa-gelembung-sabun-berbentuk-bulat/
Hari Senin, 19 November 2013 pukul 08:02 

Pengirim : Admin

Tiba Saatnya Mengakhiri Pendidikan?

MANA yang harus didahulukan antara anak dan pendidikan? Kedua isu tersebut tidak bisa didikotomikan karena setali tiga uang, terlebih jika kita memperbincangkan masa depan kita. Pendidikan merupakan bekal untuk menapaki masa depan anak cucu kita. 

Namun, bahwa dunia pendidikan kita belum menunjukkan gambaran yang menjanjikan. Menurut data dari Balitbang Departemen Pendidikan Nasional (2001) bahwa sekitar tujuh juta anak terancam berhenti sekolah. Mereka terpaksa menjadi pekerja anak sebagai akibat dari kemiskinan dan tekanan hidup. 

Sementara itu, 15 juta anak- anak yang sekarang masuk kelas satu sekolah dasar (SD), diperkirakan hanya 70 persen yang dapat mencapai kelas enam. Dari yang lulus tersebut, hanya kurang dari separuhnya yang kemungkinan dapat meneruskan pendidikannya ke sekolah lanjutan. 

Tak perlu heran bila saat ini terdapat sekitar 12 juta anak usia 7 hingga 15 tahun tidak bersekolah dan terancam putus sekolah. Lebih 3,5 juta anak di antaranya menjadi pekerja anak. Maka, realitas di atas telah memberi sedikit diskripsi apa yang terjadi sekarang. 

PENDIDIKAN merupakan tabungan masa depan bagi peradaban kita. Artinya baik-buruknya, makmur-sengsaranya, berkualitas-jeleknya wajah peradaban kita, tergantung proses pendidikan tersebut. Maka, wajah kita yang saat ini dipolesi oleh kemiskinan dan kebodohan menunjukkan kegagalan dari pendidikan kita. 

Tingkat pengangguran yang tinggi, frekuensi kriminalitas yang menaik, dan keresahan sosial yang muncul dalam berbagai bentuk merupakan efek ganda (multifler effect) dari kemiskinan yang kita alami saat ini. Sedangkan kemiskinan dan kebodohan yang merupakan momok bagi negara berkembang seperti Indonesia, adalah rantai sosial pertama dalam kegagalan pendidikan kita. 

Tahun 2000 lalu kualitas sumber daya manusia (human development index, HDI) kita menduduki peringkat rendah, yaitu 109 dari 174 negara. Dua tahun kemudian, Indonesia tidak jauh beda yakni peringkat 106 dari 170 negara. Angka ini jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia (peringkat 56), Filipina (77), Thailand (67), Singapura (22) dan Brunei Darussalam (25). Sehingga, dapat dipastikan tahun ini kita belum bisa keluar dari kualitas hidup yang rendah akibat beberapa stimulus-bom Bali; kenaikan harga BBM, TDL, dan telepon-yang justru kontraproduktif terhadap pertumbuhan ekonomi. 

Maka, upaya memberantas kebodohan dan kemiskinan tidak bisa tidak harus melewati jembatan emas yakni pendidikan. Dalam hal ini pendidikan harus melakukan reposisi dan refungsi kalau ingin menjadi perubah wajah peradaban kita yang tidak sehat ini. 

Dalam UUD 1945 dijelaskan, pendidikan adalah hak warga negara, sehingga monopoli negara dalam dunia pendidikan menjadi pilihan yang pahit. Negara sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam proses pendidikan harus menempatkan pendidikan sebagai proses pencarian makna hidup yang lebih baik menuju keadilan dan kesejahteraan. 

Sayangnya, pendidikan justru menjadi metode negara dalam mengontrol rakyat. Sehingga, pendidikan sering kali tidak lebih dari upaya setengah-setengah dari negara untuk mengubah peradaban miskin ini. 

Darodjah, Kepala TK Tarbiyatul Banin VIII Desa Pucung, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang

Pengirim : Darodjah